Oleh: Wawan

Malu-Malu Gengsi, itulah mungkin peribahasa yang tepat untuk mewakili kesan pertama atas sosok temanku yang bernama Laila. Ia adalah gadis aktif yang senang dengan kesibukan, apakah itu yang bersifat komersial, maupun kegiatan sosial. Usianya sebenarnya sudah tidak bisa dikatakan gadis remaja, karena ia mendapatkan ijazah SMAnya sudah hampir 10 tahun yang lalu. Namun jika memandang sepintas dari wajahnya yang imut dan karakternya yang periang, Laila mungkin tampak seperti gadis berusia kuliahan.

Dalam pergaulan, Laila tidak pernah membatasi dengan siapapun ia berteman, tua atau muda, kaya atau miskin, pria atau wanita, tak pandang bulu. Maklum, ia adalah seorang wanita aktif yang memiliki kemampuan marketing yang cukup baik.

Mungkin karena terobsesi dengan kesibukan itulah, Laila bahkan melupakan usianya, dan hal yang seharusnya juga ia pikirkan untuk masa depannya selain, materi, dan status sosial. Kesibukan di berbagai kegiatan marketing dan kenikmatan yang didapatkan secara finansial, membuatnya tidak terlalu pusing memikirkan masalah jodoh.

Di usianya yang telah menginjak 28 tahun, Laila boleh dikatakan berhasil dalam mengelola keuangan pribadinya. Terbukti, ia mampu membayar angsuran kredit untuk 2 buah rumah di sebuah komplek perumahan elit. 2 buah rumah yang berdampingan itu, salah satunya ia jadikan sebagai kantor untuk berbagai bisnis yang ia jalankan.

Aku mengenal Laila pertama kali dari Facebook. Entah siapa yang mengajak berteman lebih dulu, aku lupa. Tapi yang pasti, ia sering memposting status dan gambar yang bersifat promosi produk yang ia jual. Gadis yang selalu terlihat mengenakan jilbab di setiap fhoto profilnya ini sangat gencar dalam promosi di media sosial.

Sampai pada suatu hari, aku tak sengaja melihatnya memposting gambar sebuah alat kesehatan alternatif, yang berbentuk mirip alat kelamin pria. Gambar alat kesehatan itu cukup menyita perhatianku untuk mengetahui lebih dalam tentang manfaat dan cara penggunaannya. Akhirnya, ku coba mengirim pesan facebook padanya:

“Laila, itu produk, buat apa?” Kataku.

“Produk kesehatan, Mas!” Katanya.

“Manfaatnya apa?” Tanyaku.

“Banyak, Mas! Mengobati keputihan, nyeri haid, iritasi vagina, bau tidak sedap, dan masih banyak lagi.” Jawabnya.

“Oh begitu ya? Melihat dari bentuknya, sepertinya produk itu dicelupin ke…(maaf) alat kelamin wanita, ya?” Tanyaku.

“Mmhhh… Dicelupin boleh, tapi bagi yang belum menikah cukup digosokkan dipermukaan saja. Mau ngorder, ya Mas?” Katanya.

“Ah, sayakan cowok, Mbak!” jawabku.

“Yah, siapa tahu mau membelikan buat istrinya, Mas!? Katanya lagi dengan bahasa marketing.

“Kalau saya beli’in alat itu, mungkin istriku malah tersinggung, Mbak?” Jawabku mencoba memancingnya untuk bertanya ‘Kenapa?’. Tetapi ternyata ku tunggu-tunggu, tak ada balasan lagi. Ku pikir, anak ini mampu menebak arah pembicaraanku. Jadi, akhirnya ku pikir sudahlah. Aku sign-out dari Facebook, dan melajutkan pekerjaanku.

*****************

Malam hari menjelang waktu tidur, ku charge baterai HPku dan ku letakkan di atas meja rias istriku. Namun tak sengaja, ku lihat ada pemberitahuan facebook, yang setelah ku buka ternyata pesan balasan dari Laila:

“Tersinggung, kenapa?” Katanya.

Aku tersenyum melihat pertanyaan Laila di dalam pesan Facebook itu. Ku abaikan saja pesan itu, karena istriku sudah memberi isyarat untuk memulai aktivitas malam kami. Aku cenderung tak pernah terlalu menuntut pada istriku untuk melayaniku melakukan hubungan suami istri, karena istriku juga termasuk wanita yang jujur dalam urusan seks. Ia tidak pernah malu untuk mengajakku melakukan hubungan intim, jika dorongan birahi menghampirinya. Menurutku, melakukan hubungan seks pada saat istri berhasrat, jauh lebih nikmat dibandingkan memaksakan melakukan hubungan seks sepihak.

Seperti malam itu, istriku mengenakan pakaian tidur berbentuk daster pendek setengah paha dengan lingkaran leher yang lebar hingga memperlihatkan setengah dari payudaranya. Seperti biasa, itu adalah kode bahwa istriku sedang berhasrat untuk melakukan hubungan intim. Dan ku pastikan di dalamnya ia tidak mengenakan BH maupun CD.

Jika aku menerima kode itu, maka aku akan mendatanginya ke tempat tidur hanya dengan mengenakan CD, dan istriku akan langsung melahap penisku dengan mulutnya, kemudian dia akan naik ke atas tubuhku dan menancapkan batang penisku di lobang vaginanya. Jika penisku sudah tenggelam sempurna, ia akan mulai bergoyang sambil melepaskan dasternya dengan gaya yang sangat seksi.

Jika ia mulai menari, penisku akan keluar masuk di lobang vaginanya yang basah. Aku akan membiarkan ia menikmati fantasinya hingga ia terlihat kelelahan. Saat itulah, aku akan memeluk tubuhnya dan berguling hingga posisiku menindih istriku. Sekarang saatnya aku menyelesaikan kegiatan malam kami. Aku akan memompa lobang vagina istriku sampai aku klimak, tak perduli istriku sudah kelelahan karenaberulang kali orgasme atau sebaliknya. Jika telah berada di puncak kenikmatan, aku akan menghujamkan batang penisku sedalam-dalamnya ke lobang vagina istriku dan menyemburkan spermaku di sana. GAME OVER

******

Sekitar jam 12an lewat aku terjaga, dan teringat HPku yang masih dicharge. Aku bangkit dari tempat tidur dan mencabut kabel charger dari HPku. Saat itulah aku teringat kembali pesan Laila yang belum terjawab. Lalu iseng ku ketik jawabanku yang tertunda oleh kegiatan malamku yang lain.

“Ya tersinggung dong! Alat itu kecil, sementara yang biasa dipakai istriku ukurannya besar. Hahaha….” jawabku.

Belum sempat aku meletakkan HPku, tiba-tiba….

“Tlong! Tlong! Tlong! Tlong!…….”

Masuk lagi pemberitahuan pesan baru. Ku buka dan ku baca, ternyata Laila membalas pesanku berturut-turut.

“Hahaha…..!”

“Berarti istri Mas senang yang besar, ya?”

“Nanti saya mau nyari alat yang agak besaran juga ah!”

“Siapa tahu laku…”

“Hahaha…”

Begitu pesan bertubi-tubi yang ia kirim, sepertiya juga berusaha memancingku. Mengingat saat ini adalah tengah malam, dan Laila belum tidur, maka aku mencoba berkonsentrasi untuk masuk ke sessi chatting di Facebook. Ku kenakan CDku yang tadi dilempar istriku ke lantai kamar, lalu ku selimuti istriku yang kelihatannya tertidur nyenyak masih tanpa mengenakan busana. Aku tinggikan bantalku dan mulai ku mainkan jempolku untuk merangkai kalimat-kalimat balasan.

“Kalau dapat yang agak besaran, saran aku, nggak usah dijual…” kataku.

“Lho kenapa? Kalau banyak yang suka, kenapa enggak?” jawabnya.

“Sebab aku yakin Laila juga suka yang agak besaran itu…” balasku.

“Wah… Laila nggak bisa jawab nih! Soalnya belum pernah nyoba’in sih! Hehehe…” Katanya terlihat menggoda. Aku mulai berpikiran, gadis dengan fhoto profil berkerudung ini juga bisa horny.

“Aku punya 1 yang agak besaran. Mau?” Kataku.

“Dijual, ya? Hehehe…” Katanya.

“Nggak dijual sih, tapi boleh deh coba gratis buat Laila… Siapa tahu minat” Kataku.

“iiih takut…! ntar keperawanan Laila sobek deh!” Jawabnya semakin mengoda.

“Ngaak usah dimasukin, dipermukaannya saja!” Jawabku.

“Ah Mas! COPAS bahasa Laila, tuh…!!” Katanya.

“Enggak, ini serius! Kalau Laila mau, aku kasih deh….” Sanggahku lagi.

“Enggak usah deh Mas! Nanti istri Mas marah…!” Jawabnya.

“Gini aja deh! Jika Laila minat, kirim alamat Laila ke aku, ya! Nanti aku kirim….” Jawabku.

“Serius nih mau di kirim barangnya..!!? hehe…” Katanya.

“Iya barang di kirim, aku yang ngantar…” jawabku.

“Gini aja deh, Mas! Alamat Laila ada di profil. Barangnya boleh Mas kirim, tapi nggak usah di antar… Nanti Laila bisa kok nyoba sendiri…” Katanya.

Ku pikir cewek satu ini agak malu-malu kucing, malu tapi mau, mau tapi jaim. Jaga image sebagai seorang cewek berjilbab, masa sih mau menerima tawaranku? Kemudian ku cek seluruh informasi profil Laila. Ku ketahui, ternyata ia tinggal di sebuah komplek elite tak jauh dari rumahku. Dari fhoto-fhotonya, sepertinya ia juga tinggal sendiri di rumah itu.

“Besok jam berapa Laila ada di rumah?” Tanyaku.

“Laila selalu ada di rumah.” Katanya.

“Pagi besok, bisa?” Tanyaku lagi.

“Serius nih Mas mau di antar barangnya?” Laila balik tanya.

“Iya, serius…!” jawabku.

“Barangnya besar, nggak? Kalau besar, biar pagi aja diantarnya, Mas! Nanti karyawan saya yang bantu ngangkatnya.. Hehehe…” Jawabnya dengan nada bercanda, tetapi ia tetap membuka akses untukku. Lalu ku jawab:

“Lumayan besar, untuk ukuran gadis perawan seperti Laila… Hehehe… Tapi ringan kok! Laila sendiri aja bisa ngangkatnya, Ngaak usah minta bantuan karyawan deh!” Kataku.

“Tahu dari mana Laila masih perawan?” Tanya Laila.

“Status di FB, Single” Jawabku.

“Single, artinya perawan, ya Mas?” Katanya.

“Single artinya sendiri, Nduk! Orang yang masih sendiri besar kemungkinan masih perawan.” Jawabku agak sedikit kesal di ajaknya berputar-putar.

“Kalau alat yang mau dikirm besok itu, nggak bikin hilang keperawanan kan, Mas?” Tanya Laila lagi. Aku tersenyum puas. Laila sepertinya ingin menyampaikan bahwa besok aku harus mendatanginya membawa penisku. Kumudian ku balas:

“Tergantung….!” jawabku.

“Tergantung apa, Mas?” Tanya Laila.

“Posisinya tergantung di selangkangan… Hahahaha” Jawabku

“di hukum gantung, ya Mas!? Mati dong…!?” Katanya mencoba menggodaku lagi.

“Mati sih…!! Tapi ada yang bisa menghidupkannya lagi…” Jawabku.

“Dukuuun…!! Iya kan?” Jawabnya menebak.

“Bukan!” Jawabku.

“Terus siapa?” Tanyanya lagi.

“Inisialnya V” kataku.

“Valentino Rossi?” Katanya.

“Bukan!” kataku.

“eemmmh…! Vivian Chaw?” Katanya lagi.

“Bukan juga!” Jawabku.

“Terus siapa dong!?” Laila balik bertanya. Meskipun aku tahu Laila mengerti maksudku dan tahu jawaban sebenarnya, tetapi ia berusaha memancingku untuk menjawab sendiri pertanyaannku. Dasar cewek ini, gengsi banget mengakui hasratnya. Beda dengan istriku yang jujur dalam urusan seks. Akhirnya, ku jawab saja:

“Namanya VAA GII NAA, tinggalnya di bawah perut Laila..!! Hahahaha….” Jawabku dengan pulgar, karena Laila pura-pura dalam perahu, Kura-kura nggak tahu.

“Hahaha….. Kesel, ya Mas?” Tanyanya Lagi mencoba mendinginkanku lagi, dan Chatting kami berlanjut sampai baterai HPku low lagi. Ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi. Aku sangat terkejut dan langsung ku charge lagi HPku dan ku tinggalkan percakapan dengan Laila dan ku lempar kembali CDku, lalu melangkah masuk ke dalam selimut mendatangi tubuh istriku yang masih bugil. Tanpa pemanasan dan tanpa membangunkan istriku, langsung ku buka selangkangan istriku, lalu ku masukkan penisku ke lobang vaginanya. Istriku terbagun dan membiarkanku menyalurkan hasrat birahiku yang terangsang oleh chatting panjang dengan Laila.

Seperti ku katakan sebelumya, making love sepihak tidak senikmat melakukannya dengan pasangan yang juga berhasrat. Akhirnya, ku akhiri permainanku dengan pura-pura mencapai orgasme. Lalu aku jatuhkan tubuhku  di atas tubuh istriku dengan penis masih menancap di vaginanya. Beberapa saat kemudian, istriku berbisik:

“Mas! Kalau lelah nggak usah dipaksakan…”

“Kenapa, Sayang?” Bisikku membalas.

“Burung Mas masih tegang tuh…” Katanya lagi.

“Iya! Mas lagi pingin banget, Sayang…” Jawabku.

“Biar ku bantu ya, Mas!” Katanya sambil memintaku turun dari atas tubuhnya. Perlahan ku baringkan tubuhku di sampingnya dan istriku mulai mengambil posisi Sixty Nine, da ia mulai mengulum penisku. Aku yang disuguhi sebuah vagina di hadapan mataku tak tahan untuk membiarkannya menganggur. Lalu pegang pantatnya dan ku lumat vaginanya. Permainan babak kedua dimulai. Vagina istriku mulai mengeluarkan cairan lubrikasinya, sementara peniskupun juga semakin menegang.

Setelah beberapa saat, istriku mengganti posisi. Ia duduk di atas perutku dengan psosi membelakangiku dan memegang penisku dan mengarahkan ke lobang vaginanya. Kemudian ia menurutkan pantatnya perlahan, sehingga penisku kembali masuk ke lobang vaginanya dengan perlahan. Pada saat seluruh batang penisku tenggelam di lobang vaginanya, istriku bukannya bergoyang seperti biasanya, tetapi ia malah membaringkan tubuhnya di atas tubuhku, kemudian membimbig tanganku ke payudaranya. Tangaku masuk ke wilayah payudaranya melalui bawah lengannya. Akhirnya, ku remas-remas payudara istriku seirama dengan gerakan pantatku yang berusaha menggerakkan penisku keluar masuk lobang vaginanya.

Posisi ini seperti posisi Doggy Style sambil berbaring terlentang. Istriku seperti menikmati serangan dari belakang seperti ini. Tapi aku kesulitan menggerakkan penisku. Akhirnya, ku pelut tubuh istriku dan mencoba berguling tanpa melepaskan penisku yang masih tertancap di vaginanya. Dengan posisiku di atas tubuh istriku yang terbaring tiarap, akhirnya kembali ku susupkan kedua tanganku ke dadanya dan kembali meremas-remas payudaranya seirama dengan gerakan penisku di vaginanya.

Serangan dari belakang seperti ini,vagina istriku seperti menjepit kencang. Vagina istriku terasa begitu sempit dan aku sangat menikmati gesekan batang penisku di dindig vagina istriku yang sudah semakin banjir. Berulangkali ia mencoba mengangkat pantatnya dan membuka pahanya, tetapi ku tahan. Sampai akhirnya, detik-detik orgasme mulai menghampiri, maka langsung saja ku hujamkan penisku sedalam-dalamnya di lobang vagina istriku dan menumpahkan spermaku di dalamnya.

Aku terkulai lemah dan jatuh di atas tubuh istriku. Dinginnya subuh ini tak mampu menghapus hangatnya suasana dalam kamarku. Keringat mengalir di sekujur tubuhku sebagai bukti sebuah kerja kerasku dalam mendaki puncak kenikmatan bersenggama. Istriku sepertinya juga berhasil mencapai puncak orgasmenya. Detaka jantung dan naik turun nafasnya mengungkapkan sebuah kepuasan yang tak terucapkan. Beberapa saat setelah persetubuhan selesai, istriku hanya terkulai lemah dan tak mengatakan sepatah katapun. Matanya terpejam sambil mencoba mengatur nafasnya kembali.

Aku mencoba bangkit untuk berguling dan menjatuhkan tubuhku di samping tubuh istriku dengan sisa tenaga yang ku miliki. Ku tatap wajah istriku dan ku lemparkan sebuah senyuman padanya saat ku lihat ia mulai membuka matanya. Ia pun tersenyum kepadaku lalu mencoba mengangkat tubuhnya dan kembali ambruk di dadaku.

“Sayang….” desah istriku dengan suara lemah.

“Mmh…” jawabku.

“Nikmat sekali…” Ungkapnya sambil kembali menutup matanya. Aku tak mengatakan apa-apa kecuali melingkarkan tanganku ke tubuhnya dan memberi sebuah kecupan di dahinya. Rasa lelah bercinta membuatku kembali tertidur sambil memeluk tubuh istriku di atas tempat tidur yang acak-acakan dalam keadaan sama-sama bugil.

Saat aku terjaga, istriku sudah tidak ada di sampingku. Aku menemukan tubuhku yang masih bugil dengan penis tegang seperti tiang bendera. Benar-benar seperti tiang bendera, karena ternyata istriku menggantung celana dalamku di batang penisku yag tegak. Aku tersenyum melihat ulah istriku tersebut dan langsung bangkit menuju kamar mandi untuk memulai kembali hariku.

*********

Pagi itu, aku berangkat ke kantor dan minta izin pada pimpinan untuk menemui klien di rumahnya. Dengan izin pimpinan aku melangkah bebas ke luar dari kantor untuk mencari klien yang ku maksud yang tidak lain adalah si Laila teman chattingku tadi malam.

Bermodal informasi data di akun facebooknya, serta referensi fhoto lokasi yag juga ada di akun facebooknya itu, aku mencoba mencari tempat tinggal Laila. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku menemukan sebuah rumah yang lumayan mewah dengan sebuah papan nama besar di depannya persis seperti sebuah background fhoto selpie di akun facebook Laila. Dengan langkah pasti ku masuki pagar yang terbuka dan aku di sambut oleh seseorang di depan pintu.

“Nyari siapa, Pak?” Kata orang itu.

“Bisa ketemu dengan Laila?” Tanyaku.

“Ibu Laila, maksudnya?” Kata orang itu, yang sepertinya adalah seorang karyawan atau mungkin pembantu Laila.

“Iya Benar!” jawabku.

“Sudah bikin janji, Pak?” Tanya orang itu lagi.

“ya!” Jawabku.

“Silahkan masuk, Pak!” Katanya mengajakku masuk.

“Terima kasih!” Jawabku sambil mengikuti langkahnya melewati pinde depan rumah yang berubah fungsi menjadi kantor tersebut.

“Silahkan duduk dulu, Pak!” Kata seorang perempuan berjilbab dengan kacamata kecil yang duduk di depan sebuah meja komputer yang penuh dengan berkas di hadapannya.

“Ya terima kasih!” Jawabku sambil mengatur posisi untuk duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan depan kantor tersebut.

Tak berapa lama, tiba-tiba keluar seorang wanita berpenampilan sangat anggun mengenakan kerudung panjang yang senada dengan warna gamis yang dikenakannya. Aku terpana melihat wanita itu yang tidak lain adalah Laila teman facebookku yang menemaniku chatting Hot tadi malam. Wajahnya yang cerah dengan senyuman manis tak menunjukkan bahwa tadi malam ia bergadang sampai subuh bersamaku.

Ia melangkah anggun mendekatiku lalu menyalamiku, kemudian duduk di sisi lain dari fota yang ada di ruang itu. Dalam keterpanaanku melihat sosok di depanku, aku tak tahu apakah aku harus melanjutkan niatku, atau mengurungkannya dan mengganti dengan penawaran produk dari perusahaanku. Tetapi Laila sepertinya mengerti dengan kebingunganku. Dia hanya tersenyum lalu berkata:

“Beginilah keadaan kantor saya, Pak!” Katanya merendahkan dirinya.

“Ibu terlalu merendah. Ini sangat luar biasa, Bu! Menyewa rumah sebesar ini untuk kantor tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit, ya kan, Bu?” Jawabku mencoba merespon.

“Iya, Pak! Makanya saya nyicil saja…” Jawab Laila dengan bahasa yang sangat indah untuk membantah statementku.

“Oh, kantor ini kredit ya, Bu? Jadi… bukan nyewa?” Tanyaku lagi.

“Iya, Pak! Kalau beli, nggak cukup duitnya, Pak!” Jawab Laila masih dengan menggunakan bahasa merendah.

“Kalau kredit itu artinya, bangunan ini milik Ibu pribadi dong?” Tanyaku.

“Belum, Pak! Sertifikatnya masih belum di tangan saya…” Jawab Laila.

“Ah, Ibu ini, bisa saja bercanda…” kataku sambil sedikit menahan tawa.

“Tapi permintaan saya yang kemaren, bukan bercanda kok, Pak?” Tiba-tiba Laila mulai mengalihkan pembicaraan. Tetapi aku masih belum berani memastikan, apa yang dia maksud.

“Kemaren…!?” Tanyaku agak bingung memahami maksud dan arah pembicaraannya.

“Iya, yang kemaren…” Ungkap Laila berusaha mempertegas maksudnya. Aku jadi berpikir, jika yang dia maksud ‘Kemaren’ itu adalah Chatting tadi malam, maka apa yang harus ku jawab. Sementara di ruangan ini saja ada beberapa karyawan yang sedang bekerja. Sampai tiba-tiba, ia mengedipkan salah satu matanya. Aku langsung beraksi seakan-akan mengerti.

“Oooh ya! Jadi gimana, Bu?” Ungkapku agak bingung harus mengatakan apa.

“Bapak bawa barangnya, Pak?” Tanya Laila lagi.

“A.. a.. ada, Bu!” Jawabku semakin bingung. Apakah Laila ingin mempermalukanku di hadapan seluruh karyawannya dengan memintaku menunjukkan barang yang dimaksudkannya yang tidak lain adalah penisku.

“Baiklah, Pak! Mungkin sebaiknya kita langsung ke ruangan saya saja, ya?” Ajaknya.

“Baik…!” Jawabku agak nervous dibuat Laila. Aku bangkit dari tempat dudukku dan melangkah mengikuti Laila menuju ke sebuah kamar di bagian belakang rumah tersebut, yang dipermak menjadi ruang kerja pribadi Laila.

“Silahkan masuk, Pak!” kata Laila sambil membukakan pintu ruang kerjanya.

“Silahkan, Bu!” Jawabku mempersilahkan Laila masuk lebih dulu. Laila melangkah masuk dan aku mengikutinya. Tercium olehku harus wangi-wangian yang tak ku kenal pada pakaiannya. Wanginya sangat menggoda untuk seorang wanita berpenampilan anggun dengan pakaian tertutup yang mampu menyembunyikan lekuk-lekuk tubuhnya.

“Silahkan duduk, Pak!” Laila mempersilahkanku duduk di sebuah kursi yang ada di depan meja kerjanya. Ia melangkah mengelilingi meja kemudian duduk di kursi yang ada di belakang meja kerjanya. Kemudian ia kembali bertanya padaku.

“Boleh saya lihat barangnya, Pak?” Kata Laila. Aku bingung memahami memek wajahnya. Apakah ia serius ingin melihat penisku, atau ia memahami alat yang ku maksud itu memang benar-benar sebuah alat kesehatan seperti yang ia pasarkan.

“Ibu, serius? Atau hanya ingin mempermainkan saya?” Tanyaku agak kesal pada keadaan yang sedang ku hadapi. Tetapi Laila sepertinya tetap tenang menghadapiku. Ia tersenyum padaku, lalu berdiri dan melangkah mendekatiku. Kemudian dia duduk merapat di sampingku dengan anggunnya. Ia kemudian berkata dengan nada agak rendah.

“Mas! Saya serius, Mas!” Katanya kepadaku. Laila tidak lagi memanggilku ‘Pak’ tetapi ‘Mas’. Ini seakan mengisyaratkan bahwa barang yang ia maksud memang penisku. Aku menatap matanya sedalam-dalamnya berusaha menyelami maksud perkataannya. Senyuman manisnya kembali ia lemparkan padaku bersamaan dengan jatuhnya telapak tangannya di atas pahaku. Aku sangat terkejut dan menjadi semakin nervous dibuatnya.

“Mas! Saya serius kok mau nyoba barangnya…” Bisiknya lagi.

“Di sini?” Tanyaku untuk meyakinkan bahwa yang ia maksud memang benar penisku.

“Boleh…” Jawab Laila.

Aku kemudian berusaha membuka celanaku dan berusaha mengeluarkan penisku dari persemayamannya. Laila sepertinya tidak terlihat gugup menungguku mengeluarkan penisku. Ia terlihat tetap tenang sambil memperhatikan tiap gerakanku mulai dari melepaskan kancing celana, menurunkan resliting dan menyingkap celana dalamku, sampai akhirnya barang yang ku maksud terbuka dari bungkusnya.

“Mati, ya Mas?” Tanya Laila melihat penisku yang memang sedang tidak ON karena nervous berat dibuatnya.

“Iya!” Jawab ku.

“Bagaimana kalau saya panggilkan seseorang yang berinisial V…!?” Kata Laila.

“Siapa? Valentino Rossi atau Vivian Chaw..!!?” Jawabku sambil tersenyum mencoba mengingat percakapan tadi malam?”

“Bukan, Mas! Namanya VAA GII NAA….” Jawab Laila seperti menirukan intonasi dalam text Chatting kami tadi malam. Aku tertawa kecil mendengar cara dia mengucapkannya.

“Boleh,,, Dia ada dimana sekarang?” Tayaku menggoda.

“Dia ada kok di sini… di selangkangan Laila!” Jawabnya masih dengan menirukan kata-kata dalam Chatting panjang tadi malam. Laila kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu dudk di atas meja yang ada di depanku, lalu ia mengangkat gamisnya dan mempertontonkan wilayah selangkangan yang tertutup legging.

“Residivis ya? Kok Wajahnya ditutup topeng….” Kataku menggoda. Laila hanya tersenyum lalu kembali ia menurunkan gamis panjangnya.

“Katanya si V bisa menghidupkan barang Mas?” Katanya seraya melangkah menuju sebuah pintu di belakang ruangan tersebut.

“Pasti bisa, kalau ggak pakai topeng….” jawabku sambil berdiri dan berusaha memasukkan kembali penisku ke tempat persembunyiannya.

“Mau ikut saya, Mas?” Ajak Laila sambil menoleh padaku saat ia memegang gagang pintu. Ku pikir ia mengajakku ke kamar kecil.

“Boleh, nanti saya menyusul…” Jawabku dengan nada bercanda.

Laila membuka pintu itu, yang ternyata bukan pintu menuju ke kamar mandi seperti perkiraanku. Tetapi terlihat olehku sebuah tangga besi melingkar dan Laila terlihat menaiki tangga itu. Aku merasa penasaran, kenapa ia mengajakku ke suatu tempat yang dituju oleh anak tangga itu. Akupun melangkah cepat menuju pitu itu sambil merapikan posisi penisku yang baru saja kumasukkan kembali ke dalam celanaku.

Pikiran kotorku mengatakan tangga itu menuju sebuah ruangan khusus yang lebih pribadi. Boleh jadi sebuah ruangan khusus untuk bercinta. Aku sempat berpikir bahwa di balik keanggunan Laila dengan hijab yang menutupi seluruh tubuhnya, ia adalah seorang yang gemar melakukan hubungan seks dengan tamu-tamunya, termasuk aku. Bahkan sempat terpikir olehku, bahwa bisnis yag dijalankannya hanyalah topeng untuk menutupi praktek prustitusi yang dijalankannya. Bagaimana mungkin usaha pemasaran produk-produk kesehatan seperti itu memiliki omset sebuah kantor di perumahan elit seperti ini.

Aku melangkah menaiki setiap anak tangga berputar yang sepertinya berada di sisi luar kantor yang menghubungkan dengan ruangan lain pada rumah yang berbeda. Sesampainya aku di ujung anak tangga, aku kembali berhadapan dengan sebuah pintu tertutup. Ku coba melihat ke sekelilingku. Benar ternyata, tangga itu adalah penghubung antara dua bangunan, rumah yang dijadikan sebagai kantor, dan bangunan rumah di sebelahnya yang ada di balik pintu ini.

Ku buka perlahan pintu itu dan terlihat sebuah ruangan yang luas dan mewah yang lebih mirip kamar berkelas President Suite pada sebuah hotel berbintang 5. Aku terpukau menyaksikan kemewahan yang dipamerkan Laila kepadaku. Laila berdiri di tengah ruangan itu degan anggunnya sambil tersenyum padaku, seakan ia ingin menunjukkan padaku betapa mewahnya ruangan itu.

“Waw! Ini luar biasa, Laila! Ruangan apa ini?” Tanyaku.

“Ini kamar tidurku, Mas!” Katanya.

“Ini mewah sekali… Seperti President Suite Room saja…!!” Ungkapku masih mengagumi ornamen dan perabot yang ada di dalam ruangan besar itu yang ternyata diakuinya sebagai kamar tidurnya.

“Jangan lihat semua kemewahan ini. Sekarang lihatlah aku…!” Kata Laila yang terlihat berusaha membuka resliting di bagian belakang baju yang di kenakannya. Aku hanya terdiam dan berusaha mencari posisi yang bagus untuk menyaksikan detik demi detik yang akan terjadi kemudian. Ada sebuah sofa kecil yang menghadap ke TV LED. Aku menghempaskan tubuhku di sofa itu. Sementara itu, Laila telah berhasil membuka reslitingnya, tapi ia tidak lantas menanggalkan pakaiannya. Ia melangkah mendekatiku sambil melepaskan kerudung panjang yang menutupi kepalanya.

Akhirnya, aku dapat melihat rambil Laila yang panjang sepinggang dan agak ikal bergelombang terurai lepas. Tak ku sangka, Wajah Laila begitu Ayu tanpa kerudung. Di depan ku kemudian ia menurunkan gamisnya dan terjatuh ke lantai di hadapanku. Sehingga ku nikmati tubuh Laila yang putih bersih dengan bentuk tubuh yang sagat indah ternyata tersembunyi di balik keanggunan kerudungnya. Sepasang payudara bulat tampak mengisi ruang yang ada di BH abu-abu yang dikenakannya. Sementara Legging yang tadi ia tunjukkan padaku di ruang kerjanya masih menutupi wilayah selangkangannya. Meskipun begitu, aku telah dapat melihat indahnya setiap lengkungan tubuh Laila yang ku kenal di FB sebagai gadis berhijab yang anggun.

Kemudian Laila menurunkan dan melepaskan leggingnya, maka tampaklah sebuah CD kecil berenda berwarna abu-abu dengan tali pinggang yang kecil dan hanya menutupi sebagian kecil dari wilayah selangkangannya. Laila kemudian duduk di bahu sofa yang ku duduki, lalu berkata.

“Apakah Mas ingin aku melepaskan sisanya?” Tanya Laila.

“Jika Laila tidak keberatan?” Jawabku.

“Laila tidak keberatan kok! Tapi apa untungnya bagi Laila..!!?” Katanya. Aku merasakan adanya sebuah modus dari tindakan dan rayuan yang dilakukan Laila padaku sejak tadi malam hingga saat ini. Akhirnya ku coba untuk bertanya.

“Berapa bayaran yang biasa Laila terima untuk ini semua?” Kataku.

“Tentu saja sesuai dengan kemewahan ruangan ini, Mas!” jawab Laila.

“Berapa itu?” Tanyaku lagi seperti sedang bernegosiasi dengan seorang PSK.

“Yaah, 10 aja deh buat Mas!” Katanya.

“10 juta?” Tanyaku.

“Iya, Mas! Tapi karena Mas baru sekali, Laila kasih gratis…” jawabnya sambil menarikku ke tempat tidur. Aku bangkit dari tempat dudukku dan mengakah menikutinya menuju tempat tidur. Yang ada dalam pikiraku sekarang bukan lagi tentang kenikmatan seks. Tetapi rasa tidak percaya, Laila dapat menyembunyikan kenakalannya di balik kerudungnya.

Laila membaringkan tubuhku di tempat tidur empuk itu dan naikke atas tubuhku sambil melepaskan kancing bajuku satu persatu tanpa terburu-buru. Ku tatap wajahnya. Laila memang memiliki wajah yang sangat cantik. Tubuhya putih bersih, dan bentuk tubuhnya begitu indah. Ku pikir siapapun yang melihat tubuhnya akan mengaguni tiap lekuk tubuhnya yang indah ini, bentuk payudara, ukuran pinggang, perut, dan pinggulnya sangat proporsional. Yang lebih menarik perhatianku adalah gundukan di dalam celana dalamnya itu pastinya juga kencang terawat seperti bagian tubuhnya yang lain.

Dalam keterpanaanku mengagumi kecantikan Laila, tak terasa, aku telah telanjang dada. Laila mulai melancarkan aksinya melepaskan celana panjangku. Di bukanya kancing dan resliting celanaku, lalu dicobanya untuk menurunkan tanpa memintaku mengangkat pantatku. Ketidak sanggupanku menolak ajakan birahiku membuatku beraksi mengangkat sedikit bagian patatku dan membiarkan Laila melepaskan celana panjangku.

“Mas! Mau foreplay dulu atau langsung check-in?” Katanya.

“Mas nggak mau apa-apa Laila. Ini tidak seperti yang aku bayangkan…” Jawabku mencoba menghindar dari masalah yang mungkin akan keputusanku.

“Sudah sejauh ini, kenapa harus mundur?” Katanya sambil tetap duduk di atas tubuhku dan mencoba melepaskan Bhnya.

“Aku masih memiliki istri yang dapat menjadi tempatku mendapatkan kenikmatan seks.” Jawabku mecoba menolak birahiku sendiri yang semakin kuat saat melihat sepasang payudara putih dan montok menempel sempurna di dadanya. Sama sekali tidak terlihat menggantung meskipun ia masih dalam posisi tegak.

“Mas! Mungkin ini akan mengubah pikiranmu, Mas!” Laila melepaskan ikatan tali CD yang ada di kedua sisi pinggulnya. Akibatnya, kain penutup selangkangan itu jatuh dan terjepit di antara vagina dan perutku. Kemudian Laila mengangkat sedikti tubuhnya dan membuang CDnya ke lantai.

Laila bangkit dari posisinya dan berpindah menduduki leherku. Vagina yang putih bersih seperti tak pernah ditumbuhi bulu kini berada dekat di hadapan mataku. Bentukya yang hanya seperti sebuah lipatan daging yang sangat montok, sungguh sangat menggoda siapapun yang melihatnya untuk menikmatinya.

“Masih belum berubah pikiran, Mas?” Katanya sambil mengarahkan belahan vagina yang bentuknya hampir seperti memek bayi itu ke daerah mulutku. Laila bear-menyuguhkan sebuah hidangan lezat secara gratis terhadapku. Aku tak mampu menjawab karena menahan konakku, sekaligus juga tak mau terjebak dalam masalah yang lebih besar.

“Laila, kamu memang cantik… Tapi aku benar-benar tak ingin melakukan ini.” Jawabku. Laila tersenyum padaku. Kemudian dia beranjak menjauh dari tubuhku. Kemudian ia berbaring di sampingku.

“Laila belum menemukan ada pria yang mampu menahan birahi sekuat Mas. laila salut padamu, Mas!” Katanya.

“Kenapa kamu melakukan ini padaku, Laila?” Tanyaku.

“Karena ku pikir aku cantik, tubuhku indah dan aku ingin…” Jawab Laila dengan mudah. Ia terlihat jujur kali ini.

“Berapa banyak pria yang pernah menikmati tubuh indahmu ini,Laila?”

“Entahlah…!!” jawab Laila sambil mencoba bangkit dari tempat tidur dan meninggalkanku. Dia sepertinya merasa boring dengan pertanyaan-pertanyaanku yang terkesan mengintrogasinya. Karena merasa telah menyakiti hatinya, ku tangkap tangannya dan ku tarik kembali ia ke tempat tidur. Laila pun kembali jatuh di tempat tidur itu dan aku langsung menindihnya.

“Laila! Maafkan aku… Kamu mungkin benar, tidak ada pria yang mampu menahan birahinya saat melihat kecantikanmu, tidak terkecuali aku…” Kataku. Laila tersenyum dan ia langsung meraih kepala dan membimbingku mendekat lalu kamipun mulai berciuman menumpahkan birahi yang tertahan. Ku remas payudaranya sambil terus melumat bibirnya.

Perselingkuhanku dengan Laila teman Facebookku ini akhirnya tak bisa terhindarkan lagi. Tubuh Laila yang harum membuatku tak mampu menahan diri untuk mencium seluruh bagian tubuhnya. Ku jilati tubuh Laila mulai dari wajah leher, lengan, perut, kaki, dan berakhir di wilayah vaginanya yang indah.

Vagina Laila benar-benar kencang. Seakan-akan tak pernah tersentuh oleh siapapun sebelumya. Aromanya juga sangat harum. Aku tak bosan untuk berlama-lama menjilati vagina dan clitorisnya yang bersembunyi sempurna di dalam belahan vaginanya yang kencang. Laila sendiri sepertinya bukan hanya sekedar melayani setiap tamunya. Terbukti ia juga menikmati setiap sentuhan dan rangsangan yang berikan. Desahan demi desahan tak henti-hentinya mengalir dari mulutnya.

Setelah beberapa lama ku nikmati harumnya vaginanya, Laila mulai menarik kepalaku. Akupun bergerak mengikuti keinginannya. Kami kembali berciuman dan saling memeluk. Sementara itu ku rasakan, jari-jari kaki Liala meraih celana dalamku yang masih ku kenakan. Ku biarkan ia menurunkan CDku dan ku bantu melepaskannya dari kakiku.

Dalam posisi sudah sama-sama bugil, kami terus asyik saling melumat bibir dan sesekali menjulurkan lidah masuk ke dalam mulut. Payudara Laila yang montok terasa kenyal di dadaku. Tiba-tiba tangan Laila menyusup ke selangkanganku mencoba menggapai penisku. Ku angkat sedikit perutku untuk membiarkannya menyentuh dan memegang penisku. Pada saat Laila telah berhasil meraih penisku, ia mengangkat kedua kakinya dan mengarahkan penisku tepat di muara lobang vaginanya.

Saat ku rasakan kepala penisku berada tepat di muara vaginanya, maka aku langsung mencoba menekan pantatku turun. Inilah kenikmatan yang tidak pernah ku rasakan dari istri bahkan pada saat pertama kali aku mengambil keperawanannya. Saat pertama kali ku tekan penisku masuk ke lobang vagina Liala, penisku langsung amblas begitu saja ke lobang vagina Laila yang terasa sangat lembut dan kenyal. Meskipun vaginanya terasa sempit dan kencang, tetapi penisku dapat langsung masuk hingga menyentuh pintu rahimnya. Ini sebuah sensasi yang luar biasa yang membuatku tak mau berhenti memompa lobang vaginanya.

Vagina Laila juga tidak terasa lembab dan banjir seperti vagina istriku saat terangsang. Lobang vagina Laila  begitu sempit namun permukaannya terasa sangat licin dan lembut, sehingga setiap setiap hujaman penisku di lobang vaginanya dapat masuk dan keluar dengan begitu mudah. Sungguh sensai seksual yang luar biasa.

Setelah sekian lama melakukan penetrasi di lobang vaginanya, tampak Laila telah berulang kali mencapai puncak orgasmenya. Sedangkan aku yang terus menyerangnya hingga keringat membasahi seluruh tubuh, masih belum bisa mendaki hinggak kepuncak kenikmatan. Mungkin karena malam tadi aku telah menumpahkan seluruh sperma yang kumiliki di lobang vagina istriku. Atau mungkin juga disebabkan oleh lobang vagina Laila yang hangat dan lembut, sehingga aku tidak bisa mencapai orgasme dengan cepat.

“Mas! Kamu kuat sekali….” kata Laila sambil memegang payudaranya yang bergoyang seirama dengan tubuhnya yang berguncang oleh hujaman-hujaman penisku yang terus memompa lobang vaginanya.

“Aku dapat lagi, Mas…!!” Racaunya seraya mengejang sambil memegang kuat ke kedua pahanya yang mengacung ke atas. Aku yang masih berusaha meraih puncak kenikmatan tak sempat untuk merespon setiap kata-kata yang diucapkannya. Aku terus memompa vagina Laila dan mengunjang tubuhnya di atas tempat tidur yang begitu empuk.

Keringat terus menetes di seluruh tubuhku. Batang penisku terasa kaku. Kedua lenganku yang tak lagi berdaya menahan berat tubuhku akhirnya memaksaku untuk menahan tubuhku dengan hanya bertumpu pada siku. Dengan posisi berdekapan dengan tubuh Laila, aku hanya bisa menghujam lobang vagina Laila dengan mengerakkan pantatku naik turun. Energi yang ku miliki seakan terkuras oleh persenggamaan dengan Laila. Aku hampir kehabisan nafas, namun aku terus mencoba menuntaskan birahiku di tubuh Laila.

“Mas! Aku dapat lagi…” begitulah kata yang terucap di mulut Laila, setiap kali ia mengejang dan mencapai orgasmenya. Entah sudah berapa kali ia mencapai orgasme, tetapi aku salut ia masih tetap bisa melayani birahiku yang tak kunjung tiba.

Dalam kelelahan, akhirnya ku coba mengambil posisi miring. Ku peluk tubuh laila dari belakang dan penisku kembali ku masukkan ke lobang vaginanya dari belahan bokongnya. Sambil terus menggoyang, ku remas erat payudara Laila.

Posisi ini ternyata berhasil membuat bayangan puncak orgasme mendakat kepadaku. Seluruh darahku seakan mengalir ke selangkanganku, dan penisku yang sudah sangat tegang terus berkedut. Namun pada saat aku hampir meraih puncak orgasme, tiba-tiba Laila kembali mengejang dan membuat penisku lepas dari lobang vaginanya.

Aku langsung menarik dan menindih tubuh Laila lalu menhujamkan penisku kembali ke lobang vaginanya. Ku pompa tubuh Laila dengan cepat sambil terus mendesah dan meracau…

“Sedikit lagi, Sayang…!! ooh… Ohh… Sedikit lagi… Sedikit lagi… Yeaaah….”

Ku hentakkan tubuhku dan menghujamkan penisku sedalam-dalamnya di lobang vagian laila sambil merasakan, kedutan-kedutan sperma yang tertumpah di lobang vagina Laila. Tubuhku lemas dan hampir tak memiliki daya untuk bangkit. Laila benar-benar membuatku hampir mati di pelukannya. Dalam lelahku, akhirnya aku tertidur lelap di kamar tidur Laila.

***********

Saat aku terjaga, ku lihat Laila sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Ia mengenakan baju tidur bercelana berwarna merah muda dengan motif bunga. Ia mungkin tidak menyadari bahwa aku telah terjaga. Kemudian ku coba menyapanya.

“Jam berapa sekarang?” Sambil mencari jam yang ada di dinding. Laila kemudian menatapku dan menunjukkan jam dinding yang tergantung di salah satu sisi dinding kamarnya. Dengan pandangan yang masih belum bisa melihat sempura, ku coba mengerutkan mataku untuk bisa melihat lebih baik.

“Sudah jam 11 ya? Aku harus ke kantor lagi…” Kataku mencoba bangkit dari tempat tidur dan meraih kembali pakaianku yang berserakan.

“Memangnya masih buka, Mas?” Laila memberikan pertanyaan yang menurutku agak aneh.

“Kantorku tutup jam 5 sore…” Jawabku sambil terus merapikan pakaianku.

“Cobalah lihat ke jendela deh!” Kata Laila. Yang membuatku reflek menoleh ke jendela kamarnya yang sudah tertutup gorden. Ku melangkah mendekati jendela tanpa berpikir apa-apa. Namun alangkah terkejutnya aku, ketika ku lihat ternyata yang ada hanya kegelapan dan lampu depan beberapa rumah tetangga.

“Oh My God…!! Apa yang terjadi…!!?” Kataku dalam ketekejutan.

“Maaf, Laila tak berani membangunkan Mas! Laila pikir Mas benar-benar kelelahan” Jawab Laila sambil terus memainkan remote yang ada di tagannya. Aku terdiam dan mencoba mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Dalam diamku, Laila datang menghampiriku.

“HPmu berbunyi puluhan kali… mungkin juga ratusan… Kamu mau redial?” Tanya Laila. Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi. Aku bingung, hari ini hidupku begitu kacau hanya karena seorang wanita bernama Laila. Aku melangkah meninggalkannya dan duduk di sofa yang baru saja dia tinggalkan, kemudian ku raih HPku dan melihat semua panggilan tak terjawab….

What Next…!!?

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s