Oleh: Sari

Aku adalah seorang Janda berusia 33 tahun. Aku memiliki seorang putri berusia 15 tahun. Suamiku meninggal saat putri kami berusia 3 tahun. Dalam kesendirianku sebagai seorang single parent, kerap kali aku merindukan pelukan dan sentuhan dari seorang laki-laki. Kegelisahan itu kadang membuatku harus memenuhi hasrat biologis dengan melakukan masturbasi. Tak hanya dengan menyentuh permukaan vagina, tetapi sering ku masukkan berbagai perabot rumah tangga ke lobang vaginaku dan membayangkan itu sebagai penis.

Aku bekerja sebagai seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Status akademik ini mungkin yang membuatku kesulitan mencari seorang laki-laki yang mau menjadi pasangan hidupku. Sampai pada suatu hari, salah seorang mahasiswaku datang ke rumah dan menyatakan keinginannya untuk melamarku. Ku hargai keberaniannya menyatakan perasaannya kepadaku yang berusia jauh di atasnya. Aku tak mampu berkata apa-apa ketika dia menunjukkan keseriusannya menjadikanku istrinya dengan mengajak kedua orang tuanya untuk menemuiku dan orang tuaku.

Sebenarnya, banyak alasan yang memberatkan hatiku untuk tidak menerima lamarannya. Tetapi kesungguhan yang ditunjukkannya membuatku dan juga kedua orang tuaku tak mampu menolak lamaran pria muda yang baru berusia 22 tahun itu.

Singkat cerita, berita rencana perkawinan keduaku dengan mahasiswaku sendiri menjadi berita heboh di kampus tempatku bekerja. Tetapi pemuda yang dikenal dengan nama Bawi itu, sepertinya tidak perduli. Di kalangan dosen, aku juga digoda dengan kalimat-kalimat yang bertema 17 tahunn ke atas. Tetapi mau bilang apa, memang begitu keadaannya. Aku akan menikah dengan seorang mahasiswa semester akhir yang saat ini sedang dalam proses menyelesaikan skripsinya.

Saat tiba hari yang ditentukan, aku tak mengira resepsi perkawinanku dibanjiri oleh tamu-tamu dari seluruh sivitas akademika, baik dosen maupun mahasiswa. Hari bahagiaku itu begitu meriah. Ucapan selamat, ucapan menggoda, dan kado dari kalangan dosen dan mahasiswa begitu melimpah ruah. Bahkan, yang paling luar biasa, Dekanku masuk ke dalam kerumunan tamu lain dengan mengendarai sebuah truk, dan menurunkan sebuah spring bed besar sebagai hadiah perkawinan. Ada-ada saja ulah Pimpinanku untuk menggodaku.

Kemeriahan acara resepsi sirna seiring dengan tenggelamnya matahari dan berganti dengan gelapnya malam. Dalam kamar penganten hanya ada aku dan suami baruku, Ahmad Al-Marbawi, yang oleh teman-temannya biasa dipanggil Bawi. Pria ini sepertinya bukan tipe romantis, ia menatapku sebagai seorang wanita terhormat yang harus disayangi. Jauh dari perkiraanku bahwa malam pertamanya bersamaku akan menjadi malam yang liar.

“Bu! Apakah Ibu bahagia?” Katanya saat ia duduk di sisi ranjang penganten dan menatapku yang masih menata rambutku di depan cermin. Mendengar ucapannya itu, aku langsung berbalik menatapnya, kemudian aku melangkah mendekatinya. Ku pegang dan ku cium tangannya lalu ku katakan.

“Jangan panggil aku sebagai Dosenmu! Panggil aku sebagai istrimu!”

“Ehhm…. Apakah kamu bahagia, Sari?” katanya lagi. Wajahku ku tekuk saat ia mengucapkan kalimat pertanyaan itu. Kemudian dia merubah struktur kalimatnya untuk kedua kalinya….

“Apa kamu bahagia, Sayang?” katanya lagi. Kali ini aku tersenyum mendengarnya.

“Tentu, suamiku Sayang…” Jawabku. Dia tersenyum kemudian berdiri dan memegang bahuku, lalu mencium keningku.

“Sayang, ajari aku apa yang harus ku lakukan di malam pertama kita…” Katanya.

“Sayang, apapun yang kau inginkan dariku, halal untukmu malam ini…” Jawabku.

“Tapi aku tak tahu harus mulai dari mana…” Katanya lagi.

Aku terdiam sejenak, kemudian ku lemparkan senyum kecilku pada pria yang berusia lebih dari 10 tahun di bawahku.

“Ku pikir, sebaiknya kita mandi dulu. Hari ini sangat melelahkan….” Kataku.

“O ya, benar juga…. siapa duluan?” katanya.

“Kita mandi sama-sama, suamiku Sayang!” godaku.

Ku genggam tangannya dan ku bimbing ia menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur kami. Dalam kamar mandi, ku minta ia melepaskan pakaianku, dan memandikanku. Ia sangat hati-hati dalam memandikanku. Ia meggosokkan sabun ke seluruh bagian tubuhku, tak terkecuali bagian payudara dan vaginaku. Namun ia seperti seorang malaikat yang tidak memiliki dorongan nafsu birahi saat itu memandang dan menyentuh seluruh bagian tubuhku yang telanjang.

Dalam kekecewaan kecil di hatiku, akhirnya tiba giliranku untuk memandikannya. Ku lepaskan seluruh pakaiannya dan ku guyurkan air ke sekujur tubuhnya. Selanjutnya ku sabuni seluruh tubuhnya dan berkonsentrasi pada bagian pangkal pahanya.

“Sayang! Izinkan aku sedikit bermain dengan ini…” Kataku sambil duduk dihadapannya dan memegang batang penisnya yang masih menggantung.

“Silahkan, Sayang…! Jawabnya sambil menatapku. Tanpa menunggu lebih lama, ku sabuni batang penisnya dan ku coba menggenggam dan megocoknya dengan hati-hati.

Akhirnya, aku tahu bahwa suami baruku bukanlah malaikat yang tidak memiliki nafsu melihat tubuhku. Batang penisnya berkedut-kedut seakan terpompa seiring dengan kocokan yang ku lakukan padanya. Sampai akhirnya, batang penis itu berdiri perkasa menatap angkasa. Ku tatap penis suamiku beberapa saat mencoba mengingat kembali bentuk dan ukuran penis yang dulu pernah begitu akrab denganku dan vaginaku. Aku hampir tak percaya, bahwa ternyata ada penis yang berukuran seperti seperti yang kini nyata di hadapanku. Ku pikir penis milik suami baruku ini, dua kali lebih besar dan lebih panjang dari milik suami pertamaku. Tapi entahlah….. aku mencoba mengingat sesuatu yang tidak pernah ku lihat lagi selama lebih dari 10 tahun.

“Sayang, maukah kamu memasukkan burungmu ini ke sangkar barunya?” Kataku pada Bawi suamiku.

“Apapun yang kamu minta, Sayang…!!!” Jawab suamiku.

Kemudian aku berbaring di lantai kamar mandi dan membuka kedua pahaku lebar-lebar. Melihat posisiku tersebut, Bawi mengambil posisi duduk di antara kedua pahaku dan ia memegang batang penisnya dan mengarahkannya ke lobang vaginaku. Bawi menggesek-gesekkan kepala penisnya di belahan vaginaku, sepertinya ia berusaha menyibak bibir vaginaku dan mencari pintu untuk memasukkan burungnya ke dalam sangkar barunya.

Entah lobang vaginaku yang menjadi semakin sempit setelah lama tidak bercinta, atau memang ukuran penis Bawi yang terlalu besar, sehingga ia agak kesulitan menjejalkan batang penisnya yang sudah cukup tegang itu ke lobang vaginaku. Namun demikian, perlahan tapi pasti akhirnya ku rasakan kembali saat-saat dimana lobang di selangkanganku terisi penuh oleh sebuah benda yang bernama penis.

Setelah seluruh batang penisnya amblas di lobang vaginaku, Bawi tidak langsung memulai aksinya. Ia hanya menatap tajam ke dalam mataku, kemudian seutas senyum kecil terlempar dari bibirnya. Bawi mengecup payudaraku dan mencium pipiku. Seuntai kalimat sederhana ia bisikkan di telingaku.

“Sayang! Sebaiknya kita selesaikan dulu acara mandi-mandi kita. Baru nanti kita lanjutkan di ranjang penganten kita…. Bagaimana!?”

“Aaah Sayang… kenapa tidak kita selesaikan dulu babak pertama di sini… Nanti babak selanjutnya terserah mau di mana…” Jawabku dengan nada genit.

Bawi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan mencium bibirku, kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku dengan bertumpu pada kedua sikunya yang berada di kedua sisi tubuhku. Sambil menciumi bagian leher kiri dan kananku, Bawi mulai memainkan pantatnya, sehingga batang penisnya yang tadinya amblas total di lobang vaginaku, kini mulai bergerak mundur dan menggesek pelan di dinding vaginaku.

“Wooooow….!!” mungkin itulah satu kata yang harusnya ku teriakkan untuk mengekspresikan nikmatnya gairah birahi yang ku rasakan. Gesekan batang penis yang terasa sangat sesak di lobang vaginaku itu mampu membuat seluruh darahku berdesir cepat. Gravitasi seakan menghilang. Aku merasa melayang dan tidak lagi berada di lantai kamar mandi yang basah terguyur percikan shower yang masih menyala.

Bawi mulai menurunkan kembali pantatnya yang terangkat, sehingga batang penis yang hampir tercabut dari lobang vaginaku, kini mulai kembali bergerak masuk dengan perlahan hingga menghujam pintu rahimku.

Gerakan statis itu terus berulang dengan tempo slowmotion selama beberapa saat. Sementara aku tak mampu lagi mengontrol desahan di bibirku, gerakan tubuh, dan bahkan irama pernapasan saat lobang vaginaku terpompa oleh penis Bawi yang terasa sangat panjang. Dalam kenikmatan itu, kedua kakiku mengejang lurus ke atas membentuk sudut lebih besar dari 900. Tanganku memeluk erat pundak Bawi dan mungkin hampir seperti mencakar punggungnya. Sementara itu desahan liar di bibirku semakin lepas kendali menyatu dengan suara gemericik air shower yang terus menghujani kami.

Semakin lama ku rasakan irama gerakan penis Bawi bergerak semakin cepat menggesek-gesek dinding vaginaku yang sudah banjir oleh cairan vaginaku yang sangat terangsang. Kenikmatan bercinta yang telah lama hilang dan kini hadir kembali benar-benar membuatku terbuai dalam pelukan Bawi suami baruku.

Darah diseluruh tubuhku terasa bergerak merapat ke daerah selangkanganku. Aku merasakan puncak kenikmatan telah telah berada di hadapanku. Vaginaku terasa mengejang dan memeluk erat batang penis Bawi yang terus menerus menusuk selangkanganku. Sampai akhirnya aku tak mampu menahan sebuah lenguhan panjang sebagai ekspresi tak terungkapkan untuk mewakili nikmatya berada di puncak kenikmatan birahi surga dunia.

Seluruh tubuhku terasa lemas. Desirah darah yang terasa berkumpul di vaginaku, kini terasa bergerak kembali ke posisinya masing-masing. Kedua kakiku terjatuh lemas ke lantai kamar mandi, sementara itu tanganku memegang pantat Bawi mencoba menahan penis Bawi yang terus menusuk lobang vaginaku agar tak terus bergerak, namun aku merasa tak lagi memiliki kekuatan untuk menahan gerakannya yang sepertinya juga sedang berusaha mencapai puncak birahi.

Dalam ketidak berdayaan tubuhku yang terbunuh oleh kenikmatan bercinta, Bawi malah semakin kencang menghantam lobang vaginaku, sampai akhirnya ia menghujamkan penisnya sedalam-dalamnya di lovag vaginaku diiringi oleh beberapa kedutan pada penisnya. Bawi terkulai lemas di atas tubuhku diikuti oleh usaha untuk mengatur napasnya kembali.

Bawi menindih tubuhku yang juga tak berdaya selama beberapa saat seiring dengan semakin mengecilnya ukuran batang penisnya yang masih menancap di lobang vaginaku. Kemudian dia mengangkat tubuhnya sehingga lepaslah penisnya dari jepitan vaginaku. Ia kemudian berbaring di lantai di sebelah kananku dengan tangan kanannya terkulai di atas payudara kiriku.

“Bu… berapa nilai praktekku untuk mata kuliah bercinta?” Candanya sambil menatap mataku. Ku menoleh padanya kemudian ku lemparkan senyumku. Aku mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ku miliki kemudian berbaring di atas tubuhnya yang kelelahan. Ku jatuhkan kepalaku di dadanya.

“Aku tak bisa memberi nilai, kecuali ada di atas A…” jawabku dengan gaya bicara seorang dosen. Dosen yang nakal. Bawi kemudian memeluk tubuhku, dan aku mencoba meraih penisnya dan memegang penisnya yang lemas dan menyentuhkannya di bibir vaginaku.

“Sayang…! tak pernah terbayang sebelumnya akan senikmat ini sensasi malam pertamaku.” Bisiknya disela kesibukanku memainkan penisnya di vaginaku.

“Sekarang aku akan jadi pelacurmu, Sayang…!! Ku jamin kamu akan mendapatkan kenikmatan kapanpun kamu menginginkannya….” Jawabku.

“Apakah bercinta di ranjang penganten juga akan senikmat ini…!?” Katanya lagi.

“Kenapa tidak kita coba saja..!!?” Jawabku sambil berusaha bangkit dan berdiri dan menyemprotnya dengan shower yang ku raih dari tempatnya. Bawi bangkit dengan cepat dan meraihku. Aku berusaha melepaskan diri dari serangannya, namun Bawi juga juga tidak ingin kehilangan mangsanya.

Kami meneruskan acara mandi-mandi malam pertama dengan candaan yang nakal. Kami seperti kehilangan rasa malu mempertontonkan tubuh bugil kami. Bawi terus-terusan mencolek selangkanganku dengan jari-jarinya. Dan aku juga tak akan menolak perlakukan tidak senonohnya padaku. Karena sejujurnya emosi nakalku membimbingku untuk melayani birahi suamiku seperti seorang pelacur yang melayani tamunya sampai puas.

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s