Oleh: Rara

Namaku Rara, usiaku 17 tahun ketika peristiwa itu terjadi. Ini adalah kisahku dengan  Ardi seorang pemilik usaha Warnet. Kak Ardi, begitu aku memanggilnya. Dia orangnya cowok berusia sekitar 20 tahunan, orangnya keren, supel, ramah, dan boleh dibilang ganteng juga sih. Soalnya, sebagai adik angkat, aku jujur suka padanya. Tetapi sayangnya, dia sudah beristri dan memiliki 1 orang putra.

Warnet milik kak Ardi, berada di sebuah rumah yang dia sewa per tahun dari pemiliknya. di rumah yang cukup besar itu, terdapat 20 unit komputer klien, dan satu komputer server, untuk kasir warnet. Sebenarnya, awal aku kenal Kak Ardi juga di warnet ini.

Ketika itu, aku lagi asyik browsing, dan hujan yang mengguyur bumi di luar sana tidak kunjung reda. Sampai menjelang jam 10 malam, Kak Ardi mengirim pesan pemberitahuan via komputer server ke semua komputer klien bahwa dia akan menutup Warnetnya. Membaca pesan itu di layar komputerku, iseng ku balas pesan itu.

“Sebentar lagi deh, Kak! di luar juga masih hujan. Aku nggak bisa pulang kalau hujan…” Tulisku. Beberapa saat kemudian, halaman browserku kembali tertutup oleh sebuah halaman pesan dari server berisi tulisan:

“Mau pulang hujan-hujanan, atau dimarahin sama ortu?” Katanya. Ku tengok Kak Ardi yang duduk di meja server. Ku lihat dia tersenyum sambil menatapku.

“Ortu aku nggak mungkin marah, Kak! Jadi aku nggak perlu pulang ujan-ujanan gini…!” Balasku lagi.

“Kalau gitu, kamu nginap aja di Warnet, ya! Aku mau pulang” Tulisnya lagi.

“Tega deh, Kakak!” Jawabku.

“Tega nggak tega… Aku mau pulang, hujan-hujan gini enakan di rumah kale…” Katanya. Ku lihat ada beberapa pengunjung lain berada di meja Kak Ardi sedang bayar , lalu mereka meninggalkan Warnet hujan-hujanan.

“Kakak, enak pulang ada yang dipeluk-peluk….” Tulisku lagi mencoba menggodanya. Ku tunggu beberapa saat, tidak ada jawaban. Tiba-tiba Kak Ardi berada di depan box Warnet tempatku lagi browsing. Dia masuk ke dalam boxku dan duduk di sampingku.

“Kamu lagi nyari ngapain sih?” Katanya. Aku merasa agak nervous di sampingnya, tinggal berdua-an aja di Warnet. Kemudian dia berkata lagi.

“Ooh! Chating, ya? ….Yakin nggak dimarahin orto?” Tanyanya mengulang pertanyaan di pesan tadi.

“Ortuku di Jakarta, Kak! di sini aku sama Kakak. Kalau malam dia kerja…” Jawabku.

“Kakak kerja apa?” Tanya Kak Ardi dengan nada sopan.

“Kerja di komplek ruko depan komplek, jadi Satpam.” Jawabku.

“Terus gimana nih..!? Orang semua sudah pada pulang.. Tinggal kamu aja lagi…” Katanya.

“Sebentar lagi deh, Kak! Kalau hujan sudah berhenti, aku pulang deh…” Jawabku.

“Hmmm…. Kalau hujannya nggak berhenti-berhenti!? Kata Kak Ardi lagi.

“Ya, nggak pulang, Kak!”

“Kalau ngak berhenti sampai besok?” Katanya lagi.

“Ya, nginap di sini…!?” jawabku.

“Memagnya berani sendirian di sini..!?” Katanya mencoba menantang keberanianku.

“Sama Kakak, ya berani…” Jawabku mencoba merayunya agar tidak cepat pualng.

“Waduuuh… Enakan di rumah, de! ada yang dipeluk…” Ucapnya mengulang kata-kataku di pesan tadi.

“Di sini juga ada yang dipeluk, Kak!” Jawabku terus menggodanya…

“Siapa..!? Hantu..!? Kuntilanak..!? Hiii… Takuut!” Katanya.

“Ah Kakak! Jangan nakut-nakutin ah… Rara takut nih!” Kataku. Tiba-tiba dia tertawa, lalu berdiri meninggalkanku sambil berkata:

“Sebentar lagi, ya! Kakak temanin nih…”

“Makasih Kakak ganteeeeng…” Jawabku sambil tersenyum padanya. Dia juga tersenyum sambil melangkah menuju meja server. Aku merasa sangat bahagia saat itu. Entah karena diberi kesempatan duduk di Warnet sambil menunggu hujan reda, atau mungkin karena aku baru saja duduk di samping seorang cowok ganteng, yang meskipun dia sudah beristri…

**********

Jam 11 malam, hujan belum juga reda. ku tengok meja server, aku tidak menemukan Kak Ardi. Kemana dia? sudah Pulang? Ah nggak mungkin. Atau dia dalam kamar? Karena rumah yang disewa Kak Ardi untuk warnet ini memiliki dua kamar tidur yang tidak ia gunakan untuk warnet.

Dalam suasana hati, penasaran, takut, dan terkejut, karena KAk Ardi tak ada di tempatnya, ku coba untuk memanggilnya.

“Kak…! Kakak…! Kak Ardi..!?” Panggilku berbaur dengan suara hujan yang masih cukuplebat di luar sana. Ku tengok di kamar depan, gelap. Spertinya Kak Ardi juga tidak ada di ruangan itu. Lalu ku coba menengok Kak Ardi di kamar belakang. Ku buka pintu kamar itu, ku lihat dia terbaring di atas kasur kecil dengan TV yang masih menyala. Di sampingnya ada sebuah laptop yang juga belum mati.

Ku coba memanggilnya dari depan pintu kamar, tapi dia tidak menjawab. Kemudian ku beranikan diri untuk masuk dan kembali mencoba membangunkannya. Namun niat itu ku batalkan karena, di balik suara TV yang menyala, pada laptop yang ada di sampingnya juga menampilkan semua video yang cukup menarik perhatianku, yaitu sebuah film porno barat.

Aku berdiri di dekat tubuh Kak Ardi sambil menyaksikan film di laptop Kak Ardi. Tapi sayangnya, aku menonton diakhir cerita, karena beberapa saat kemudian pemutar video di laptop Kak Ardi terhenti. Aku yang merasa sedikit terangsang melihat potongan akhir cerita video porno di laptop Kak Ardi, tiba-tiba dibenakku lahir pikiran untuk melakukannya dengan Kak Ardi. Tapi dia mau nggak, ya? Apakah aku harus take first?

Melihat Kak Ardi yang terlihat tidur sangat pulas dalam posisi miring menghadap ke laptop. Ku coba untuk meletakkan telapak taganku di bahunya. Karena tidak respon dari Kak Ardi, Lalu dengan perlahan aku berbaring di belakangnya menghadap ke punggungnya. Dengan perlahan ku letakkan tanganku memeluknya di daerah perut. Karena Kak Ardi, tidak merespon akupun tidak bergerak dalam posisiku. Aku merasa senang sekali bisa memeluknya dan membayangkan bercinta dengannya.

Beberapa saat kemudian, Kak Ardi bergerak dalam posisi tidur terlentang dan lengannya jatuh tepat di dadaku, lebih tepatnya jatuh di atas payudaraku. Ku coba untuk menyingkirkan tangan Kak Ardi dari tubuhku dengan perlahan, tetapi tiba-tiba tubuhnya malah berbalik ke arahku. Wajahnya tepat di depan wajahku, sedangkan lengannya melingkat di perutku.

Aku bingung harus bagaimana? Apa yang akan Kak Ardi lakukan jika saja dia terbangun dan melihat aku ada di kamarnya dan berbaring di sampingnya? Apakah aku harus mencoba lagi memindahkan tangan Kak Ardi dari tubuhku, atau daripada terlanjur basah, sekalian mandi sekalian, dengan catatan ada resiko yang harus ku terima.

Aku terdiam menatap wajah Kak Ardi yang sedang tidur nyenyak. Tiba-tiba aku mebayangkan, aku di posisi sebagai istri Kak Ardi. Lalu ku coba memejamkan mata dan membayangkan dia mencumbuku, lalu kami bercinta dan bergumul ria tanpa busana.

Aku mulai terangsang oleh hayalanku sendiri, karena berada sangat dekat dengan hayalanku, di mana ada aku sebagai ceweknya, dan Kak Ardi sebagai sebagai cowoknya, tapi sayangnya si cowok sedang tidur. Aku tertawa lebar dalam hati, dan terbias dari seyum kecil di bibirku.  Ku tatap lagi cowok tidur yang tangannya sedang memelukku. Ku tatap bibirnya dan mencoba menyentuh bibirnya dengan bibirku.

Dalam perasaan, tidak karuan… Akhirnya ku putuskan untuk membiarkan Kak Ardi tidur di sampingku, dan membiarkan dia tahu bahwa aku tidur di sampingnya, jika dia terbangun nanti. Konsekwensi apapun itu akan ku terima, termasuk konsekwensi diusir oleh Kak Ardi, atau sebaliknya dicumbunya.

*************

Pagi, matahari bersinar sangat cerah… Cahayanya menembus celah jendela kamar yang seperti bukan jendela kamarku. Aku tersentak setelah menyadari bahwa tadi malam aku tidur bersama Kak Ardi di kamar rumah yang di sewa Kak Ardi untuk usaha Warnetnya.

Aku langsung bangkit dari tidurku, karena ku lihat Kak Ardi tak ada lagi di kamar itu. amun alangkah terkejutnya aku, ketika ku lihat tubuhku pada sebuah cermin di kamar itu. Ternyata tak selembar benangpun yang menutupi tubuhku. Pada kaca cermin itu juga tertempel selembar kertas yang sepertinya ditinggalkan oleh Kak Ardi untukku.  Ku ambil kertas itu, lalu ku baca.

Aku terdiam sesaat membaca beberapa kalimat yang tertulis dalam pesan yang ditinggalkan Kak Ardi,  Saat membaca bagian akhir pesan, aku langsung berbalik mencari remote control TV dan menyalakan DVD Player yang ada di kamar itu. Saat TV mulai menyala, ku lihat rekaman muali dari aku masuk kamar, aku menmeluk Kak Ardi, kemudian saat dia berbalik dan lengannya jatuh di dadaku, lalu saat aku menciumya…. Sampat di situ, aku masih ingat, tetapi apa yang terjadi setelah itu, membuatku penasaran.

Ku perhatikan dengan seksama setiap detail pada video yang merekam kejadian tadi malam. Setelah beberapa saat, sepertinya aku telah tertidur, dan saat itulah, Kak Ardi bangun dari tidurnya dan mendekati kameranya. di depan kamera di berkata…

“Hallo, Sayang.!! Sebaiknya, kamo tonton kelanjutan video ini, sebelum ditonto oleh orang banyak…!”

Selepas itu, Kak Ardi mengambil kamerenya yang ternyata berada di dibawah TV. Kemudian Dia mengarahkan kameranya ke tubuhku. secara close up, dari wajah hingga ujung kaki. Kemudian dia kembali meletakkan kameranya lalu memulai aksinya melucuti pakaian yang ada di tubuhku.

Gila…!! Kenapa aku tidak terbangun saat dikerjai seperti ini. pikirku dalam hati. Aku terus mengikuti kronologis video itu dan tidak lagi sadar bahwa saat itu aku masih bugil.

Saat seluruh tubuhku telanjang bulat, Kak Ardi kemabli mengambil kameranya dan menyorotnya kembali ke seluruh tubuhku, dari wajah hingga ujung kaki, Kak Ardi membalikkan kameranya ke wajahnya lalu berkata.

“Sayang…!! Kamu kok ggak bangun-bangun sih…!!? Padahal punyaku sudah bangun nih…”

Kak Ardi mengarahkan kameranya ke bagian bawah tubuhnya, lalu mengeluarkan batang penisnya yang memang sudah keras dan besar. Ku pegang vaginaku saat itu, apakah Mas Ardi mengambil keperawananku di saat aku tidur. Sungguh tidak adil, pikirku.

Aku terus memperhatikan video yang merekam peristiwa tadi malam saat aku tertidur. Kak Ardi mengarahkan kameranya ke vaginaku, dan memainkan jari telunjuknya menyusuri belahan vaginaku. Gila…!! benar- benar Gila..! Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku benar-benar tak sadarkan diri malam itu. Beberapa saat kemudian, Kak Ardi jari-jarinya berhenti bermain di vaginaku. Tapi Sayangnya, sekarang kepala penisnya lagi yang dia tempelkan ke vaginaku…

Dalam rasa yang tidak keruan, aku baru sadar bahwa sejak awal aku menonton berdiri. Akhirnya ku coba mengambil posisi duduk di atas kasur, sambil menarik selimut yang tadi menutupi tubuhku. namun begitu, mataku tak berhenti untuk menyaksikan video yang merekam diriku sendiri tersebut.

mlhizxh

Kak Ardi benar-benar memainkan batang penisnya di belahan vaginaku. Dalam benakku, Habislah aku, …!! Keperawananku terlepas saat tidur….” Namun tiba-tiba, kamera Video kembali dia arahkan ke wajahnya. Dia berkata.

“Sayang…!! Kok kamu nggak bangun-bangun sih? Nggak enak tahu, bercinta dengan orang tidur….!! Malam ini jaga Warnet Kak Ardi, ya! Daaaah…..” Setelah mengatakan itu, dia menutupi tubuhku dengan selimut dan melangkah keluar dari kamar. Kemudian video itu berakhir…..

Dalam rasa senang sedih marah bahagia jadi satu, kembali ku hempaskan tubuhku ke kasur, dan mataku menerawang ke langit-langit kamar. Setelah beberapa saat, aku muali memikirkan pakaianku. Seluruh pakaian yang ku kenakan berhambiran di lantai, kecuali BHCD. Setelah ku cari di sekeliling kamar tidak ku temukan, aku menuju kamar mandi. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya bersama senyuan kecil di bibirku. CD dan BH ku tergantung pada sebuah hanger.

Saat ku ambil BHCD-ku yang tergantung tersebut, tiba-tiba sepotong kertas kecil terjatuh ke lantai kamar mandi. Ku ambil kertas itu dan ku baca tulisan yang ada di atas kertas itu.

“Maaf! Adegan selanjutnya khusus dewasa…”

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s