Oleh: Jaka

Aku adalah seorang duda. Namaku Jaka, usiaku 35 tahun. Istriku meniggal beberapa bulan yang lalu. Ia meninggalkanku dua orang anak dari buah perkawinan kami. Anak pertamaku, Rian. Kini ia berusia 7 tahun. Dan adiknya Ria, usianya baru 3 tahun, saat ditinggalkan istriku.

Membesarkan dua orang anak yang masih kecil memang cukup merepotkan, meskipun tempat tinggalku berdampingan dengan rumah mertuaku. Tetapi aku tak bisa mengharapkan bantuan mereka dalam mengurus kedua anakku, terutama si kecil. Ia ku titipkan di rumah mertuaku, saat aku pergi bekerja. Sedangkan Rian, ikut aku ke sekolah, karena ia bersekolah di tempat aku mengajar.

Di sekolahku, ada seorang guru yang belum menikah diusianya yang sudah memasuki kepala tiga. Aku tidak mengerti dan sekaligus juga tidak pernah mempertanyakan langsung, kenapa ia masih belum menikah di usianya yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi. Apakah ia memang tidak ingin menikah? Atau memang belum ada pria yang berminat untuk mengajaknya menikah? Kedua pertanyaan tersebut sepertinya teramat tabu untuk diungkapkan langsung padanya. Aku hanya bisa mengarang alasan ia belum menikah, mungkin karena orang memandangnya terlalu mapan sebagai seorang wanita, sehingga tidak ada pria yang berani mengungkapkan perasaannya kepada Siti Maulida, nama guru agama tersebut.

Sebenarnya, Siti adalah gadis yang lumayan cantik, bentuk tubuhnya bagus, walaupun perutnya agak terlihat gendut. Sebagai lulusan S2, wajar jika ia dikatakan guru yang pintar dan pandai bersosialisasi, para siswa dan guru-guru di sekolahku sangat menyukainya, begitu juga aku. Dalam perbagai permasalahan pekerjaan dan kehidupan, aku sering meminta pendapatnya, dan ia selalu memberiku sebuah solusi cerdas dan bijak yang kadang tidak pernah terpikir olehku.

Meskipun hanya seorang guru, tetapi ia lahir dari keluarga pedagang sukses yang boleh dikatakan kaya raya. Rumahnya besar dan pekarangannya luas yang dibangun oleh orangtuanya untuknya. Ia adalah satu-satunya guru di sekolahku yang berangkat mengajar dengan menaiki mobil.

Sebagai sosok wanita cerdas dan bijaksana, Siti termasuk pandai dalam menyembunyikan masalah yang dihadapinya. Ia selalu hadir dengan senyum, seakan ia tidak pernah memiliki masalah dalam hidupnya, termasuk dalam perkara jodoh yang belum kunjung datang menghampirinya. Menurutku, itulah sumber masalahnya. Sifatnya yang keibuan membuat Siti tidak pernah memberi kesempatan pada semua pria yang mencoba mendekatinya. Ia pandai dalam memilih cinta, tetapi tidak tahu bagaimana cara menerima cinta.

Sebagai seorang duda, keinginan untuk menikah lagi menjadi tambahan beban dalam pikiranku. Ingin mencari seorang wanita yang mau dan mampu mendampingi hidupku sekaligus mampu menjadi Ibu untuk anak-anakku. Ku pikir, Siti adalah wanita dewasa yang masuk dalam kategori sebagai calon istri.

Dalam suatu kesempatan, ku coba untuk menyampaikan keinginanku langsung kepada Ibu Siti untuk menikahinya. Ia tak mampu menjawab ajakanku, tapi ia hanya tersenyum dan menantangku untuk menghadap orang tuanya. Tentu saja itu bukan syarat yang berat bagiku. Aku serius ingin menjadikannya istri, dan meminta izin orang tuanya adalah hal yang memang harus ku lakukan.

Akhirnya, dengan ditemani Bapak Kepala Sekolah, aku bertamu ke rumah orang tua Ibu Siti. Dan tanpa banyak basa basi, aku langsung menyampaikan maksud kedatanganku. Mereka juga tidak langsung memberikan jawaban atas lamaranku. Tetapi mereka meminta waktu untuk membicarakan perkara lamaran tersebut dengan Siti dan kerabatnya yang lain.

Dalam perjalanan pulang, aku berpikir, jika Siti memang bersedia menjadi istriku, orang tua dan keluarganya yang lain pasti akan menyetujuinya. Orang tua mana yang suka membiarkan anak gadisnya menjadi perawan tua. Ada sebuah keyakinan bahwa Ibu Siti akan menerimaku sebagai suaminya, karena ia adalah wanita dewasa yang cukup bijak dalam mengambil keputusan. Selain itu, usianya yang sudah tidak muda lagi, akan menjadi faktor pendorong yang cukup kuat untuknya menerima lamaranku.

Pada hari yang dijanjikan, aku kembali datang ke rumah orang tua Ibu Siti, dan disambut ramah oleh beberapa orang kerabat Ibu Siti yang belum ku kenal. Mereka mungkin saudara-saudara orang tua Siti, dan mungkin saudara-saudara Siti. Tanpa harus membuka pembicaraan tentang perkara diterima atau ditolaknya lamaranku, aku langsung diberondong oleh beberapa pertanyaan seputar latar belakang kehidupanku, layaknya interview antara Pimpinan sebuah perusahaan terhadap calon karyawan barunya.

Cara mereka menyambutku di rumah mereka tergolong sangat kekeluargaan. Aku disuguhi minuman dan berbagai macam kue cemilan di atas meja tamu. Tawaran untuk menikmati makanan tersebut tak henti-hentinya mereka ucapkan disela percakapan yang terus mengalir dan mengorek semua perkara tentang kehidupan pribadiku, pekerjaan, anak, dan sebagainya. Sebagai seseorang tamu yang memiliki kepentingan dan belum menerima jawaban, ku anggap semua pertanyaan mereka itu sebagai bentuk seleksi calon anggota baru keluarga mereka. Aku tidak membuat-buat jawaban. Semua pertanyaan ku jawab apa adanya dan sesekali diselipi candaan ringan yang cukup mampu mendinginkan ketegangan.

Percakapan di ruang tamu berlanjut samapai makan siang, dan akupun diajak untuk makan siang bersama keluarga besar Siti. Dalam acara makan siang itu, Siti juga ada di sana, tetapi ia tidak terlihat seperti sosok Siti yang ku kenal di sekolah. Ia hanya diam dan ia hanya tersenyum sekali kepadaku, selanjutnya ia lebih banyak tertunduk dan menikmati makanannya. Sampai akhirnya, Ayah Siti mengatakan:

“Beginilah keadaan keluarga kami, Nak Jaka!”

“Kehangatan yang saya rasakan di sini, jauh lebih indah dari penolakan atas lamaran saya, Pak!” Jawabku mencoba memancing pembicaraan ke permasalahan yang sejak tadi belum tersampaikan.

“Hahaha…. Kami tidak pernah menolah siapapun yang datang dengan niat baik untuk masuk menjadi bagian dari keluarga kami.” Kata Ayah Siti, diikuti oleh senyuman dari beberapa anggota keluarga Siti lainnya, yang masing-masing sedang menikmati makanan yang ada.

“Jika memang lamaran saya diterima, kenapa tidak membicarakan tentang mahar saja, Pak?” Ungkapku.

“Jangan buru-buru, Nak Jaka! Pernikahan bukan perkara mahar. Tetapi tentang kesiapan kalian menjadi bagian dari keluarga pasangan kalian. Dalam keluarga kami, beginilah apa adanya kami. Dalam keluarga Nak Jaka, kami belum tahu. Apakah Siti juga bisa menjadi bagian dari keluarga besar Nak jaka atau tidak..!?” Jawab Ayah Siti cukup bijak.

Dalam sekali filosofis pada jawaban Ayah Siti tersebut. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Sambil terus menikmati makan siangku, aku memikirkan kata-kata beliau. Apakah keluargaku akan menerima kehadiran Siti dalam anggota baru keluargaku, terutama Rian dan Ria. Lebih dari itu, aku hidup di lingkungan keluarga almarhumah istriku, apakah mereka juga akan menerima Siti sebagai pengganti almarhumah istriku dan masuk dalam keluarga mereka. Aku bahkan tak mampu membayangkan jawabannya.

Sepulang dari rumah Siti, aku langsung ke rumah mertuaku untuk menjemput Ria. Sejujurnya aku masih belum berani untuk mengungkapkan keinginanku untuk menikah lagi pada mertuaku.

“Kamu dari mana, Ka?” Tanya mertuaku.

“Saya..!!!?? eee… Saya tadi ke rumah teman saya.” Jawabku berusaha menyembunyikan permasalahan sebenarnya.

“Tadi kamu bilang hanya sebenar. Kok siang baru pulang sih?” tanya Mama lagi sambil menyerahkan Ria ke pangkuanku.

“Ma! Jaka boleh bicara jujur sama Mama?” Kataku mencoba membulatkan tekat untuk terbuka dengan mertuaku.

“Ada masalah apa, Ka?” Tanya Mama balik.

“Ma! Tadi aku dari rumah Ibu Siti, guru di sekolahku juga. Dan aku berniat melamarnya?” kataku.

“Iya… Terus..!?” Kata Mama menunggu point yang menjadi permasalahan.

“Mama? Mama tidak kaget!? Atau marah!?” Tanyaku.

“Kenapa harus marah? Apa masalahnya?” Jawab Mama.

“Enggak, Ma! Masalahnya Jaka berniat membawa Siti ke sini, Ma!” Kataku lagi.

“Mama belum menemukan masalahnya apa…” jawab Mama sambil melangkah mendekati sebuah kursi rotan di pelataran rumahnya.

“Jaka hanya takut, Mama dan keluarga lainnya tidak bisa menerima kehadiran Siti dalam keluarga besar Mama.” Jawabku sambil duduk di sebuah kursi rotan lainnya.

“Jaka… Jaka! Kamu juga bukan anak kandung Mama, kan!? Kamu hanya mantan suami dari almarhumah anak saya. Tapi apakah pernah Mama mengeluarkanmu dari keluarga besar Mama setelah istrimu meninggal..!?” jawab Mama dengan cukup bijak.

“Jadi Jaka boleh mengajak Siti silaturahmi ke sini, Ma?” Tanyaku.

“Mama hanya berharap, dia bisa menjadi istri sekaligus Ibu yang baik untuk anak-anakmu, Jaka!” jawab Ibu.

“Mudah-mudahan, Ma!”

Dalam beberapa kesempatan, ku ajak Siti ke rumahku dan berbaur dengan keluarga besar Ibu mertua dari mantan istriku. Seperti yang ku kenal dia di sekolah, seperti itulah aku melihat Siti masuk ke dalam keluargaku. Sifat keibuan dan kepribadiannya yang pandai bersosialisasi membuatnya tidak butuh waktu lama untuk akrab dengan mertua dan kerabat lainnya. Rian yang sudah mengenal Siti lebih dulu sebagai guru di sekolahnya, bahkan meminta Siti untuk menginap di rumah. Ibu mertuaku yang kebetulah ada di sana langsung nyeletok:

“Kapan kamu akan menikahi Ibu Siti, Ka? Biar Ibu Siti bisa tiap hari nemenin Rian.” Kata Ibu mertuaku. Siti yang sedang menggendong anakku Ria, tersenyum malu dan tertawa kecil. Aku merasakan tidak ada halangan untuk aku segera menikahi Siti, kecuali perkara mahar yang tidak pernah disebutkan oleh keluarga Siti. Aku masih agak takut, mahar yang diminta akan lebih besar dari kemampuanku.

Akhirnya, dengan mengajak Ibuku, aku melamar Siti untuk kedua kalinya. Keluarga Siti tetap tidak menyebutkan jumlah mas kawin untuk menikahi Siti, anak bungsu mereka yang masih perawan. Ayah Siti bahkan menyerahkan perkara mahar sesuai dengan kemampuanku.

“Bagi Ayah, yang penting kamu dan Siti bisa bahagia membangun keluarga. Masalah mas kawinnya, sesuai kemampuan kamu saja, Nak Jaka!”

Resepsi perkawinanku dengan Siti Maulida diadakan tidak lama setelah proses lamaran kedua tersebut. Sebagai anak terakhir dari 5 bersaudara, Ayah Siti menyiapkan acara resepsi secara mewah yang tidak pernah sebelumnya kami rencanakan. Acara resepsi dilaksanakan di sebuah aula gedung dengan dekorasi yang sangat indah. Bagiku, mungkin hal itu terlalu mewah, tapi aku berharap, dana yang dikeluarkan untuk acara resepsi perkawinan kami itu tidak terlalu berlebihan bagi orang tua Siti.

 

Cerita di atas mungkin pengantar yang cukup panjang untuk menjelaskan perjalananku sebelum mempersunting Siti Maulida, M.pd. sebagai istriku. Sosok wanita keibuan yang mapan, mandiri, pintar, baik, dan cantik juga. Malam pertama untuk istriku adalah saat-saat yang juga ku tunggu-tunggu setelah menyandang status duda. Namun yang berbeda, malam itu aku ditemani oleh wanita yang berbeda.

Hari H yang cukup melelahkan membuat Rian dan Ria tidur lebih awal. Sedangkan aku dan istri baruku akhirnya dapat melaksanakan upacara malam pertama lebih cepat. Lelahnya seharian menjalani upacara resepsi yang mewah semoga tidak mengurangi indahnya malam pertama bagi Siti istriku.

“Sayang! Ini malam pertama kita, apakah kamu tidak merasa kelelahan untuk kita memulainya?” Tanyaku.

“Aku tidak tahu apakah malam pertama merupakan sebuah keharusan. Tetapi jika kita tunda besok, tentunya bukan malam pertama lagi, dong!?” Jawab Siti.

“Hehehe… betul juga, ya!? Hmmm…. Boleh kita mulai sekarang, Sayang?” Ajakku sambil meraih jemari tangan Siti.

“Sejujurnya aku merasa takut, dan agak gugup juga…. Ini malam pertama bagiku, tapi bukan bagi Abang.” Jawab Siti.

“Hmmm…. Kalau Abang juga boleh jujur, Abang sudah tidak tahan ingin merasakan kembali tubuh yang halal bagi Abang.” Kataku sambil menarik tubuh Siti ke dalam pelukanku dan mencium keningnya.

“Siti takut, Bang!” Kata Siti yang sepertinya tak mengerti cara menyambut pelukanku. Aku mencoba berpikir sesaat mencari cara agar Siti dapat menikmati malam pertamanya dengan baik.

“Sayang! Mungkin akan lebih baik jika Siti menghilangkan perasaan takut dan gugup dihati Siti…” Kataku.

“Bagaimana caranya, Bang?” Jawab Siti.

“Sini, ikut Abang…!!” Jawabku sambil meraih lengannya dan membimbing langkahnya menuju pintu kamar mandi yang ada di salah satu sudut kamar penganten kami. Siti dengan tenang mengikuti langkahku masuk ke dalam kamar mandi. Aku tahu, ia pasti merasa semakin gugup.

Dalam kamar mandi itu, aku mencoba melepaskan pakaian Siti satu persatu. Terlihat jelas bahwa Siti terperangkap dalam dua perasaan, antara malu mempertontonkan tubuhnya dihadapanku sebagai seorag pria, dan kehalalan seorang suami melihat menyentuh dan bahkan menyetubuhinya. Ku buka pakaian Siti satu persatu. Siti tak bergerak dalam posisi berdiri tegak. Ia bahkan tak mencoba membantuku mempermudahku dalam melepaskan pakaiannya. Kecuali saat aku mencoba menurunkan celana dalamnya. Secara reflek, tangannya mencegahku melepaskan celama dalamnya.

“Sayang! Izinkan Abang memadang seluruh tubuh istri Abang…” Kataku. Siti kemudian menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, dan sepertinya ia menangis. Aku urungkan niatku melepaskan CD yang dikenakannya.

“Sayang! Katakan padaku, apa yang membuatmu seperti ketakutan seperti ini…?” Kataku. Isak tangisnya semakin terdengar nyaring setelah aku mencoba bertanya. Ia sepertinya enggan untuk menjawab. Akhirnya, ku pegang tangan Siti yang menutup wajahnya dan ku bimbing ke bawah. Kemudian ku pegang lehernya dan ku dekatkan tubuhku ke dekatnya, lalu ku coba menenangkannya.

“Sayang! Aku suamimu, aku berhak atas seluruh tubuhmu. Tapi tidak ingin kau merasa diperkosa oleh suamimu sendiri… Nikmatilah setiap kegelian… percayalah ini tidak akan menyakitkan.” Bisikku sambil mengerak-gerakkan jempolku di pipinya. Siti membuka matanya lalu memelukku erat.

“Maafkan Siti, Bang! Siti tidak mengerti bagaimana cara menikmatinya…” Jawab Siti sepertinya mencoba menerima ajakanku.

“Izinkan Abang melepaskan seluruh pakaianmu, dan biarkan Abang memandikan istri Abang.” Kataku.

“Baiklah, Bang!” jawabnya sambil perlahan melepaskan pelukannya. Ku tatap matanya lalu ku dekatkan bibirku ke bibirnya, lalu ku cium bibirnya dan mencoba melumatnya. Ku rasakan Siti tidak bisa merespon ciumanku. Ia hanya diam membiarkanku menikmati bibirnya.

Ku coba untuk memahami bahwa wanita yang ada di hadapanku ini adalah seorang wanita yang masih bodoh dalam percintaan. Ku tepis rasa kekecewaanku atas respon dingin yang diberikannya. Ku turunkan tanganku menuju payudaranya dan ku coba sedikit meremasnya. Sebuah gerakan reflek, tiba-tiba telapak tangannya juga jatuh di atas payudaranya yang berada dalam genggamanku. Telapak tangan Siti menggengam lenganku, sementara itu aku terus meremas-remas payudaranya yang tidak terlalu besar.

Saat aku mencoba mencoba mengarahkan mulutku untuk mendekati payudaranya, kembali dengan reflek Siti seakan berusaha menahanku, tetapi ia seakan disadarkan bahwa aku adalah suaminya. Akhirnya dengan santai ku mainkan lidahku di puting payudaranya dan sesekali ku coba mengenyotnya. Siti terlihat mulai bereaksi dengan permainan di wilayah payudaranya ini.

Ku pindahkan serangan mulutku pada payudara kanan, kemudian kembali ke kiri, secara berulang-ulang selama beberapa saat, dan Siti sepertinya mulai merasakan kenikmatan saat payudaranya diremas, dikenyot dan dijilat. Gerakan-gerakan reflek tidak lagi ku rasakan. Ia hanya memegang kepalaku dan sesekali terasa mengacak rambutku. Mungkin itu sebuah ekspresi kenikmatan yang mulai merasuk ke dalam darahnya.

Saat aku sedang asyik menikmati payudaranya yang montok, tiba-tiba tubuh Siti yang tersandar di dinding kamar mandi bergerak menuruni dinding. Aku terkejut dan langsung ku tangkap tubuhnya.

“Kenapa, Sayang?” Kataku.

“Kaki terasa lemas, Sayang…!” Jawabnya. Aku tersenyum kemudian ku bantu Siti untuk duduk sambil bersandar di dinding kamar mandi.

“Aku yakin, kamu sudah mulai terangsang, Sayang…!! Vagina Siti juga pasti sudah banyak mengeluarkan pelumasnya.” Jawabku sambil meraih wilayah selangkangan Siti yang masih tertutup CD berwarna merah muda.

“Bang! Bisa bantu aku ke tempat tidur? Biar kita melanjutkannya di sana saja…” Ungkap Siti dengan nada lemas.

“Baiklah…!” Jawabku sambing memgendong tubuh Siti keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di ranjang penganten kami. Kemudian dengan sedikit isyarat mata, ku meminta izin Siti untuk melepaskan CDnya. Siti kemudian mengangkat pantatnya dan membiarkanku menurunkan CDnya hingga terlepas. Maka tampaklah pemandangan yang berbeda dengan bagian tubuh lainnya. Tubuh Siti yang putih dan bersih, ternyata menyembunyikan sebuah daerah yang ditumbuhi bulu hitam yang sangat lebat. Aku tak tahan untuk segera menyentuh wilayah itu. Ku baringkan tubuhku di sisi tubuh Siti sambil kembali mendekatkan wajahku ke wilayah payudaranya. Siti melingkatkan lengannya di leherku.

Tubuh Siti sepertinya mulai merespon kenikmatan yang mengalir di seluruh tubuhnya. Gerakan-gerakan tidak teratur seakan menjadi bentuk ekspresi kenikmatan yang dia rasakan. Kedua kaki Siti bergerak naik turun dan kadang membuka, lalu sesekali merapat. Saat itulah, jemariku mulai merayap menyusuri perutnya dan turun ke wilayah berbulu lebat. Namun kali ini, aku tidak langsung ke tujuan. Aku berbelok menyentuh dan membelai bagian dalam pahanya. Gerakan kaki yang tidak bertaturan masih terus berlangsung, sehingga aku dengan perlahan mencoba merayap ke wilayah pangkal paha, yang ternyata telah di dahului oleh tangannya. Dengan sedikit memaksa, ku geser telapak tangan Siti dari wilayah selangkangan itu dan akhirnya aku berhasil menyentuh bibir vagina Siti yang sudah sangat basah.

“Sayang! Memek Siti sudah sangat basah… Abang pastikan ini tidak akan sakit, jika Siti terus menikmati setiap sentuhan Abang…” Bisikku di telinga Siti sesaat sebelum aku bangkit dan berpindah posisi ke bawah selangkangannya. Ku pegang kedua lutut Siti dan ku buka pahanya. Sesaat ku tatap vagina Siti dan ku nikmati pemandangan luar biasa. Sebuah vagina yang belum tersentuh oleh kenikmatan dunia.

Kemudian ku turunkan wajahku dan menempelkan bibirku di bibir vagina Siti, lalu ku mainkan lidahku menyisir wilayah labia dan sekitarnya selanjutnya berakhir di clitorisnya. Kepalaku terjepit paha Siti, namun aku terus menjilati setiap tetes cairan yang mengalir dari lobang vagina Siti.

Semakin lama jepitan kaki Siti semakin lemah dan bahkan cenderung membuka lebar melebihi ruang yang ku perlukan untuk menempelkan wajahku di selangkangannya. Hingga tiba-tiba kaki Siti mengejang dan ia membalikkan tubuhnya ke samping. Permainanku di vagina Siti spontan terhenti. Aku bangkit dari posisiku dan kembali berbaring di sampingnya sambil memeluk tubuh Siti istriku.

“Bang! Seperti inikah nikmatnya malam pertama?” Katanya.

“Ya! Dan akan terus berlangsung sepanjang malam…” jawabku sambil mencium wajahnya.

“Tubuhku berulang kali melemas setiap kali kenikmatan memuncak, Bang!” Katanya lagi.

“Itu normal, Sayang! Lihatlah! Cairanmu membasahi sprai….” Jawabku sambil menunjukkan sprai di bawah daerah vaginanya yang sangat basah. Siti bangkit dan berusaha melihat sendiri wilayah yang ku tunjukkan padanya. Saat Siti sedang dalam posisi duduk, ku tarik tubuh bugilnya sehingga terjatuh ke atas tubuhku.

“Sayang! Sekarang saatnya Siti yang melihat tubuh Abang.” Kataku.

“Siti malu ah, Bang!” Jawabnya sambil melemparkan sedikit senyuman.

“Buang malumu itu jauh-jauh. Aku suamimu, dan Siti istri Abang. Bantu Abang melepaskan pakaian Abang, ya Sayang..?” Pintaku pada siti yang diikuti oleh sebuah senyuman dan anggukan kecil. Siti menarik napasnya kemudian mulai melepaskan kancing bajuku satu persatu. Aku mencoba mengambil posisi duduk dan membiarkan Siti melepaskan bajuku. Selanjutnya kuangkat tanganku agar Siti dengan memudah melepaskan kaos dalamku.

Aku kembali berbaring dan sedikit mengangkat pantatku dengan bertumpu pada kaki. Siti menatapku dan melempatkan sebuah senyuman kecil. Keningnya terangkat seperti ingin mengatakan, apakah celana juga harus dia yang melepaskan? Ku gerakan keningku sebagai jawaban ya.

Siti celanaku hingga terlepas, dan menatap bagian pangkal pahaku yang masih tertutup celaa dalam. Tak berapa lama kemudian, Siti menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku. Payudaranya kini menempel di dadaku dan kepalanya jatuh di samping pipiku, lalu ia berbisik manja kepadaku.

“Bang! Boleh Siti melihat burung Abang sebelum ia merenggut keperawanan Siti?”

“Tentu, Sayang! Jangankan sekedar melihat, memegang pun boleh…” jawabku.

Siti menyingkap CDku dan mencermati sebuah benda bulat panjang yang bersembunyi di dalamnya. Mungkin karena merasa kurang puas dengan hanya mengintip, Siti kemudian bangkit dan menurunkan CDku. Ia terlihat geli melihat penisku dan tersenyum ke arahku. Kemudian ia menyentuh penisku dengan jarinya dan kembali ia terlihat geli. Siti mengelus-elus penisku dan membuat penisku mengendut-endut dan menjadi semakin keras. Ia kemudian menggenggam penisku seperti mencoba mengukur deameter batang penisku, kemudian kembali menggenggam penisku dengan kedua tangannya. Ku perhatikan Siti yang sedang bermain dengan penisku, sepertinya ia sedang mengukur panjangnya.

Semakin lama Siti bermain-main dengan penisku, semakin keras penisku dibuatnya. Siti menatapku sambil memegang vaginanya, lalu seutas kalimat tiba-tiba meluncur dari bibirnya.

“Apakah muat?” Katanya.

“Entahlah….” Candaku.

“Aaah Abang..!! Serius niih!” Katanya sambil berpindah posisi duduk di samping tubuhku. Dengan posisi seperti itu, ku miringkan tubuhku ke arahnya dan ku masukkan telapak tanganku ke selangkangannya.

“Jika kamu terangsang dan mengeluarkan banyak pelumas, memekmu akan bisa menyesuaikan dengan sebesar apapun benda yang mencoba masuk ke dalamnya.” Jawabku mencoba mengurai teori yang sebenarnya aku tidak tahu benar atau salahnya. Ku coba memainkan jariku di bibir vagina Siti, dan ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang lalu mengangkangkan kedua kakinya. Melihat posisi itu, aku bangkit dan mencoba memainkan jariku di clitorisya.

Tak menunggu waktu lama, Siti terlihat kembali menerima positif rangsangan yang ku berikan. Cairan vaginanya mulai membuat daerah selangkangannya menjadi basah. Sebelum Siti kembali mencapai puncak kenikmatannya, aku berdiri dan menurunkan CDku hingga terlepas. Kemudia aku mengambil posisi di antara ke dua kakinya. Ku pegang batang penisku dan gesek-gesekkan di belahan vaginanya. Semetara itu, jariku masih bermain dengan clitorisnya. Siti sudah mulai bisa merespon setiap sentuhan sebagai rangsangan.

Kepala penisku menjadi basah oleh cairan vagina Siti. Ku pikir ini saatnya menikmati kembali vagina perawan istri keduaku. Ku hentikan permainan jariku di clitorisnya dan berkonsentrasi pada upaya menembus wilayah pertahanan Siti. Ku pegang penisku dan ku gerak-gerakkan di permukaan vagina Siti untuk mencoba mengambil posisi tepat di depan liang senggama.

Bulu lebat yang tumbuh di seluruh permukaan vagina Siti memberikan sensasi tersendiri. Berbeda dengan istri pertamaku yang mencukur bulu vaginanya saat malam pertama. Buku lebat yang tumbuh bahkan sampai wilayah anus tersebut terlihat seperti kumis dan jenggot saat belahan vagina terbuka oleh kepala penisku yang mencoba masuk dan memperlihatkan sisi dalam vaginanya yang berwarna merah muda dan basah.

Usahaku menembus keperawanan Siti ku mulai dengan mengambil posisi bertumpu pada satu tangan lurus dan tanganku yang satu memegang penisku dan mengarahkan ke lobang vagina Siti. Selayaknya seorang gadis perawan di malam pertamanya, Siti tak banyak bergerak. Namun ia mengangkangkan kakinya selebar-lebarnya seakan merelakan keperawanannya kepadaku. Sehingga aku lebih mudah melakukan tugasku untuk memberikan kenikmatan malam pertama untuk istriku.

Setelah beberapa saat, kepala penisku telah masuk di muara lobang vagina Siti. Bibir vaginanya terbuka dan ku pikir sekarang bukan waktunya menikmati pemandangan, tapi saat memulai aksi deflorasi. Ku letakkan tanganku di kedua sisi tubuhnya dan ku coba menurunkan pantatku untuk menekan batang penisku masuk lebih dalam di lobang vagina Siti. Dalam hal ini, Aku tak ingin mementingkan hasrat birahiku untuk segera merenggut keperawanan Siti, tetapi aku mencoba untuk membuat Siti menikmati setiap sentuhan penisku di dinding vaginanya.

Harus ku akui, vagina Siti begitu sempit. Ku coba terus menekan dengan hati-hati dan mencabut penisku kembali dengan perlahan, lalu terus mengulangi gerakan itu dan memberi sedikit tekanan lebih saat melakukan gerakan masuk, tetapi sempitnya lobang vaginanya membuat Siti seperti menahan sakit.

Aku harus bersabar menahan birahiku demi memberikan kepuasan pada Siti di malam pertamanya. Perlahan tetapi pasti, setiap tekanan yang ku berikan saat menerobos masuk ke liang vaginanya, setidaknya menunjukkan adanya kemajuan. Setengah dari panjang batang penisku telah berada dalam lobang vaginanya. Lalu ku tarik lagi dan ku masukkan lagi dan terus-menerus melakukan gerakan itu di lobang vagina Siti. Cairan vagina Siti yang melimpah tak memberikan pengaruh banyak terhadap usahaku menenggelamkan seluruh batang penisku di lobang vagina Siti.

Tiba-tiba kaki Siti terangkat kemudian jatuh lalu ia mengangkat pantatnya seperti orang kejang. Kedua kakinya tiba-tiba melingkar di pinggang hingga ke pantatku. Aku kesulitan dalam melakukan gerakan menarik penisku dari lobang vaginanya. Akhirnya ku pikir, Siti sudah sangat terangsang sepertinya ia menikmati besarnya penisku yang mengganjal di lobang vaginanya yang sempit. Jadi ku pikir ini saatnya untuk mencoba menekan lebih kuat agar penisku dapat amblas di lobang vagina Siti.

Ku coba memaksa untuk menarik penisku mundur, lalu maju perlahan dan menerobos sempitnya lobang vagina Siti dengan tekanan lebih kuat. Tak ku hentikan gerakanku memasukkan penis di lobang vagina Siti. Seiring dengan gerakan penisku yang terus bergerak memaksa masuk dan bergesekan dengan dinding vaginanya, ternyata menciptakan irama lenguhan dan desahan di mulut Siti…. “Ssshhhh…!! Oohhhhhh….!! Mmmhhhh…..!!” yang membuatku terus berusaha menyentuh pintu rahimnya. Hingga akhirnya, sebuah nafas panjang menandakan penisku telah sepenuhnya amblas di lobang vagina Siti.

“Sayang! Sakit ya…!!??” Tanyaku.

“selangkanganku terasa sesak, Bang! Ayo keluarin” Katanya.

“Nggak bisa… Memekmu sempit sekali, Sayang!” Jawabku.

“Aaah….!! Ayo Bang! Gesek, Bang! Siti mau terus, kalau begini enaknya…” Racauya.

Akhirnya, ku mulai aksiku menuntaskan birahiku. Ku tarik penisku dari lobang vagina Siti, lalu ku hujamkan lagi, ku tarik lagi, ku masukkan lagi, dan terus berulang dengan tempo yang semakin cepat. Sementara itu, Siti memegang kakinya yang mengacung ku angkasa dengan kedua tangannya, dan desahan yang menggairahkan tak henti keluar dari mulutnya….

“Ssshhhhh……!!! Ohhhhhh…..!!!”

Sempitnya lobang vagina Siti yang mencengkram batang penisku, membuatku tak mampu melakukan gerakan cepat seperti saat bercinta dengan istriku dulu. Cengkraman kuat dinding lobang vagina Siti itu pula yang membuatku tak mampu menahan air sperma yang sudah terasa menggumpal di pangkal penisku. Di puncak kenikmatanku ku keluarkan penisku dari lobang vagina Siti dan ku tumpahkan spermaku di atas perut Siti. Lalu ku hempaskan tubuhku berbaring di sampingnya.

Siti duduk dan memeriksa selangkangannya dan sprei. Ia tak menemukan adanya bercak darah. Sementara itu sperma yang ku tumpahkan di perutnya, mengalir turun dan terhenti di lebatnya bulu di permukaan vagina.

“Abang nggak ingin punya anak dari Siti, ya?” Katanya Siti yang duduk membelakangiku.

“Tentu Abang mau, Sayang! Kenapa nanya begitu?” Jawabku sekaligus balik bertanya.

“Ini..!!! Kenapa ditumpan di perut Siti, bukannya di rahim Siti aja.” Jawab Siti.

“Sayang! Lihat si kecil Ria, dia baru 3 tahun. Abang perlu Siti jadi sosok Ibu baginya. Jangan buat dia cemburu dengan kehadiran si kecil lagi.” Jawabku.

“Oh…! betul juga, ya Bang! Maafin Siti ya, Bang! Siti lupa kalau Siti itu udah punya dua anak.” Siti tersenyum dan membaringkan kepalanya di bahuku. Sementara itu, tangannya seakan begitu menikmati bermain-main dengan penisku yang lemas. Tak mau kalah, ku remas-remas payudaranya dan sesekali ku mainkan putingnya. Sampai akhirnya, penisku mulai berkedut. Darah yang mengalir deras seakan mengisi setiap urat syaraf di batang penisku. Menyadari batang penisku sudah bangun kembali, Siti menatapku dengan sedikit seyuman, lalu berbisik di teligaku:

“Sekarag apa?” Katanya. Ku tatap matanya dan langsung ku cium bibirnya.

“Mmmwuah! Sekarang saatnya babak kedua, Sayang!” jawabku sambil membalik dan menindih tubuhnya…..

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

2 responses »

  1. Hery mengatakan:

    Indah nya

  2. Hery mengatakan:

    Enak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s