Asal Usul Putri Salju

Pada zaman dahulu kala di sebuah kerajaan, hiduplah seorang ratu yang sangat dicintai oleh penduduk di kerajaan tersebut. Sekian tahun mendampingi sang raja, tetapi ia belum dikaruniai seorang putra mahkota penerus kerajaan. Sampai pada suatu musim salju, ia sedang menjahit di depan jendela kerajaan, dan tanpa sengaja tangannya tertusuk jarum. Beberapa tetes darah menetes di atas tumpukan salju. Iapun berpikir, seandainya aku dikaruniai seorang putri yang memiliki kulit seputih salju, dan bibir semerah darah, maka akan ku beri nama ia Snow (Salju).

Entah karena kesabaran dan ketulusannya dalam berdo’a, Sang pencipta mengabulkan do’anya. Sang Ratu pun akhirnya mengandung anak pertamanya. Raja begitu senang mendengar berita itu. Jauh sebelum penerus tahtanya lahir ke dunia, ia telah mengumumkan ke seluruh rakyatnya, bahwa ia akan mempunyai putra mahkota, yang akan diberi nama “Snow” (Salju).

Waktu terus berjalan, hari berganti bulan, dan akhirnya tibalah detik-detik kelahiran sang putra mahkota. Dalam perasaan yang tidak menentu menunggu kelahiran putra pertamanya, raja terus menyebut nama “Snow” di bibirnya. Sampai seorang dayang keluar dari kamar bersalin dan menyampaikan bahwa yang lahir adalah seorang putri.

Raja terkejut, tetapi ia tidak lantas bersedih hati mendengar berita yang tidak sesuai dengan harapannya. Ia tetap memberikan nama “Snow” pada putrinya itu.

kemudian raja menemui istrinya, yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur. Sang ratu mencoba untuk melempar senyum dan melontarkan sebuah pertanyaan pada suaminya:

“Paduka! siapakah pengganti tahtamu kelak?”

“Sayangku! kau telah melahirkan seorang Putri yang sangat cantik…”

Sang Ratu tersenyum lelah sambil menutup matanya yang memang terlihat berat. Raja membiarkan istrinya beristirahat setelah berjuang antara hidup dan mati dalam proses persalinan. Tak disangka, ternyata senyuman itu adalah senyum terakhir istrinya, para tabib kerajaan menyatakan bahwa sang Ratu telah wafat.

Cermin Ajaib

Kesedihan yang cukup lama terjadi di seluruh penjuru kerajaan. Bukan hanya sang Raja, tetapi seluruh rakyat juga merasakan kesedihan hilangnya seorang Ratu yang sangat bijaksana dan baik hati. Namun melihat senyum gadis kecilnya yang masih belum mengerti arti kehidupan, membuat raja tidak ingin terus larut dalam kesedihan. Ia akhirnya mengumumkan bahwa ia akan mencari seorang istri untuk menggantikan Ratu, yang mau dan mampu merawat dan mendidik Putri kesayangannya dengan baik.

Berita tersebut menyebar ke seluruh penjuru kerajaan, bahkan sampai ke beberapa kerajaan tetangga. Berita itupun akhirnya juga didengar oleh seorang wanita setengah baya yang hidup berpisah dari penduduk desa, yang memang mendambakan kehormatan menjadi seorang Ratu di sebuah kerajaan.

Wanita yang bernama Roma itu memiliki sebuah cermin ajaib yang bisa membuatnya selalu tampak cantik dan muda jika dilihat oleh orang lain. Cermin yang tidak diketahui asal usulnya itu, memiliki kekuatan yang cukup besar untuk membuat pemiliknya selalu terlihat awet muda dan selalu terlihat cantik. Tetapi cermin itu tidak begitu saja memberikan kekuatannya pada pemiliknya. Kekuatan untuk mempercantik dan menjaga pemiliknya tetap awet muda harus dibayar dengan kesediaan pemiliknya untuk melakukan hubungan seks dengan roh penyihir penghuni cermin itu.

Setiap kali selesai melakukan hubungan seks, maka pemilik cermin itu akan terlihat lebih muda, cantik dan segar. Wanita bernama Roma yang memiliki cermin itu selalu bertanya pada sang cermin setiap selesai melakukan hubungan seks dengan roh penghuni cermin.

“Wahai Cermin Ajaib! Apakah masih ada yang lebih cantik daripada diriku?” maka roh penghuni cermin itu akan menjawab dengan jujur, “Kaulah yang tercantik di seluruh negeri.”

Jika jawabannya tidak memuaskan wanita itu, maka ia akan mengajukan permintaan untuk melakukan hubungan seks lagi, sampai sang cermin mengatakan bahwa dialah yang tercantik.

Begitulah obsesi menjadi wanita tercantik yang tumbuh dalam diri wanita bernama Roma itu. Ia merelakan tubuhnya dinikmati oleh roh seorang penyihir penghuni cermin ajaib demi mencapai obsesinya tersebut.

Roma Menjadi Ratu

Kesempatan untuk menduduki tahta sebagai permaisuri kerajaan adalah sebuah kesempatan bagi Roma untuk membuktikan kekuatan sihir cermin ajaib. Sehari sebelum ia berangkat meninggalkan rumahnya untuk mengikuti sayembara yang diadakan Sang Raja, ia meminta kepada cermin ajaib untuk menyetubuhinya sepanjang hari dan sepanjang malam, hanya sekedar untuk memastikan bahwa dialah yang akan terpilih sebagai permaisuri raja.

Roh penghuni cerminpun tak pernah menolak untuk melakukan pekerjaan tersebut. Di rumahnya yang memang agak terpisah dari pemukiman warga tersebut, Roma menutup seluruh pintu dan jendela rumahnya, dan terus menerus memberikan tubuhnya untuk dinikmati oleh roh penghuni cermin ajaib yang ia miliki tersebut. Kenikmatan melakukan hubungan seks tidak lagi ia rasakan. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana agar ia dapat mewujudkan impiannya menjadi wanita tercantik di mata semua orang, terutama sang Raja.

Obsesinya untuk menjadi seorang permaisuri, bukan hanya membuatnya tidak memikirkan lagi kenikmatan melakukan hubungan seks, lebih dari itu, kelelahan sepanjang siang hingga malam menjadi pelampiasan nafsu birahi roh penghuni cermin ajaib juga tidak ia perdulikan. Yang ada dalam pikirannya hanyalah mewujudkan mimpinya menjadi ratu.

****

Subuh menjelang hari yang ditentukan, setelah Roma menyelesaikan permainan ranjang seks yang ke-55 sepanjang hari hingga malam itu dengan roh penghuni cermin ajaibnya, ia mulai memungut satu persatu pakaiannya dan mengenakannya kembali  setelah sepanjang hari hanya bercinta dan bercinta tanpa sempat untuk berpakaian. Roma kemudian mendatangi cermin ajaibnya, lalu bertanya:

“Wahai cermin ajaib! Siapakah wanita tercantik sampai hari ini?”

“Kau lihatlah dirimu! Wajahmu sebening embun, kulitmu selembut kapas, tubuhmu seputih salju, rambutmu seindah kain sutra. Siapakah yang mampu menandingi kecantikanmu hari ini!?” Jawab cermin ajaib.

Roma sangat senang dengan jawaban cermin ajaib. Ia pun melangkah ke sungai di belakang rumahnya untuk mandi dan bersiap-siap berangkat mengikuti sayembara yang diadakan di Ibukota Kerajaan. Seutas senyuman tak pernah lepas dari bibirnya, membayangkan mimpinya yang sebentar lagi akan menjadi nyata. Dengan busa sabun, ia meraba seluruh tubuhnya dengan rasa bangga akan kecantikan yang ia miliki. Pikirannya menerawang dan membayangkan betapa semua orang di seluruh kota akan berkumpul dan menyaksikan kecantikan yang ia peroleh dari kekuatan cermin ajaib yang dimilikinya.

***

Pintu gerbang kerajaan telah terbuka lebar bagi seluruh penduduk kerajaan. Banyak sekali orang tua yang membawa anak perempuannya untuk dipersembahkan kepada sang Raja yang mereka cintai. Namun juga tidak sedikit yang datang hanya untuk menyaksikan siapakah wanita yang akan dipilih Raja untuk menjadi permaisurinya.

Di pagi yang cerah itu, seluruh wanita yang memiliki rasa percaya diri untuk mengikuti pemilihan calon permaisuri raja telah berkumpul di halaman istana. Namun Roma memutuskan untuk tidak menampakkan diri di antara para peserta tersebut. Ia menutupi wajahnya dengan topi dan selendang dan berdiri di antara penduduk lainnya yang hadir untuk melihat siapa permaisuri pilihan yang akan menjadi calon Ratu mereka.

Pada saat halaman istana telah dipenuhi oleh hampir seluruh penduduk kerajaan, tiba-tiba dari menara istana, terlihat seorang prajurit meniup terompet bersamaan dengan terbukanya pintu gerbang istana. Di antara beberapa prajurit dengan pakaian dan senjata lengkap, tampak seorang pria berpakaian mewah dengan mahkota bertahtakan emas intan dan berlian di kepalanya. Sambutan meriahpun mulai terdengar dari seluruh penduduk yang telah hadir dan lama menunggu di halaman istana. seorang pria tua, yang sepertinya juga memiliki jabatan tinggi dalam istana, berteriak:

“Hidup Raja!”

Teriakannya itu dijawab oleh seluruh warga dengan senang, “Hiduuuup…!!!”

Berulang kali yel-yel tersebut diteriakkan dan disambut dengan teriakan dari semua orang yang hadir, sampai tiba saatnya Raja berjalan melewati beberapa puluh wanita yang dipersembahkan warga untuk dijadikan sebagai pengganti permaisuri Raja yang meninggal setelah melahirkan putri raja yang bernama putri Salju.

Raja berjalan dari ujung ke ujung melihat dan mencoba untuk memilih wanita yang dianggapnya pantas untuk menjadi permaisurinya dan menjadi Ratu untuk seluruh penduduk kerajaan yang dipimpinya. Setelah sampai di ujung deretan wanita-wanita peserta sayembara tersebut, raja memutar langkahnya kembali dan berjalan di depan deretan para wanita yang rata-rata masih muda dan cantik.

Raja berjalan di hadapan para wanita itu sampai pada titik di mana tadi ia memulai langkahnya untuk memilih salah satu wanita yang ada di hadapannya. Tetapi sepertinya ia belum memutuskan siapa yang akan mendampinginya memimpin kerajaan. Pada saat ia memutar tubunya kembali untuk menetapkan putusan dan menjemput siapa yang akan menjadi permasurinya, pada saat itulah Roma dengan rasa percaya diri yang tinggi muncul dari kerumunan penonton dan berjalan menuju ke hadapan Raja dan melangkah di depan para peserta lainnya yang terkejut dengan kehadiran dan keberaniannya bertindak kurang hormat pada sang Raja.

Roma terus melangkah mendekati raja dengan penuh percaya diri. Raja yang berdiri menatap Roma yang terus melangkah mendekatinya, tidak memberikan isyarat pada prajuritnya untuk menahan Roma yang benar-benar melakukan sebuah tindakan yang dianggap kurang ajar oleh para penonton lainnya. Roma sendiri juga tidak perduli dengan gemuruh penonton yang seakan mencemooh tindakannya. Ia tetap mengayunkan langkahnya satu demi satu mendekati sang Raja.

Sampai akhirnya, ia pun telah berada di hadapan sang Raja yang hanya tertegun menatapnya. Roma kemudian duduk bersimpuh di hadapan Raja, kemudian ia bersujud dan berkata:

“Wahai yang mulia! Maafkan atas kelancangan hamba…! Hamba hanya ingin Yang Mulia tahu, bahwa Hamba merasa sangat bangga sekiranya Yang Mulia menerima hamba untuk mengabdikan seluruh jiwa raga hamba untuk melayani Yang Mulia….”

Raja yang sejak tadi hanya tertegun menyaksikan keberanian Roma, kemudian memegang kedua bahu Roma dan memintanya untuk berdiri. Roma menundukkan wajahnya di hadapan Raja, yang kemudian memegang dagu Roma dan mengangkat pandangannya. Dengan kepercayaan diri yang besar, Roma mulai mempertunjukkan jimat kecantikannya kepada Raja. Ia menatap mata Raja dan melemparkan senyumnya pada Sang Raja.

Roma dapat melihat bahwa pria bermahkota yang berdiri di hadapannya telah benar-benar terpesona melihat kecantikan yang ia dapatnya dari cermin ajaibnya. Untuk beberapa saat, Raja tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya menatap wajah Roma dan seolah-olah terbius oleh kecantikan Roma. Tiba-tiba Raja berkata:

“Siapa namamu, Wahai wanita?”

“Ampun Yang Mulia! Nama hamba Roma…”

“Wahai, Roma! Aku berharap dapat menikmati kecantikanmu seumur hidupku…”

“Ampun Yang Mulia! Jika itu dianggap sebagai sebuah pengabdian, hamba akan berdiri di sini selamanya untuk Raja…”

“Tidak! Bukan begitu, Roma! Ikutlah denganku ke dalam istanaku… dan jadilah permaisuriku…!!

****

Akhirnya, usaha keras dan pengorbanan yang dilakukan Roma dengan merelakan tubuhnya dinikmati roh penunggu cermin ajaib, tidak sia-sia. Ia berhasil mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang wanita kerajaan yang hidup dalam kemewahan dan kemuliaan.

Tetap Selingkuh

Roma akhirnya sah sebagai permaisuri raja setelah mengungguli secara mutlah para pesaing-pesaingnya. Kehidupan mewah dan kehormatan adalah hal utama yang menjadi tujuan hidupnya. Roma tidak begitu memikirkan urusan kenikmatan seksual, meskipun setelah menikah hampir setiap kesempatan Raja selalu menginginkan untuk menikmati tubuh Roma. Bagi Roma, dalam kehidupannya sebelum tinggal di dalam istana, ia tidak pernah menahan birahinya. Setiap ia memiliki hasrat birahi, ia dapat langsung meminta cermin ajaib untuk menuntaskan hasratnya itu.

Meskipun begitu, Roma tidak pernah menolak ajakan Raja untuk melakukan hubungan seks. Baginya, kepuasan Raja di ranjang adalah cara paling ampuh untuk menjaga agar ia tetap bisa menikmati segala kenikmatan yang ia dapatkan dalam istana. Setiap kali bercinta dengan Raja, Roma selalu bersikap manja dan agresif dalam setiap gaya bercinta yang mereka lakukan.

***

Beberapa bulan menikmati kehidupan mewah dan kehormatan tanpa harus bekerja, membuat Roma lupa dengan kekasih lamanya yang ia tinggalkan di rumahnya. Sampai pada suatu malam, saat sedang melayani birahi Raja, entah kenapa, tiba-tiba Raja menarik tangan Roma dan membawanya ke depan cermin di meja hias dan Raja kembali menacapkan batang penisnya ke lobang vagina Roma dengan posisi berdiri. Sensasi bercinta di depan cermin mengingatkan Roma pada sosok pria lain yang pernah menikmati tubuhnya.

Sikap Roma yang agak kehilangan konsentrasi dan kurang menimati hubungan seks di depan cermin, dapat di baca oleh Raja.

“Ada apa, Permaisuriku? Apakah kamu tidak menyukai gaya ini…!!?”

“Ampun Yang Mulia! Bukan begitu yang mulia… Hamba baru kali ini melihat tubuh hamba secara utuh di depan cermin. Dan hamba merasa, tubuh ini tidak lagi seindah dulu…”

“Jangan berkata begitu, Istriku! Kau tetap yang terindah bagiku…”

Raja kemudian kembali menggenggap jemari Roma dan menariknya kembali untuk berbaring di tempat tidur, dan menuntaskan hasrat birahi mereka di atas ranjang. Tubuh Raja mengejang seraya menancapkan penisnya sedalam-dalamnya di liang vagina Roma dan menumpahkan sperma kebangsawanan di rahim Roma.

Tubuh Raja ambruk di atas tubuh Roma sesaat setelah orgasme. Dengan sisa tenaga yang tersisa, Raja berusaha menggulingkan tubuh bugilnya di sisi Roma. Melihat suaminya terbaring kelelahan setelah menuntaskan orgasme-nya, Roma bangkit dari tempat tidurnya dan menjilati cairan kental yang masih ada di batang penis suaminya itu. Sesaat kemudian Roma menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu. Dengan tangan yang masih menggenggap dan memainkan penis Raja yang telah terkulai lemah, Roma mencoba untuk mengungkapkan sebuah keinginan.

“Yang Mulia!”

“Mmmh…!!?”

“Bolehkah istrimu ini mengajukan sebuah permintaan?”

“Selama aku masih bisa melakukannya, maka akan ku lakukan untukmu. Selama aku masih bisa mendapatkannya, maka akan ku ambilkan untukmu.”

“Terima kasih, Yang Mulia! Hamba hanya ingin mengambil sebuah barang yang ku tinggalkan di rumahku yang dulu…”

“Benda apakah itu, sehingga memiliki nilai lebih berharga daripada yang kau miliki sekarang?”

“Ampun, Yang Mulia! Benda itu hanyalah sebuah cermin usang. Tetapi bagiku itu sangat berharga. Tanpa dia, aku tidak akan bisa mencuri hati Yang Mulia…”

“ya ya ya… Aku mengerti! Baiklah… Besok kita akan mengambil cermin itu dan membawanya ke dalam istana.”

“Bolehkah cermin itu kita letakkan dalam kamar kita, Yang Mulia?”

“Tentu saja, Sayangku! Apa yang tidak untuk istriku…”

“Terima Kasih, Yang Mulia….!!”

Senyum bahagia terpancar dari bibir Roma. Ia kemudian mencium bibir raja, kemudian ia mencoba untuk memancing kembali birahi suaminya dengan meremas dan mengulum batang penis suaminya yang baru saja menyelesaikan orgasmenya. Tidak memakan waktu yang terlalu lama untuk membangkitkan kembali birahi Raja. Batang penis Raja mulai memenuhi ruang mulut Roma yang sedang mengulum batang penis Raja.

Pada saat batang penis Raja telah tegak kembali, Roma menghentikan aksinya menikmati penis Raja dalam mulutnya. Ia kemudian membalikkan posisinya dan duduk di atas tubuh Raja sambil memegang dan mengarahkan kepala penis Raja ke sebuah lobang yang berada di antara pangkal pahanya. Akhirnya, mereka melanjutkan upaya pemuasan birahi episode kedua.

***

 To be Continue….

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

2 responses »

  1. Benalu mengatakan:

    Mantap semua kisahnya,.. tp sayang “perawan” jarang updatesaya slalu horny tiap baca kiriman dari mbak’… heheh… saya mw nanya mbak,..?gimana caranya ngurangi nafsu sex,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s