Pengirim: Linda

Namaku Linda. Aku adalah seorang Ibu yang memiliki 3 orang putra, 1 orang putra (usia 12 tahun) dari pernikahanku yang pertama, dan 2 orang putra (usia 5 tahun dan 2 tahun) lahir dari suamiku yag sekarang masih setia mendampingiku.

Dalam kirimanku kali ini, aku ingin menceritakan sebuah kisah kelam yang terjadi saat aku masih menyandang status Janda, setelah tuntutan cerai yang ku ajukan ke Pengadilan Agama disetujui oleh Hakim.

Perselingkuhan yang dilakukan suamiku dengan membawa seorang wanita ke rumah, dan tertangkap basah sedang bercinta dengannya di dalam kamar tidur kami, adalah perbuatan yang tidak bisa ku maafkan. Tanpa memikirkan dan mempertimbangkan bagaimana jalan hidupku selanjutnya, aku langsung mengajukan tuntutan cerai ke Pegadilan Agama. Tanpa melalui proses persidangan yang panjang, akhirnya tuntutanku dikabulkan hakim dan aku resmi menyandang status sebagai Janda beranak satu.

Kemarahan, kebencian, kesal dan sakit hati terhadap suamiku menjadi satu dan mengisi semua ruang dalam pikiranku pada saat awal kembali ke rumah orang tuaku. Bahkan sempat terpikir untuk tidak akan menikah lagi dan fokus untuk membesarkan anakku yang masih bayi. Ku mencoba meminta izin pada Ayahku untuk mecari kerja, namun dilarang, dengan alasan anakku masih kecil dan Ayah masih bisa memenuhi kebutuhanku dan anakku.

Seiring waktu berjalan, perasaan dalam jiwaku berangsur tenang. Tinggal di rumah menjaga bayi kecilku yang lucu dan dukungan dari keluarga dan tetangga membuatku merasa hidupku masih berarti. Di saat sedang sendiri terkadang aku merasa kesepian, dan itu tanpa ku sadari membangkitkan ingatanku pada saat-saat indah bersama suamiku, di mana aku bisa bermanja dan bercanda dengannya, Pada saat dingin malam membangunkanku, aku pasti teringat saat sedang bermesraan dengan suamiku. Aku merindukan pelukan hangat, gurauan nakal, dan sentuhan-sentuhan mesra dari seorang laki-laki. Saat aku sadar aku telah sendiri, maka pikiran-pikiran itu akan ku buang jauh-jauh dengan menutup seluruh tubuhku dengan sebuah selimut tebal yang selalu ada di tempat tidurku.

Semakin lama aku mencoba untuk bertahan dengan kesendirianku, semakin aku merindukan adanya seorang pendamping dalam hidupku, terutama untuk kebutuhanku di tempat tidur. Sebagai seorang wanita yang pernah bersuami, tentunya aku pernah merasakan kenikmatan saat melakukan hubungan suami istri. Saat malam datang dan hasrat bathinku menghampiri, maka dorongan alam bawah sadarku akan menuntut jemariku menyusup masuk ke dalam CDku dan membelai ujung clitoris dengan lembut. Pada saat dorongan hasrat itu semakin besar, maka aku tak mampu menahan diriku untuk melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuhku dan bersembunyi di bawah selimut untuk melakukan masturbasi.

Ku sadari, aku tidak bisa menghentikan kebiasaanku itu.Sebagai seorang wanita dewasa, melakukan aktivitas seks mungkin adalah salah satu kebutuhan yang harus selalu terpenuhi. Akhirnya, aku harus membuang niatku untuk tidak menikah lagi, mengingat ada kebutuhan yang tak bisa ku penuhi dengan bertahan hidup sendiri.

==============================================

Malam itu, Ayah sedang duduk di sofa menonton TV di ruang tengah. Sedangkan aku berbaring di lantai sambil meneteki anakku dengan beralas karpet. Ku pikir ini saat yang tepat untuk mencoba mengungkapkan keinginanku pada Ayah.

“Yah!” panggilku.

“Hm…!” Jawab Ayah singkat.

“Apakah aku boleh bersuami lagi, Yah?” ku coba memulai pembicaraan dengan langsung ke inti permasalahan.

“Tentu saja boleh! Memangnya kamu sudah punya calon, Lin?” Ayah balik bertanya kepadaku

“Belum ada sih, Yah!” Jawabku sambil memasukkan payudaraku ke dalam BH setelah anakku tertidur di depan TV.

“Oh Ayah pikir kamu sudah punya calon yang cocok”. Jawab Ayah sambil terus menyimak sebuah acara di TV.

“Linda cuman mau minta pendapat Ayah aja dulu. Menurut Ayah gimana?” Ku coba bertanya untuk memperpanjang materi percakapanku dengan Ayah. Aku berdiri dan mengambil kelambu bayi lalu duduk di samping Ayah.

“Ayah sih nggak masalah. Malah bagus kalau ada yang menurut kamu cocok” Jawab Ayah.

“Makasih, Yah!” kataku dengan hati merasa senang memiliki Ayah yang cukup bijak. Ku baringkan kepalaku di bahu Ayah, dan mencoba untuk mencari materi lain yang masih berhubungan dengan keinginanku.

“Ayah sendiri…!? Nggak kepingin nikah lagi, Yah?” Kataku mencoba membangun keterbukaan dengan Ayah.

“Hahaha….” Ayah tertawa kecil, kemudian dia berkata lagi.

“Ayah ini sudah tua, Lin! Sebentar lagi Ayah pensiun. Apa masih ada wanita yang mau dengan Ayah!?” Kata Ayah.

“Nggak! maksud aku, Ayah kan sudah menduda puluhan tahun, Yah! Dulu, setelah Mama meninggal, apa Ayah nggak kepikiran untuk mencari istri?” Tanyaku lagi.

“Keinginan sih ada…!!! tapi Ayah takut anak-anak Ayah tidak siap memiliki Ibu tiri.” Jawab Ayah.

“O begitu ya, Yah…!!”

“Ya! Tapi ayah bahagia dapat membesarkan kalian semua sampai sekarang.”

“Apa Ayah tidak kesepian?”

“Ayah punya 3 orang putri yang cantik-cantik, pintar, riang, dan sayang sama Ayah. Bagaimana mungkin Ayah bisa kesepian?”

“Maksud aku, kesepian di tempat tidur, Yah!”

“Wah! Kalau urusan itu, Ayah sudah lupa, Lin! Ayah sudah terbiasa seperti ini”

Sekian lama tidur sendiri tanpa memeluk seorang istri membuat Ayah terbiasa dan mampu menjalani hidupnya hingga saat ini. Bagaimana denganku? Mampukah aku bertahan dan menjadi terbiasa seperti Ayah? Entahlah! Tapi yang pasti, aku telah mengungkapkan keinginanku untuk memiliki suami lagi telah ku sampaikan kepada Ayah. Mudah-mudahan itu membuka jalanku untuk mendapatkan seorang pria yang cocok untuk menjadi pendampingku secepatnya.

============================================

Hari terus berganti, bulan berganti tahun, tak terasa, sudah 1 tahun lebih aku menjanda. Selama itu pula aku semakin tidak bisa membuang kebiasaanku melakukan masturbasi. Bahkan aku merasa keinginanku untuk melakukannya semakin tak bisa ditahan. Di tempat tidur, di kamar mandi, di dapur, bahkan di depan TV., dan dimanapun ada kesempatan, aku selalu terdorong untuk melakukannya.

Malam itu, aku kembali melakukan kebiasaanku itu sambil berbugil ria di depan cermin dalam kamarku. Ku mainkan jari-jariku di ujung clitoris dan sesekali ku masukkan ke lobang senggamaku sedalam yang aku bisa. Karena merasa kurang nyaman dengan gaya berdiri di depan cermin itu, aku mencoba untuk memikirkan sebuah teknik lain. dan akhirnya, ku putuskan untuk melakukan masturbasi di ruang tengah sambil menonton TV, siapa tahu ada film tengah malam yang sedikit panas merangsang.

Hanya degan membungkus tubuh bugilku dengan selimut, ku buka pintu kamarku dan melangkah menuju ruang tengah. dari depan pintu kamarku, ku lihat layar TV masih menyala dan ku lihat Ayah masih duduk di sofa menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok. Awalnya aku berpikir untuk kembali ke kamar, namun tiba-tiba datang sebuah pemikiran lain yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.  Entah datang dari mana ide ini, sebuah ide untuk menjadikan Ayah sebagai orang yang akan memenuhi hasrat biologisku.

Aku terdiam didepan pintu kamarku dan ku tatap Ayah yang masih asyik mengisap rokoknya. Selama beberapa saat aku berpikir dan bertanya pada diriku, apakah Ayah mau memenuhi keinginanku? Ataukah dia akan memarahiku. Apakah harus jujur padanya tentang keinginanku? atau aku harus menggoda Ayah dulu dengan mempertontonkan tubuhku di hadapannya? Sesaat kemudian aku berpikir, biar ku simpan saja keinginan gilaku ini dan kembali ke kamar, namun tiba-tiba tumbuh keyakinanku bahwa jika ku sampaikan dengan jujur, mungkin Ayah pasti bisa mengerti dengan keinginanku. Mungkin, dia tidak akan marah, tetapi aku tidak bisa menebak apakaha Ayah akan memenuhi keinginanku atau menolaknya.

Dalam keterpakuanku di depan kamar memikirkan apa yang harus ku lakukan, tiba-tiba Ayah menoleh ke arahku dan memanggilku.

“Linda! ngapain kamu di situ? Habis dari belakang ya?” Kata Ayah. Tanpa memberikan jawaban, aku melangkah mendekati Ayah dan duduk di sampingnya masih dengan tubuh hanya berbalut selimut.

“Yah! aku mau bicara…..” Kataku tanpa menatapnya.

“Ada apa, Lin?” Kata Ayah sambil mematikan rokoknya yang memang sudah hampir habis.

“Linda nggak tahan, Yah!”

“Nggak tahan apa?”

“Mau nggak Ayah mengabulkan keinginanku?”

“Apa?” Tanya Ayah sambil menjatuhkan lengannya di pundakku. Aku terdiam beberapa saat sambil tertunduk. Kemudian Ayah mempertegas pertanyaannya.

“Apa yang harus Ayah kabulkan, Sayang?”

“Kalau aku jujur, apakah Ayah marah?”

“Tentu saja Ayah tidak akan marah… Katakan saja!”

Aku terdiam beberapa saat untuk menguatkan hatiku mengatakan sesuatu yang mungkin tidak sepantaskan untuk dilakukan. Ku tarik napasku dalam-dalam dan ku pejamkan mataku sekuat-kuatnya, kemudian ku coba memaksa lidahku untuk mengatakan:

“Aku ingin disetubuhi oleh Ayah…!!!!”

Ayah tak berkata apa-apa mendengar apa yang baru saja terlepas dan meluncur dari lidahku.  Aku hanya tertunduk dan terus memejamkan mataku tak berani menatap wajahnya. Yang ku rasakan hanyalah Ayah menarik kembali tangannya dari pundakku. Entah apa jawaban yang akan dia berikan atas kata-kata yang baru saja  ku ucapkan.

“Maafkan aku, Ayah! Aku tak mampu bertahan dalam kesendirian seperti Ayah. Dorongan hasrat ini selalu menggangguku, Yah!” Tiba-tiba terdengan suara dari mulut Ayah.

“Ayah tidak tahu apakah Ayah masih bisa melakukannya. Sudah puluhan tahun Ayah melupakan hasrat Ayah.” Mendegar jawaban Ayah, ku beranikan menatap matanya.

“Apakah Ayah tidak marah?”

“Tentu saja, Sayang!” Begitu jawaban Ayah sambil kembali mengangkat lengannya dan menjatuhkan kembali ke pundakku, tapi kali ini ia menarik tubuhkan hingga jatuh di dadanya.

“Sekarang apa yang harus Ayah lakukan?”

“Mmmh…. Mungkin Ayah perlu mengingat kembali seperti tubuh seorang wanita tanpa busana….” Setelah mengatakan itu, ku bukan kain selimut yang menutupi tubuhku yang sudah bugil sambil terus berbaring di paha Ayah. Ayah memegang payudaraku dengan lembut dan sedikit meremas daging yang tumbuh di dadaku tersebut. Kemudian Ayah menyentuh perutku bagian bawah tepat pada daerah yang ditumbuhi bulu hitam dan lebat.

“Ayah tidak tahu apakah Ayah bisa melakukan ini….”

“Yah? Boleh ku coba membangunkan burung Ayah?”

“Bagaimana caranya?”

Tanpa menunggu lama, ku lepaskan dan ku turunkan sarung Ayah dan ku keluarkan batang penisnya dari celah celana dalamnya. Sekian lama tidak melakukan hubungan suami istri sepertinya penis Ayah tidak begitu terangsang melihat sesosok tubuh wanita bugil, mespipun itu anaknya sendiri. Penis yang masih lemas ituku masukkan ke dalam mulutku dan langsung ku nikmati seperti permen lolipop.

Perlahan tetapi pasti, burung itu mulai terjaga dari tidur panjangnya. Ayah juga terlihat memegang pantatku yag sedang menungging sambil melahap penisnya. Sesekali Ayah merayap dan meraba sela pantatku dan menyentuh bibir vaginaku dari belakang.

Tak berapa lama, penis Ayah yang basah oleh air liurku telah benar-benar tegang. Ayah melepaskan bajunya, dan aku menurunkan celana dalam Ayah sehigga Ayah duduk di sofa tanpa mengenakan sehelai pakaianpun. Melihat Ayah yang telah bugil dan penis yang telah tegak, aku naik ke atas sofa dan langsung mencari posisi untuk memasukkan penis Ayah ke lobang vaginaku. Ku pegang batang penis Ayah yang basah dan ku main-mainkan di selangkanganku untuk membuka bibir vagina dan menerobos masuk ke dalamnya.

Setelah kepala penis sudah pas berada di muara lobang senggama, perlahan aku turunkan tubuhku dan batang penis Ayahpun perlahan mulai masuk ke lobang vaginaku. Ku angkat lagi tubuhku dan ku turunkan lagi perlahan. Terus ku ulangi gerakan naik turun itu hingga akhirnya penis Ayah berhasil masuk penuh mengisi setiap ruang dalam lobang vaginaku. Dalam posisi penis tenggelam penuh, aku duduk di atas tubuh Ayah dan membimbing tangan Ayah untuk memegang kedua buah dadaku.

“Yah! Seperti ini enak sekali rasanya…”

Tanpa sepatah katapun, Ayah mencoba memenuhi keinginanku. Tangan Ayah yang ku tempelkan ke payudaraku, perlahan mulai bergerak meremas-remas. Saat itulah aku muali kembali menggerakkan tubuhku naik turun, sehingga penis Ayah keluar masuk di lobang vaginaku. Nikmat sekali rasanya dapat kembali melakukan hubungan badan dengan seorang laki-laki, meskipun itu terpaksa Ayahku sendiri.

Dalam posisi Lady on top aku dapat merasakan kenikmatan setiap gesekan batang penis ke dinding vaginaku. Dorongan nafsu birahiku memuncak dan aku mencoba mempercepat tempo gerakan naik turun di atas tubuh ayah. Tetapi usaha menuju puncak kenikmatan agak terhambat, karena posisi ini membuatku kelelahan. Dengan nafas yang terhengal, aku ambruk di pelukan Ayah. Sementara itu, penis Ayah amblas sempurna dalam vaginaku hingga terasa mencapai mulut rahim.

Melihat aku kelelahan, Ayah dengan perlahan membimbingku ke posisi berbaring dengan penis yang masih menacap di lobang vaginaku.  Ayah membaringkanku di sofa dan dengan terpaksa penisnya terlepas dari lobang vaginaku. Dapat ku lihat, penis Ayah saat itu jauh lebih besar di bandingkan saat aku memasukkannya ke dalam vaginaku sebelumnya.  Ayah membuka dan mengangkat ke dua  pahaku dan kembali memasang posisi untuk kembali memasukkan penisnya ke lobang vaginaku.

Tanpa susah payah, Ayah dapat dengan mudah kembali menancapkan peniskan ke lobang vaginaku dan dengan perlahan mulai memainkan gerakan pantat maju mundur.  Penis Ayah perlahan mulai bergerak keluar masuk di lobang vaginaku. Kenikmatan gesekan-gesekan batang penis Ayah di dinding lobang vaginaku perlahan kembali membangkitkan birahiku melanjutkan langkah menuju puncak kenikmatan. Semakin lama, gerakan Ayah semakin cepat, Aku tak tahan merasakan sensasi kenikmatan melakukan hubungan intim yang telah lama tidak ku rasakan. Ku remas-remas payudaraku seirama dengan desahan yang tidak bisa aku tahan. Sementara Ayah terus memompa tubuhku dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

Saat-saat menjelang puncak kenikmatan, Ayah memeluk tubuhku sambil terus menggerakkan pantatnya naik turun secepat yang dia bisa. Sementara aku tak mampu menehan diri untuk memeluk tubuh Ayah. Saat itulah pertama kali aku mencium bibir Ayah dengan mengikut sertakan nafsu bersamanya. Tubuhku terguncang lebat, payudaraku bergoyang meski telah menempel dengan tubuh Ayah, dan kakiku mengejang lurus, saat ku rasakan desiran darah di seluruh tubuhku seakan mengalir ke daerah vagina. Gelombang orgasme akhirnya menghantap tubuhku. Aku seakan tidak memiliki tenaga lagi untuk menggerakkan seluruh bagian tubuhku. Tangan dan kakiku terkulai lemah.

Sementara itu, Ayah terus menghujam lobang di selangkanganku dengan batang penisnya yang besar dan panjang, sampai beberapa saat kemudian, Ayah menghujamkan penisnya dengan keras ke vaginaku, dan membiarkannya menancap sempurna dalam liang vaginaku. Penis yang menancap di lobang vaginaku berdenyut-denyut sepertinya Ayah menumpahkan spermanya ke dalam rahimku.

Ayah menatapku yang telah terkulai lemah. Ku lihat ia masih mencoba mengatur nafasnya yang masih terhengal setelah menghajarku dengan kenikmatan yang luar biasa. Dia tersenyum padaku, dan ku balas senyumannya.

“Terima kasih, Ayah…!”

“Maaf Ayah keluar di dalam….”

“Aku tidakakan hamil, Yah!”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin terus melakukan ini dengan Ayah…”

“Linda! Cepatlah cari suami….!!!”

“Ayah juga…!! Melihat Ayah seperti ini, sepertinya Ayah masih mampu memiliki istri….”

Setelah nafasnya mulai teratur, Ayah bangkit dan meleaskan penisnya dari lobang vaginaku. Sementara aku masih tak mampu bergerak dan masih larut dalam rasa bahagia atas kenikmatan luar biasa yang kembali ku rasakan., dan aku tertidur di sofa sampai pagi dalam keadaan telanjang dan sperma Ayah yang mengalir dari lobang vaginaku mengotosi sofa yang berada di ruang tengah itu. Aku terbangun karena Ayah menyalakan TV dan ku lihat Ayah telah mengenakan pakaian seragam lengkap siap untuk berangkat kerja.

“Linda! Buruan mandi, nanti anakmu bangun….”

“Iya, Yah!”

“Sarapan sudah Ayah siapkan… Ayah berangkat dulu, ya!”

“Yah!”

“Ada apa?”

“Terima kasih…”

“sama-sama…”

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

One response »

  1. Vando Vandem mengatakan:

    apakah ini kisah nyata ?  mohon dibalas ya. makasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s