Pengirim: Adinda

Kejadian ini terjadi ketika aku masih berusia 15 tahun, ku ingat waktu itu aku baru duduk di kelas I SMU. Kejadian ini secara tak sengaja ku ku lihat dan menjadi pemandangan paling aneh dalam hidupku.


Sejak kecil aku memang sudah terbiasa tumbuh dalam keluarga yang kurang mampu. Aku tinggal di sebuah rumah kecil yang hanya memiliki 1 kamar tidur. Karena kamar tidur yang hanya diterangi oleh Lampu templok itu terlalu sempit untuk kami bertiga, maka yang tidur dalam kamar hanya aku dan Mama, sementara Kak Arman tidur di ruang tengah yang sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu.

Ayahku telah meninggal sejak aku masih sangat kecil. Oleh karena itulah, maka Kakakku yang waktu itu baru lulus SD, tidak melanjutkan sekolahnya karena masalah ekonomi. Kakak bekerja sebagai kuli angkat di pasar. Ia bekerja demi membantu Mama memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan untuk membiayai sekolahku hingga aku lulus SMU.

Selepas SMU aku tidak melanjutkan kuliah, karena alasan yang sama, yaitu faktor Ekonomi. Namun aku beruntung, karena setelah lulus SMU, Adam, seorang pemuda lulus sekolah yang sukses hidup di perantauan, datang dan meminangku. Tanpa berpikir panjang, ku terima lamarannya dan aku tinggal di kota bersamanya. Saat ini, aku telah memiliki dua orang putra hasil dari perkawinanku dengan pria yang tidak lulus SD namun mampu membahagiakanku baik materi maupun perasaan.

==================

Jadi, dulu waktu aku masih awal duduk di bangku SMU, usia Kak Arman sudah sekitar 30 tahun. Saat itu ia belum menikah, karena memang ia merasa masih belum mapan untuk membangun sebuah rumah tangga. Tapi mungkin di usianya yang sudah kepala 3, ia tidak bisa memungkiri adanya dorongan biologis dalam dirinya yang selalu memancingnya untuk menumpahkan hasratnya.

Awal terjadinya peristiwa itu, ketika suatu malam, aku terbangun dari tidurku, karena Mama bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak meninggalkan kamar. Mingkin waktu itu Mama hanya ingin buang air besar atau mungkin hanya sekedar memeriksa pintu atau jendela. Namun tepat saat Mama keluar dari pintu kamar, Mama setengah terkejut dan memanggil nama Kakak…

“Arman! apa yang kamu lakukan, nak?” Kata Mama setengah berteriak. Aku yang tak sengaja mendengar kata-kata Mama menjadi penaasaran, sebenarnya Mama melihat Ka Arman melakukan apa? Akhirnya, aku mencoba diam dan tetap pura-pura tidur. Dan malam itu aku mendengar sebuah percakapan orang dewasa.

“Ma! Mama mau kemana?” tanya Kak Arman yang aku yakin saat itu ia pasti sangat terkejut dengan kehadiran Mama di sampingnya.

“Ssst…!” Jangan terlalu kencang, nanti Adikmu bangun… Mama mau buang air dulu..!” Begitu kata-kata Mama yang seolah mengisyaratkan tidak terjadi apa-apa dengan Kak Arman yang perlu ku ketahui. Meski aku masih merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Kak Arman malam itu, tapi ku pikir memang tidak terjadi hal yang terlalu pantas untuk di besar-besarkan. Akhirnya, ku jatuhkan kembali kepalaku ke atas bantal dan mencoba kembali masuk ke alam mimpi. Ku dengar Mama membuka pintu kamar mandi yang sekaligus toilet.

Beberapa saat kemudian, terdengar pintu itu terbuka lagi, yang berarti Mama sudah selesai buang air. Namun ternyata langkah Mama tidak tidak kembali ke dalam kamar. Mama terdengar menghampiri Kak Arman dan memulai sebuah percakapan yang terkesan berbisik.

“Arman!: kata Mama.

“Ya, Ma! Arman tidak ber…..” begitu jawaban Kak Arman yang terhenti, karena Mama memotongnya.

“Arman! Mama mengerti, nak! Mama minta maaf ya! sampai saat ini, Mama masih belum bisa menunaikan kewajiban Mama sebagai orang tua untuk menikahkanmu.” Mama terus bicara dan Kak Arman kelihatannya hanya terdiam.

“Sejujurnya Mama sangat bangga padamu. Kamu rela bekerja sepanjang hari dan mengorbankan sekolahmu demi adiku. Bahkan kamu juga sudah mengorbankan usiamu untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita. Seandainya saja Mama bisa membahagiakan kalian berdua dengan….” Kalimat panjang Mama kali ini balas dipotong oleh Kak Arman.

“Sudahlah, Ma! Jangan dipikirkan! Arman bahagia kok, Ma! Aman tidak pernah menyesal dengan kehidupan yang kita jalani saat ini.” Jawab Kak Arman.

“Apa yang tadi kamu lakukan, Mama tidak marah kok nak! Itu normal. Kamu memang sudah sepantasnya memiliki pasangan untuk mencurahkan hasrat itu.” Mendengar percakapan Mama dan Kak Arman yang terkesan dirahasiakan itu, rasa kantukku hilang. dengan perlahan ku bangkit dari tempat tidurku dan menempelkan telingaku di dinding karena penasaran, kemana tujuan percakapan itu akan berakhir.

“Seandainya saja Mama bisa mendapatkan seorang wanita yang mau menerima keadaan seperti kita sekarang…” Kata Mama sambil berkeluh penuh penyesalan terhadap hidup yang ia jalani.

“Sudahlah, Ma! Ini sudah takdir kita… Kita terima saja! Arman bahagia dengan keadaan ini bersama Mama dan Adinda.”

“Arman! Jika ada cara yang bisa Mama lakukan yang mungkin bisa membuatmu bahagia, maukah kamu melakukannya?” Aku menjadi sangat penasaran dengan pertanyaan Mama.

“Apa itu, Ma?” Kak Arman juga bertanya balik ke Mama, sepertinya ia juga dibuat penasaran oleh Mama.

“Maaf nak! Jika kamu mau dan ingin menumpahkan hasratmu, Mama bisa membantumu…”

“Maksud, Mama?”

“Ya… Mama juga seorang wanita, kan? Kamu bisa gunkan tubuh Mama jika kamu mau….”

“Mama! Kenapa Mama berfikir begitu? Mama memang wanita, tapi Arman tidak mungkin melakukannya dengan Mama…”

“Dengarkan Mama, Nak..! dan jangan mengatakan apapunlagi setelah ini….” Suara Mama terdengar lebih pelan. Sepertinya ia berbicara dekat ke telinga Kak Arman. “Malam ini dan sampai pagi nanti, Mama akan tidur di sini bersamamu….! dan Mama akan melepaskan seluruh pakaian Mama. Jika kamu sudah mengambil keputusan, kamu tinggal buka kaki Mama dan masukkan saja penismu itu ke lobang vagina Mama….” Aku terkejut mendengar kata-kata Mama itu. Aku kembali ke posisi tidurku, dan menunggu. Apakah Mama benar-benar akan tidur di luar bersama Kak Arman. dan Apakah Mama akan benar-benar melepaskan seluruh pakaiannya di hadapan Kak Arman?

Dengan mata yang telah kehilangan rasa kantuknya, ku pasang telingaku benar-benar dan ku sembunyikan mataku di balik kelopak mata yang mencoba pura-pura tertutup. Ku tungu  beberapa saat, dan sepertinya Mama memang benar-benar akan tidur di luar bersama Kak Arman. Tapi apa benar Mama juga akan akan melepaskan seluruh pakaiannya. Aku benar-benar tidak berani untuk menengok ke balik pintu untuk melihat apa yang telah terjadi dan akan terjadi. Namun rasa penasaran dalam hati juga memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengajakku mengintip ke ruang tengah dimana ada Mama dan Kak Arman yang hampir melakukan hubungan suami istri,

Kukuatan dari rasa penasaran itu akhirnya mampu menarikku melangkah perlahan mendekati pintu kamar. Dari balik tirai, dan di antara remang lampu teplok, akhirnya ku saksikan tubuh Mama terbaring dengan kepala berbaring di atas bantal yang disandarkannya ke dinding. Sementara kedua kakinya mengangkang.

Sementara itu, Kak Arman terlihat salah tingkah. Ia hanya berdiri di sudut ruangan dan hanya mampu memandang tubuh bugil Mama dengan malu-malu (tapi penasaran) ….

Malam itu, aku menjadi saksi, runtuhnya pertahanan Kak Arman melihat tubuh bugil seorang wanita, meskipun itu adalah Ibu kandungnya sendiri.

“Ma! Maafkan aku, Ma!: Begitu kata yang terucap dari bibir Ka Arman, saat ia menurunkan celananya dan mengarahkan batang penisnya yang terlihat sudah sangat keras ke arah pangkal paha Mama. Dengan hati-hati ia mencoba mencari lobang senggama Mama yang tersembunyi di balik lebatnya bulu di permukaan vaginanya. Melihat persiapan Kak Arman untuk memulai aksinya, Mama juga mencoba membantunya memposisikan kepala penis Kak Arman agar tepat masuk ke tempat yang seharusnya. Tidak selang beberapa detik, Kak Arman telah menemukan lobangnya dan akhirnya penisnya amblas dalam lobang vagina Ibu kandungnya sendiri.

Sejujurnya, aku tidak ingin menyaksikan hal itu terjadi, tetapi aku tidak bisa memindahkan mataku dari menyaksikan sebuah peristiwa besar dalam hidupku, yaitu hubungan seks antara seorang laki-laki dan perempuan dewasa yang baru pertama kali ku saksikan dalam hidupku. Dan sayangnya, pemandangan itu justru di berikan oleh saudara laki-laki ku dan Mama.

Tidak selang beberapa menit, tubuh Kak Arman mengejang da sepertinya ia akan orgasme. Ia mencabut penisnya dari lobang vagina Mama dan menyemprotkan sperma yang cukup banyak di atas tubuh Mama. Melihat pertunjukan telah selesai, dengan cepat dan hati-hati aku kembali ke posisi tidurku semula agar Mama dan Kak Arman tidak curiga.

============================

Kejadian malam itu ternyata tidak menjadi peristiwa langka yang hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Sejak peristiwa itu, Kak Arman semakin tidak bisa mengendalikan nafsunya untuk mencelupkan penisnya ke lobang vagina Mama. Ia tidak segan menggauli Mama di dalam kamar di mana aku hanya bisa pura-pura tidur karena tidak merasa enak hati melihat sepasang tubuh bugil sedang bersenggama.

============================

Karena bosan menjadi penonton yang pura-pura tidur, pada suatu ketika, ku coba memberanikan untuk menegur Kak Arman yang sedang menyetubuhi Mama dengan cara pura-pura terbangun dari tidur.

“Kak Arman! Apa yang Kakak lakukan?” Kataku sambil menggosok-gosok mataku untuk memberikan kesan baru terbangun. Mereka berdua sangat terkejut. Terutama Mama. Ia langsung menutup tubuh bugilnya dengan sarung dan berkata:

“Sayang! kamu terbangun, ya! Ini Kak Arman, katanya ia kedinginan tidur di luar. Bolehkan Kak Arman tidur di kamar, Syg!”

“Mmmhhh…! Boleh kok, Ma! Jawabku sambil pura-pura kembali tidur. Beberapa saat kemudian, Mereka kembali melakukan hubungan badan layaknya suami istri itu di sampingku yang sejujurnya tidak bisa tidur dan selalu ingin mengintip kegitan mereka.

=============================

Dari rasa bersalah Mama yang tidak mampu menikahkan Kak Arman yang ia bayar dengan memberikan tubuhnya sebagai pemuas kebutuhan biologis Kak Arman pada malam itu, akhirnya membuatnya tidak bisa menghentikan rasa ketagihan Kak Arman untuk terus menumpahkan birahinya kepada Mama. Mama terlihat pasrah setiap kali Kak Arman mendatanginya dan meminta untuk melakukan hubungan seks. Meskipun Mama hanya membiarkan Kak Arman menikmati tubuhnya dan tidak terlalu menikmati persenggamaan itu, Kak Arman seakan tidak pernah bosan untuk terus membenamkan batang penisya di lobang vagina Mama.

Sampai pada suatu malam, aku terbangun dari tidurku, dan ku lihat pemandangan yang tidak menjadi hal yang aneh lagi terjadi di hadapanku. Kak Arman menindih tubuh Mama dan menggenjotkan batang penisnya di lobang vagina Mama. Bergumul dengan besarnya nafsu birahi dalam dirinya, membuat Kak Arman tidak menyadari bahwa mataku kembali menjadi saksi persetubuhan Kak Arman dan Mama.

Akhirnya, ku pegang jemari Mama yang kebetulan ada di dekatku, dan ku letakkan jari telunjukku di bibirku, ketika Mama yang menyadari keberadaanku dan menoleh ke arahku. Melihatku isyarat dariku, Mama hanya diam. Ia terus manatapku sambil terus membiarkan Kak Arman terus memburu birahinya di lobang vagina Mama. Sampai beberapa saat kemudian, tubuh Kak Arman mengejang pertanda bahwa ia sedang berada di puncak birahi, yang sesaat kemudian membuatnya terkulai lemah dan ambruk di samping tubuh Mama.

===================

Tak ada kata pembelaan sepatahpun yang keluar dari mulut Mama yang dia ucapkan padaku. Dengan tubuh yang masih bugil, Mama bangkit dari tempat tidurnya dan bergeser mendekat ke arahku, kemudian memelukku dengan penuh rasa kehangatan.

“Ma! kenapa ini Mama lakukan?” bisikku di telinga Mama.

“Karena hanya ini yang bisa Mama lakukan, Sayang!” Jawab Mama.

“Apakah Mama juga menikmati ini, Ma?” tanyaku lagi.

“Mama bahagia bisa memberikan ini….” Jawab Mama dengan lembut di telingaku. Tiba-tiba Kak Arman duduk di belakang Mama dan berkata.

“Dinda!” Kak Arman sepertinya baru menyadari bahwa aku menyaksikan perbuatannya terhadap Mama.

“Sudahlah, Nak…! Dinda sudah melihat semua yang kita lakukan… Cukup ini menjadi rahasia dalam rumah kita…. Jika harus ada yang disalahkan, Mama lah yang yang harus disalahkan….” Begitulah jawaban Mama menenangkan keterkejutan Kak Arman.

“Ma! Apa yang bisa Mama lakukan untuk Dinda?” Pertanyaanku cukup mengejutkan Mama. Ia menatap jauh ke dalam mataku, dan sesaat kemudian ia berkata:

“Dinda! Apakah kamu merasa perlu untuk ini?” Kata Mama…

“Entahlah…. Tapi jika memang ini menjadi sebuah rahasia dalam rumah kita, kenapa Dinda tidak tahu apa yang menjadi rahasia itu, Ma!” Jawabku sebagai orang yang merasa bagian dari keluarga ini.

“Dinda…! Harapan Mama, kamu menjadi anak yang baik. Kamu pikirkan saja sekolahmu. Mudah-mudahan kelak kamu akan mendapatkan pasangan hidup yang mampu membahagiakanmu bukan hanya kepuasan di tempat tidur, tetapi lebih dari itu, dia juga mampu membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia…”

Kak Arman tak mapu berkata apapun. Ia hanya terpaku menyadari bahwa rahasia yang dia sembunyikan ternyata bisa dipahami oleh aku sebagai adiknya. Mama tersenyum padaku kemudian dia mencium bibir dan keningku, kemudian ia berbisik di telingaku:

“Dinda…! Malam ini, Mama ingin kau menghentikan kebiasaanmu mengintip dan pura-pura tidur….”

Setelah mengatakan itu, Mama berbalik ke arah Kak Arman dan membaringkan tubuh Kak Arman. Kemudian Mama memegang batang penis Kak Arman lalu menjilat dan mengulumnya. Kak Arman terlihat kaget, karena sebelumnya Mama tidak pernah bersikaf akgresif baik dalam melakukan pemanasan, maupun saat melakukan hubungan intim.

Aku mencoba untuk duduk dan membuang perasaan tabu dalam pikiranku untuk menyaksikan secara langsung seorang laki-laki dan wanita melakukan hubungan seks. Ku lihat Mama meskipun sudah berusia 50an, tetapi ia masih terlihat mampu menandingi kemampuan seks seorang laki-laki dewasa seperti Kak Arman. Tak selang seberapa saat, batang penis Kak Arman kembali mengeras. Saat itulah Mama menarik tubuhku untuk mendekat. Ia kemudian naik ke atas tubuh Kak Arman dan menunjukkan padaku saat-saat ia memasukkan batang penis Kak Arman ke dalam lobang vaginanya yang berbulu lebat.

Aku yang tak tahan melihat dari dekat Mama bergerak naik turun di atas Kak Arman, akhirnya mencoba untuk menyentuh bagian bibir vagina Mama yang tertusuk oleh batang penis Kak Arman. Ku rasakan betapa lembeknya bibir vagina Mama, sementara itu batang penis Kak Arman terasa sangat keras. Tak terasa, tanganku mencoba untuk memegang permukaan vaginaku, untuk membandingkan vagina Mama dan vaginaku.

Jujur, ku rasakan sangat berbeda. Bibir vagina Mama terasa sangat lembek dan sangat elastis untuk dimasuki penis sebesar milik Kak Arman. Sementara vaginaku terasa sangat kencang dan tidak elastis. Ku hanya berpikir, akan ini akan sakit jika saat pertama kali melepaskan keperawanan.

Payudara Mama yang sudah tidak lagi kencang, bergoyang seiring dengan irama gerakan naik turun yang dilakukannya di atas tubuh Kak Arman. Sementara Kak Arman terlihat mulai mengejang lagi. Sepertinya dia akan mencapai titik orgasme untuk kedua kalinya. Dan benar saja… Sesaat setelah Mama bangkit dari posisinya lalu menggenggam dan mengocok batang penis Kak Arman, tiba-tiba air sperma Kak Arman menyembur ke udara.

=================

Setelah membuat Kak Arman lemas, Mama menatapku dan mendekatiku. Entah apa yang ia pikirkan dan akan ia lakukan terhadapku. Aku merasa agak tegang melihat tatapannya. Mama kemudian berbaring di antara aku dan kak Arman. Ia kemudan berkata kepada kami:

“Arman! Bagaimana kalau kita telanjangi gadis perawan ini?”

“Jangan, Ma! Dinda…..” Belum sempat aku menyampaikan permohonanku, tiba-tiba Mama menjatuhkanku ke tempat tidur dan menindih tubuhku. Ia memberikan isyarat kepada Arman untuk membantunya. Kak Arman tersenyum dan dengan suka rela membantu Mama melepaskan pakaian yang ku kenakan. Tanpa mampu melakukan perlawanan, akhirnya Kak Arman berhasil memandang setiap setiap inci bagian tubuhku, termasuk payudara dan bagian kemaluanku.

Namun ternyata mereka tidak melakukan apapun terhadapku. Mama ternyata hanya ingin menunjukkan kepada Kak Arman bahwa seperti tubuh wanita yang seharusnya menjadi pasangannya melakukan hubungan seks. Bukan seperti tubuh Mama yang sudah tidak kencang lagi, termasuk pada bagian vagina. Ku lihat Kak Arman begitu senang melihat tubuh bugilku. Namun sebenarnya, aku juga senang bisa melihat secara langsung bagian tubuh laki-laki terutama penis dan ornamen-ornamennya.

======================

Sejak saat itu, Kak Arman tidak segan-segan lagi melakukan hubungan seks dengan Mama, meskipun aku belum tidur. Aktivitas seks merekapun juga semakin beragam, mulai dari berbaring, berdiri, menungging, dudk di atas meja, bergumul dengan sabun di kamar mandi, dan banyak lagi. Aku juga sangat senang melihat kegiatas seks aneh ini, meski terkadang aku juga ingin terlibat dengan apa yang mereka lakukan, tetapi di sisi lain aku masih takut untuk melakukannya. Sampai saat aku lulus SMU, dan memiliki Adam sebagai suamiku, aku akhirnya dapat merasakan saat pertama kali penis suamiku merenggut keperawananku dan membuatku juga ketagihan untuk terus melakukannya.

======================

Sejak Adam menikahiku, aku tinggal di kota bersamanya. Kehidupan keluarga kami pun berangsur baik, karena Adam sangat banyak membatu perekonomian kami. Kak Arman tidak lahi menjadi kuli pasar, karena Mas Adam mempercayakan sebuah toko bangunan untuk dikelola oleh Kak Arman yang akhinya juga menemukan jodohnya beberapa tahun setelah aku menikah dengan Adam.

Kisah ini, adalah rahasia masa lalu kami dalam rumah kecil….**|**

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s