Oleh: Maman

Aku adalah seorang anak yang memiliki latar belakang kehidupan keluarga yang kurang beruntung. Masa kecilku sudah terbiasa dengan kata-kata keras, makian dan pertengkaran dalam rumah tangga. Aku tak pernah berani bicara dengan kedua orang tuaku. Permasalahanku lebih banyak ku curhatkan kepada orang lain, terutama teman.

Keadaan baru ku rasakan membaik, ketika kedua orang tuaku bercerai saat aku lulus SMP. Ayah pergi meninggalkan rumah dan entah bagaimana khabarnya sekarang. Sedangkan Ibuku mencoba membangun kembali kehidupannya yang hancur. Ia menggadaikan sertifikat rumah dan Tanah ke Bank untuk membuka sebuah usaha Warnet yang waktu itu begitu menjamur di daerahku.

Perlahan kondisi ekonomi rumah tangga yag di bangun Ibuku mulai dapat aku rasakan. Waktu berlalu dan angsuran pinjaman Ibu di Bank telah terlunasi. Tetapi sayangnya, penghasilan dari usaha Warnet semakin menurun, karena semakin mudahnya orang mengakses internet melalui handphone mereka.

Waktu aku naik ke kelas 3 SMA, ada sebuah kejadian yang tak terduga. Ibu terkena serangan jantung dan dilarikan ke ruamh sakit terdekat. Aku yang menerima berita itu di sekolah langsung meninggalkan kelas untuk melihat kondisi Ibu di rumah sakit. Aku sangat sedih dan takut Ibu akan meninggalkan ku sebaangkara menjalani kehidupan di saat aku belum merasa siap untuk hidup sendiri. Namun khabar gembira dating dari seorang dokter yang mengatakan bahwa Ibu telah melewati masa kritisnya.

Tiga hari di rumah sakit, Ibu kembali dibolehkan pulang ke rumah tetapi aku diminta untuk menjaga jangan sampai Ibu terlalu lelah dan harus rutin minum obat. Aku sangat senang waktu itu. Ibu bisa kembali menjalani rutinitasnya melayani orang yang memerlukan jasa layanan internet. dan aku bias tenang melakukan kegiatan di sekolahku.

Namun kebahagiaan itu, tidak berlangsung lama. Ibu sering merasa seluruh tubuhnya lemas dan tak bias digerakkan. Aku hanya memintanya untuk istirahat, karena ku piker tidak ada yang terlalu serius. Pada awalnya, rasa lemas yang dialami Ibu itu hanya terjadi sesekali, dan aku membiarkan Ibu untuk lebih banyak beristirahat. Tetapi semakin lama kondisi itu semakin sering ia alami.

Sampai pada suatu pagi, saat aku akan berangkat ke sekolah. Ibu mengatakan bahwa ia kembali merasa lemas dan seluruh bagian tubuhnya tidak bias digerakkan. Pagi itu aku meninggalkan Ibu dengan segelas air putih dan obat yang biasa diminum Ibu jika dia sedang merasa lemas seperti itu.  Alangkah terkejutnya aku ketika aku pualng sekolah, Ibu masih pada posisi yang sama saat aku tinggalkan, karena ku lihat segelas air putih dan obat tidak berubah di tempatnya semula.

Tindakan pertolongan pertama yang ku lakukan adalah memanggil seorang mantra yang tinggal di dekat rumahku. dan dia menyarankan untuk membawa Ibu ke rumah sakit. Beberapa hari di rumah sakit, Ibu minta pulang dan berharap pada aku sebagai anaknya untuk merawat dan mengurus dirinya di sisa hidupnya. Aku sangat sedih dan harus kuat menjanai beban hidup yang seakan sudah tertulis untuk masa depanku.

****

Penyakit kelumpuhan yang dialami Ibu tidak terlihat membaik hingga aku menyelesaikan SMAku. Aku tetap menjalankan bisnis warnet, yang memang tak serame beberapa tahun sebelumnya. tetapi masih cukup untuk menutupi kebutuhan hidup aku dan Ibuku sehari-hari. Selama itu pula aku mulai terbiasa merawat Ibu, mulai dari menyuapi makan, mengganti pakaiannya, memandikannya, bahkan membersihkan kotorannya.

Sesekali tumbuh dalam pikiranku perasaan bosan untuk merawat Ibuku yang kini tak mampu berbuat apa-apa kecuali menggerakkan mata dan mulutnya. Namun perasaan itu dengan mudah hilang saat aku menatap matanya dan melihat senyumannya.

Pada suatu hari, saat aku sedang jaga warnet, ada seorang cewek berpakaian lumayan seksi. Ia masuk ke salah satu box dan kelihatannya mencoba untuk browsing, atau downloada, atau entahlah. Namun dari computer server ku keetahui nama cewek yang masuk salah satu box clien di marnetku adalah Amira. Sedikit gejolah sahwat yang tumbuh dalam otak kotorku, menggodaku untuk browsing gambar-gambar cewek seksi. Namun saat sedang asyik dengan fantasy online-ku, tiba terdengar suara seorang cewek memanggilku.

“Mas!” Katanya memanggilku dengan panggilan yang menurutku terlalu dewasa.

“Iya, Mbak!” Jawabku dengan panggilan Mbak agar ia tidak memanggilku Mas, karena ku piker dia jauh lebih tua dari usiaku.

“Ini kenapa kok nggak bias dibuka…” Kata cewek itu yang disinyalir bernama Amira. Ku tinggalkan meja server dan menuju ke box klien di mana cewek itu berada. Saat aku satu box dengannya, ia kembali mengucapkan kalimat yang sama…

“Ini kenapa kok nggak bias dibuka…” Katanya sambal menunjuk ke layar computer. Aku meraih mouse dan mencoba mengetahui masalah apa yang sebenarnya dia hadapi. Aku mulai menggerakkan mouse untuk mengarahkan korsur ke salah satu pojok. Tetapi ada sesuatu di pojok lain yang membuat konsentrasiku buyar dan lumayan membuatku gugup.

Di depan mataku, secara tidak sengaja aku memandang pakaian dalam berwarna merah muda yang menjadi penyangga sebuah gundukan yang menggandung di dadanya yang terlihat jelas karena salah satu kancingnya terlepas. atau mungkin memang sengaja di lepas.🙂

Yah anggap saja, itu pemanasan dari kisahku ini. tetapi yang pasti, kejadian itu membuatku berpikir bahwa setiap hari aku sudah terbiasa dengan pemandangan tubuh wanita yang bahkan jauh lebih terbuka dari itu, yaitu Ibuku sendiri. Tapi Kenapa ketika aku melihat sebuah celah kecil di antara kancing baju yang terbuka pada wanita itu, hasratku tiba-tiba tergunjang.?

*****

Pengalaman beberapa detik itu ternyata berdampak besar pada kehidupanku sehari-hari. Aku mulai memperhatikan tubuh Ibuku sebagai sebuah sosok wanita pada umumnya. Aku berusaha menyelami keindahan wanita pada tubuh Ibuku. Tetapi aku berusaha menyembunyikannya dari Ibu. Aku berusaha bersikap wajar seperti biasa saat aku melakukan rutinitas ku dalam merawatnya.

Hari-hariku selalu dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang tidak jelas latar belakangnya. Kegiatanku menjaga warnet lebih sering diisi dengan membuka situs-situs dewasa. Dan yang paling mengganjalku adalah cara pandangku terhadap Ibu. Aku mulai merasa terangsang setiap kali melihat tubuhnya.

Kadang aku berpikir untuk berterus terang pada Ibu tentang perasaan yang saat ini cukup mengganggu pikiranku. tetapi kadang aku berpikir, aku dapat melakukan apa saja terhadap Ibu dan Ibu tidak akan bias melawan. Dan semuanya hanya berputar-putar di kepalaku dan semakin menambah bena pikiran di kepalaku. Akhirnya aku putuskan untuk menceritakan semuanya pada Ibu.

Saat itu, sekitar jam 21.30. Aku mematika satu persatu computer klien dan mengunci pintu Warnet. Saat semua ku piker sudah beres, ku matikan lampu ruang depan rumahku yang kujadikan sebagai ruang Warnet, aku pergi kemar Ibu. Ku lihat Ibu belum tidur. Ku hampiri dia dan mencoba untuk mengutarakan perasaan yang mengganggu pikiranku.

Setelah panjang lebar aku bercerita dari awal hingga akhir secara detail. Ku lihat Ibu tersenyum. Ia sepertinya ingin sekali menggerakkan tangannya untuk mengusap rambutku untuk mengunggapkan betapa ia merasa bangga padaku sebagai anaknya atas keberanianku berkata jujur padanya yang tak berdaya.

“Anakku Sayang…! Ibu dapat merasakan kegelisahanmu itu sejak beberapa hari terakhir. tetapi Ibu tak dapat menebak apa penyebabnya… ” Katanya dengan seutas senyum di bibirnya. Ku remas tangannya dan ku sentuhkan ke pipiku.

Ibu dapat merakan perbedaan saat kau menyentuh tubuh Ibu degan ketulusan, dan saat kau menyentuh Ibu dengan dorongan nafsu…

“Seandainya kau memperlakukan Ibu sebagai pemuas nafsu birahimu saat itu, Ibu tidak akan komentar, Sayang!” Ku lihat setetes air mata mengalir jatuh ke telinganya. Aku merasa sangat terharu dengan jawabannya dan airmataku juga hamper tak bias terbendung.

“Saat ini kamu pasti tidak akan sanggup untuk memandang Ibu dengan nafsu. Tetapi jika kamu tidak keberatan, lakukanlah dengan ketulusan….” Kalimat itu cukup membingungkan.

“Maksud, Ibu?” Aku berusaha mencari jawaban atas kebingunganku.

“Iya,  Sekarang atau nanti sama saja. Ibu tetap tidak akan bias mencegahmu, Sayang! Ibu hanya tidak ingin tubuh Ibu yang tak berdaya ini diperkosa oleh anak Ibu sendiri. Sekarang lakukanlah dengan cara terhormat….” Jawab Ibu.

“Ibu…! Kenapa Ibu berkata begitu..? Ungkapku atas pernyataan yang sudah dapat ku mengerti maksudnya.

“Nak! Sekarang coba kamu lepas pakaian Ibu… Please!” Kata Ibu setengah meminta. Ku pandang matanya tanpa komentar, tapi aku merasa tak pantas untuk melakukannya.

“Lakukan seperti kamu biasa melepaskan pakaian Ibu…” Dia memintaku sekali lagi. Dan aku berusaha melakukannya sepeti biasa dan berusaha menghapus dorongan hasrat dalam diriku. Ku tanggalkan pakaian Ibu satu persatu, mulai dari baju tidur yang dikenakannya, hingga celana dalamnya.

“Sekarang lepaskan pakaianmu juga. Ibu mau lihat….” Tanpa banyak komentar, ku lepaskan pakaianku kecuali celana dalam.

“Semuanya, Sayang!…” Kata Ibu yang berusaha melirih jauh ke bagian bawah tubuhku. Demi menghargai Ibu, ku lepaskan seluruh pakaianku.

“Berbaringlah di sisi Ibu…”  Aku terus mengikuti arahannya. Dengan tubuh bugil aku naik ke atas tempat tidur Ibu dan berbaring di sampingnya.

“Sekarang peluk Ibu, Sayang…” Pinta Ibu lagi. Ku peluk tubuh Ibu perlahan.

“Ibu tahu kau gugup, Sayang!

Tubuh wanita memang selalu membuat gugup setiap pria yang berusaha menyembunyikan jauh-jauh dorongan hasratnya. Mungkin akan lebih baik jika kamu jujur pada dirimu. Seperti engkau jujur pada Ibu, Nak!

Kalimat Ibu itu benar-benar berhasil membangunkan nafsuku, dan menutup mata bathinku. Aku bangkit dari tempatku membuka kedua kaki Ibu, lalu duduk di antara kedua belah kakinya yang tak berdaya. Ku sentuh belahan vaginanya dan ku mainkan jariku di lobang vagina Ibu. Ku lihat matanya terpejam. Aku tidak bias membaca, apakah itu karena ia menikmati, permainan jemariku di lobang vaginanya yang berbulu lebat, karena selama aku merawatnya aku tidak pernah memotong rambut vagina Ibu, ataukah ia tak sanggup melihat kenyataan bahwa ternyata anak yang lahir dari rahimnya, kini ternyata menjadi seseorang yang kembali masuk ke rahimnya.

Tanpa menunggu lama, aku langsung mengarahkan batang penihku ke lobang vaginanya dan berusaha mencari posisi dan arah yang tepat agar bias menancapkan seluruh batang penisku sedalam-dalamnya. Dan ternyata tidak begitu sulit menemukannya. Hanya saja ku rasakan lobang itu terasa kesat, dan ku piker memang begitu rasanya lobang vagina itu.

Pengalaman pertamaku melakukan hubungan intim dengan wanita tidak berlangsung lama. Spermaku seakan ingin buru-buru mengiri Rahim Ibu dan tanpa mampu menahan lama, aku telah tiba di puncak birahiku. Orgasme pertamaku telah ku lalui dan ku rasaka penisku melemah dan tak bias lagi ditancapkan di lobang vagina Ibu.

Ku hempaskan tubuhku di samping Ibu sambal berusaha menyusun kembali irama nafasku. Seperti inikah nikmatnya bercinta. Ku piker aku mungkin tidak akan sanggup lagi untuk menahan nafsuku jika aku bersama Ibu.

“Sayang! Lakukanlah kapanpun kau mau. Karena Ibu benar-benar tidak merasakan apa-apa…” Ungkap Ibu yang sadar bahwa aku telah melewati orgasmeku.

************

babydol-fuckSejak saat itu, aku semakin semangat merawat Ibu, dan sekaligus semakin semangat menumpahkan hasratku pada Ibu. Ibu seperti Sex Doll dengan vagina asli. Ibu juga lama-kelamaan semakin terbiasa terbaring tanpa pakaian, atau mengenakan pakaian-pakaian seksi yang ku inginkan, karena setiap kali batang penisku terasa tegang aku akan mencari Ibu dan memasukkan penisku ke lobang vagina Ibu. Vagina memang benar-benar lobang kenikmatan.

Ibu.. Maafkan aku! Aku mungkin adalah anak paling biadab yang pernah Ibu kenal. Tetapi selamanya, aku akan tetap menjaga Ibu, merawat Ibu, dan selamanya akan tetap menganggapmu sebagai Ibu.

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s