Oleh: Sala

Namaku Sala, Aku adalah seorang Ibu rumah Tangga, anakku 2 orang, suamiku seorang putra seorang tokoh agama yang memiliki sebuah Yayasan Pendidikan Terpadu yang cukup terkenal di kotaku. Kehidupan rumah tanggaku seperti orang berumah tangga pada umumnya. Awalnya kami tinggal asrama guru yang terdapat di komplek Yayasan milik mertuaku. Namun sekarang, kami bisa membangun rumah sendiri dari penghasilan suamiku mengajar di Yayasan miliknya orang tuanya itu, dan penghasilan kios kecilku di depan gerbang Yayasan menjual jasa layanan pengisian pulsa selular, dan loket pembayaran PLN, PDAM, dan lain-lain.

Karena keseharianku hanya duduk di toko menunggu konsumen, aku memiliki waktu yang cukup banyak untuk berselancar di dunia Maya. Tulisan ini iseng ku tulis, untuk menuangkan suara hatiku yang tidak bisa dibagi pada orang-orang di sekitarku, termasuk suamiku.

*******

Kehidupan masa kecilku,  ku rasakan jauh berbeda dengan kondisiku saat ini. Aku tinggal bersama orang tuaku di rumah kecil yang hanya memiliki satu ruangan berukuran sekitar 3m x 5m (kurag lebih begitu). Dinding papan yang tidak rata, dan lantai seperti piano, setiap keping papan memiliki nadanya sendiri. Dapur dan kamar mandi hanya berdinding kain tanpa atap. Ruang utama terpaksa di sekat dengan dinding plastik untuk memberi kesan kamar.

Aku adalah anak tunggal. Ibuku pernah hamil ketika aku berusia 7 tahun, sebagai perempuan yang baru saja meninggalkan fase balita, aku sangat senang karena akan memiliki adik bayi. Tetapi kemudian Ibu keguguran saat sedang bekerja di sawah bersama Ayahku.  Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi mendapatkan tanda-tanda akan memiliki adik bayi. Sejak saat itu pula, aku mulai menerima suguhan pemandangan aktivitas malam suami istri yang baru kupahami ketika aku masuk SMP.

Entah karena usiaku yang sudah tidak balita lagi, atau oleh sebab Ibuku yang gagal memberi adik padaku, aku merasa kedua orag tuaku semakin sering melakukan hubugan suami istri, Kenapa mereka tidak pernah bosan bermain dalam selimut, sementara aku sendiri merasa bosan dan bahkan terbiasa dengan pemandangan bugil kedua orang tuaku tersebut, meskipun sejujurnya saat itu, aku juga tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu. Pikirku, seperti itulah cara orang dewasa tidur.

Saat aku mulai beranjak dewasa, lingkungan dan pengalaman dari apa yang ku lihat mulai memberiku pandagan bahwa itulah yang dimaksud dengan bercinta, dimana laki-laki memasukkan batang penisnya ke lobang vagina wanita. Semakin aku beranjak dewasa, aku merasa malu sendiri ketika harus terjaga di malam hari, oleh irama lantau yang dimaikan oleh permainan seks orang tuaku. Pemandangan beraroma birahi itu terasa semakin tabu untuk ku saksikan, meskipun sebelumnya aku bahkan sempat merasa bosan melihat rutinitas malam yang mereka lakukan.

Diusiaku yang semakin dewasa, aku sering pura-pura tertidur saat kedua orang tuaku mulai memasuki sesion pemanasan. Suatu malam, aku kembali terjaga dan aku pura-pura tidur. Ku lihat Ayah menciumi bibir Ibu, kemudian terus ke leher, dan turun ke wilayah dada sambil melepaskan apapun yang menutupi payudara Ibuku. Payudara Ibu yang bulat kencang, diciumi, dilumat, diremas, dan terus dimain-mainkan oleh Ayah.  Ku lihat, Ibu hanya terpejam dan sepertinya dia menikmati apa yang dilakukan Ayah terhadapnya., terutama saat Ayah mulai melepaskan sarung yang dikenakan Ibu saat tidur dan mulai menempelkan wajahkan di selangkangan Ibu. Sangat jelas ku perhatikan ekspresi yang keluar dari tubuh Ibu. Tuhubya menggelinjang dengan desahan kecil yang keluar dari bibirya. Saat itu aku belum tahu, apa yang dilakukan Ayah di muara liang vagina Ibu, dan untuk apa ia melakukan itu. Setahuku hubugan suami istri adalah antara kedua alat kelamin mereka, tidak ada hubungannya dengan wajah.

Sampai akhirnya ku dengar sepotong kalimat dari Ibuku yang mengangkat sedikit tubuhnya dengan bertopang siku seakan ingin melihat apa yang dilakukan Ayah di vaginanya….

10

“Terus, yah! jilat terus, yah!… Oooohh” Desah Ibu sambil mengangkat kedua kakinya menunjuk lagit dan menyingkap kain sarung yang menyelimutinya. Tak berapa lama kemudian, Ibu kembali menjatuhkan tubuhnya, tetapi kali ini, kedua tangannya memegang betisnya sendiri dan menariknya hingga lututnya menyentuh payudaranya yang kencang. Saat itulah, akhirya aku tahu yang dilakukan Ayah di vagina Ibu. Ia memainkan lidahnya di belahan vagina Ibu yang berbulu.

Saat Ibu sedang terkangkang dengan kaki yang masih dia pegang, ku lihat Ayah berdiri dan mulai menanggalkan sarungnya lalu denga cepat ia menurunkan dan melepaskan celana dalamnya. Itulah pertama kali, aku melihat alat kelamin laki-laki yang ku kenal dengan istilah Kontol. Besar, panjang dan dikelilingi oleh bulu yang lebat.

Tanpa menunggu lama, Ayah duduk di antara pagkal paha Ibu dan mulai mengarahkan ujung batang penisnya ke lobang vagina Ibu. Ayah memasukkanya dengan perlahan hingga akhirnya amblas masuk ke dalam vagina Ibu. Saat Ayah kembali menarik keluar batang penisnya dan kembali menghujamkannya ke dalam, Saat itulah Ibu mengeluarkan suara yang lebih mirip teriakan….

“Oooh!…” Keriah Ibu tertahan. Aku yang terkejut mendengar suara itu, secara spontan bangkit dari tempatku berbaring.

“Ayah!… Ibu kenapa…!!?” melihatku terbangun, mereka juga terkejut. Ibu langsung menarik, sarung yang telah lepas dari tubuhnya dan menutupi sebagian kecil tubuhnya yang bugil. Sementara Ayah, hanya terdiam dan membiarkan penisnya tetap tertanjap di lobang vagina Ibu.

“Tidak apa-apa, Sayang! Ayo tidur lagi…” Kata Ibu sambil berusaha meraihku dengan tubuh yang tidak mampu ia gerakkan karena terkunci oleh tusukan penis Ayah di vaginanya.

“Ayah dan Ibu sedang apa?” Kataku dengan bahasa sederhana mencoba mencari jawaban atas apa yang ku dengar diluar dan ku lihat di dalam rumah.

“Ayah sedang mengisi perut Ibu dengan dede bayi…” Kata Ayah yang terlihat mulai membuag rasa terkejutnya.

“Ayo tidur lagi, Sayang!” Kata Ayah sambil mulai kembali bergerak perlahan memompa tubuh Ibu.

“Ibu tidak apa-apa?” Kataku lagi sambil berajak mendekat dan berbaring dilegan Ibu.

“Iya…! Ibu tidak apa-apa, Sayang! Sini tidur dekat Ibu, ya! Ayo tutup matanya….” Kata Ibu merayuku.

“Ibu….” kataku, sambil mengangkat kepalaku untuk menatap wajah Ibu.

“Iya, Sayang…!? Jawab Ibu dengan tenang, setenang tubuhnya yang terus bergerak-gerak karena Ayah terus menggenjot lobang vagina Ibu dengan penisnya seolah tidak perduli dengan kehadiranku.

“Sala mau pipis… temani ke belakang, Bu!” Kataku yang saat Ibu memang ingin pipis.

Ibu tidak langsung menjawab.  Ia menatap wajah Ayah dan memberi isyarat dengan keningnya. Ayah juga menjawab dengan keningnya, lalu Ibu menatapku dan berkata:

“Bisa tahan sebentar nggak, Sayang?” Kata Ibu.

“Kenapa, Bu?” Tanyaku lagi.

“Biar Ayah selesaikan pekerjaan Ayah sebentar, ya Sayang!  Kata Ibu…

“Ayah mengerjakan apa, Bu?” Tanyaku lagi.

“Lhoo… kan tadi Ayah sidah bilang… Ayah lagi bikin dede untuk Sala…” Jawab Ibu mencoba menenangkanku. Aku hanya manggut-manggut seolah mengerti.

Kejadian malam itu seakan memberiku kesempatan untuk bebas menikmati pemandangan tabu yang tidak selayaknya ku saksikan. Aku duduk sambil memperhatikan Ibu yang terkangkang karena penis Ayah yang terus keluar masuk di lobang vagina Ibu.

Melihatku menyaksikan Ayah yang terus memainkan penisnya di lobang vaginanya, Ibu akhirnya meminta Ayah untuk menahan birahinya. Ayahpun mengalah dan mencabut penisnya dari lobang vagina Ibu. Ayah menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah bantal sambil menarik sarungnya dan menutupi kemaluannya yang masih terlihat tegak berdiri. Sementara Ibu bangkit dan meraih sarung dan membalutkannya ke tubuhnya. Ia kemudian menemaniku ke belakang untuk buang air kecil.

Saat sedang berada di kamar mandi terbuka tanpa atap itu, aku kembali melempar pertanyaan pada Ibu.

“Kenapa Ayah bikin dede di perut Ibu?” Kataku sambil pipis. Ibu hanya tersenyum medengar pertanyaanku, Ia tidak memberi jawaban, tetapi hanya mengambil segayung air untuk membersihkan wilayah selangkanganku.

“Soalnya kita punya ini. Jadi Dedenya bisa keluar… Ayah tidak punya!” Kata Ibu.

“Ooh…!” Jawabku yang mampu menerima jawaban Ibu untuk anak seusiaku waktu itu. Setelah aku selesai buang air kecil, kami kembali ke kamar dan Ibu berbaring sambil memelukku. Tak lama berselang, ku rasakan tubuh Ibu kembali bergoyang. Aku kembali berusaha kembali bangkit, tetapi Ibu menahanku dan membali memelukku sambil berbisik.

“Sayang! malam sudah larut, besok Sala kan sekolah lagi. Nanti telat bangunnya…” Kata Ibu meneangkanku. Akhirnya ku coba memejamkan mata, meskipun menasaran karena tubuh Ibu kembali bergoyang. Ku coba mengintip di celah antara tubuhku dan tubuh Ibu. Ku lihat sarung yang membalut tubuh Ibu bagian bawah kembali tersingkap. Sementara salah satu kaki Ibu terangkat ke atas dan dipegang oleh tangan Ayah. Ku lihat ada kaki Ayah di antara selangkangan Ibu.

“Bu….!” Aku kembali memanggil Ibu dengan nada sedikit berbisik.

“Mmhh…?” jawab Ibu singkat.

“Ayah memasukkan kontol ke lobang ee, ya, Bu?” Tanyaku lagi.

“Sayang!Sudah… jangan ngomong lagi,…” jawab Ibu dengan nada lebih tinggi. Aku akhirnya hanya diam menyimpan tanda tanya dalam hatiku. Akhirya aku tidur berbalik membelakangi Ibu da memeluk guling yang ada di sisi sebeluhku.

Rasa penasaran yang dihiasi oleh nada-nada lantai dan suasana gubuk kecilku yang terus bergoyang membuatku tak bisa dengan mudah memejamkan mata. Setelah beberapa saat, aku kembali berbalik meghadap ke arah Ibu, sambil terus memeluk guling. Pemadangan baru lainnya kembali ku saksikan. Ketika Ibu duduk di selangkangan Ayah dan mengulum penis Ayah. Ayah yang mengetahui aku belum tidur hanya tersenyum menatapku. Ia sepertinya membiarkan saja aku melihat mereka berbugil ria.

Tak berapa lama kemudian, Ibu berdiri dan melagkahi tubuh Ayah lalu mengambil posisi duduk dimana penis Ayah berdiri tegak. Degnan salah satu tanganya, dia genggam penis Ayah yang besar dan panjang, lalu mengarahkan ujung penis Ayah kembali ke lobang vaginanya. Sementara itu tangan satunya memegang belahan vaginanya lalu ia mulai menurunkan pantatnya perlahan hingga penis Ayah kembali amblas masuk ke lobang vaginanya.

Ibu mulai mengambil ancang-ancang dengan menurunkan tubuhnya ke arah belakang dengan bertopang pada kedua lengannya, lalu ku lihat Ibu mulai memainkan patatnya maju mundur, sehingga penis Ayah keluar masuk di lobang vaginanya. Desahan demi desahan kembali terdengar, dan berpadu dengan irama lantai.

Posisi seperti itu sepertinya tidak begitu nyaman bagi Ibu. Ia kemudian membalik tubuhnya ke depan dan kembali bertumpu dengan kedua tangannya. Ibu kembali menggoyang pantatnya maju mundur seperti berusaha menggaruk gatal dalam vaginanya dengan sebuah alat yang bernama penis.

Tak berapa lama dengan posisi tersebut, Ayah memeluk tubuh Ibu dan berguling lalu Ayah memutar posisi mereka bercinta beberapa derajat sehingga kaki Ibu hampir menyentuh wajahku. Namun saat itu, Ayah langsung mearik kaki Ibudan kembali mengangkangkan ke dua kakinya. Entah sengaja atau tidak, posisi itu membuatku dapat melihat permukaan vagina Ibu yang ditumbuhi bulu lebat.

Dengan kedua kaki yang terkangkang, ku saksikan dengan jelas ketika Ayah mengarahkan peisnya ke selangkangan Ibu dan meerobos masuk membelah bibir vagina Ibu yang terlihat gendut. Dapat ku lihat dengan jelas bibir vagina Ibu bergerak senirama dengan gerakan keluar masuknya penis Ayah di lobang vaginaya itu.

Semakin lama, Ayah semakin cepat mengocok lobang vagina Ibu dengan penisnya. Desahan Ibu semakin kencang, sesekali ia meracau tak karuan,, sampai akhirnya Ayah terhenti dengan sebuah tusukan dalam ke lobang vagina Ibu. kaki Ibu terjatuh di kedua sisi tubuhnya,  dan Ayah pun ambruk di atas tubuh Ibu.

***************

Semakin aku mengerti dengan seks, semakin aku disodorkan pemadangan-pemandangan yang akhirnya merangsangku untuk melakukannya. Hingga suatu ketika, keperawananku akhirnya harus terlepas karena dorongan birahiku sendiri. Tepat setelah aku menamatkan pendidikan SMA, aku tak mampu untuk menahan gejolak hasrat bercinta yang hanya bisa ku dapatkan dari bermasturbasi.

Siapa pria yang beruntung mendapatkan keperawananku? Dia tidak lain adalah Ayahku sendiri. Saat pulang dari Acara perpisahan sekolah, dengan pakaian seragam putih Abu-Abu yang penuh dengan warna warni perpisahan, aku melihat Ayahku sedang mandi. Saat itulah, aku lagsung mendatangi Ayahku ke kamar mandi dan menanggalkan atribut kesiswaanku, sekaligus atribut kewanitaanku di depan Ayah yang sedang mandi. Melihatku berdiri tanpa busana sambil tersenyum kecil kepada Ayah, lalu ku katakan:

“Yah! lihatlah aku….!! Aku bukan lagi anak-anak, kan?”

“Ya, tentu, Sayang?” jawab Ayah tanpa ekspresi menatap tubuhku.

“Apakah bulu-bulu ini belum cukup tebal untuk dikatakan remaja?” tanyaku lagi.

“Apa maksudmu, Sayang?” jawab Ayah terlihat bingung memahami apa maksud pertanyaanku.

“Yah! Ajari aku melakukan itu, Yah!” Pintaku.

“Melakukan apa?” Tanya Ayahku semakin bingung.

Dengan melempar senyumanku kepada Ayah. Aku langsung melangkah mendekati Ayah yang masih basah dengan hanya mengenakan celana dalam. Ku pegang dan ku raba-raba beda yang ada dalam celaa dalamnya, lalu ku katakan:

“Aku ingin ii, Yah!” Bisikku sambil melingkarkan lenganku di leher Ayah dan mencoba mencium bibirnya.

Ayah hanya terdiam melihat tingkahku yang aneh, tetapi beberapa saat kemudian ia menyambut ciumanku, lalu melingkarkan tangannya di pinggangku, sehingga tubuhku merapat ke tubuh Ayah. Dalam posisi itu, ku coba untuk menyelipkan jemariku masuk ke dalam celana dalamnya dan memegang benda yang sangat ku idam-idamkan sejak lama.

Sebagai lelaki normal, Ayah juga sepertiya tak mampu menahan dorongan birahinya ketika ada seorang wanita tanpa busana menggoda dan mengajaknya untuk bercinta. Ku rasakan penisnya mulai menegang. Saat itulah ku coba mengeluarkan benda itu dari celana dalam Ayah.

Desiran darah penuh nafsu, seakan mengalir kencang saat Ayah mulai memainkan jarinya di belaha vaginaku., yang berlanjut dengan permainan lidahnya yang membuatku lemas dan hampir tak mampu lagi berdiri dengan hanya dia kaki menopang tubuhku. Untungnya Ayah cukup kuat untuk menyambut tubuhku dan membaringkanku di lantai kamar mandi yang basah.

Dalam suasana birahi yang bergejolak, dan dorongan nafsu syahwat yang tak tertahankan, akhirnya Ayah dengan gaya setengah memaksa, ia membuka selangkanganku dan mulai mengarahkan batang penisnya ke lobang vaginnaku yang sudah terhidang sempurna dan tak perduli lagi pada status hubungan darah, asal nafsu tercurahkan.

Perlahan tetapi pasti, penis Ayah mulai memaksa masuk ke lobang vaginaku yang benar-benar masih perawan. Sanpai akhirnya, dengan sedikit tekanan memaksa, penis Ayah berhasil merobek mahkota keperawananku.

Hal pertama yang ku rasakan adalah inilah rasanya ketika penis mengisi ruang dalam vagina. Gesekan, tekanan, sentuhan, dan kehangatan yang tak bisa didapatkan dari hal lain selain benda yang hanya dimiliki oleh lelalki itu. Penis Ayah terasa sesak dalam lobang vaginaku. Gerakannya keluar masuk lobang vaginaku, seakan bersentuhan erat dengan dinding vaginaku terdalam.

Semakin lama gesekan-gesekan di dindig vaginaku itu semakin membuatku merasakan vaginaku semakin mengeluarkan banyka cairan, entah apa dan datang dari mana. tetapi cairan itu membuat gesekan semakin terasa licin dan memberi kenikmatan tersendiri. Aku tak lagi memikirkan anggapan bahwa laki-laki suka lobang yang kesat,. Yang ada dipikiranku, aku ingin segera mencapai puncak kenikmatan dengan penis yang sedang berada dalam vaginaku.

Tak menunggu berapa lama, puncak kenikmatan itu mulai terasa dan aku seakan terbang melesat medekatiya, dan…. “Ooohhh…!” Sebuah desahan melambungkanku ke alam yang penuh dengan kenikmatan. Sayangnya, saat itu, Ayah mengakhiri perjalananku di alam kenikmatan dengan sebuah hujaman keras yang menyadarkanku bahwa Ayah telah menumpahkan cairan sperma di dalam vaginaku.

Saat itu, kenikmatan langsung berakahir dengan rasa ketakutan akan hamil di luar nikah dan mengandung anak dari buah cinta Ayah. 

Hari demi hari ku jalani dalam rasa ketakutan dan harapan agar hal yag tidak diinginkan itu tidak akan perah terjadi. Meskipun sesaat setelah melakukan hubungan badan dengan Ayah, aku langsung berusaha mengeluarkan dan membersihkan cairan sperma Ayah dari lobang vaginaku. Tetapi kekhawatiran tetap tidak bisa ku buang dari pikiran.

Rasa ketakutan ini, membuatku berpikir jauh ke depan, memikirkan rencana apa yang akan ku lakukan ketika ini harus terjadi. Penyesalanku, adalah kenapa tidak dari sebelum melakukanya aku memikirkan jauh ke depan.

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

One response »

  1. Gatot Koco mengatakan:

    Kalau ada Perawan atau Janda yang CANTIK & PENGUSAHA KAYA RAYA …. yang mau tarik Aku buat jadi karawan dan selingkuhannya …di tunggu : koco_gatot@yahoo.com  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s