Namaku Budi, Orang tuaku telah bercerai sejak adikku dilahirkan. Ibuku meninggalkan Ayah karena tidak tahan dengan kondisi perekonomian rumah tangga yang serba kekurangan. Aku hidup di kampung bersama Ayah dan adikku, di rumah sederhana peninggalan nenek dalam kondisi ekonomi yang masih tidak mencukupi untuk keperluan sehari-hari. Karena alasan itulah, setelah lulus SMU, aku kemudian memutuskan untuk pergi mencari peruntunganku ke kota. Awalnya aku hanya bekerja di sebuah toko kain dan dan dizinkan untuk tinggal di gudang yang berada di bagian belakang toko.

Perkenalanku pertama kali dengan nikmatnya seks adalah secara tidak sengaja, ketika pada suatu malam, aku ingin keluar, karena suasana dalam gudang lumayan panas. Ku buka sedikit rolling door sekedar untuk cukup aku keluar. Pada saat itulah ku lihat seorang perempuan berpakaian sangat seksi berlari ke arahku sambil menenteng sepatunya. Ia kemudian tanpa permisi masuk ke dalam gudang dan dengan nada agak berbisik, ia memintaku untuk menutup pintu rolling door tersebut.

Karena tidak ingin terlibat pada masalah yang aku tidak tahu apa duduk perkaranya, akupun langsung masuk lagi ke dalam toko dan mengunci pintu toko. Wanita itu tampak gugup dan kelelahan. kemudian dia tersenyum dan berkata,

“Makasih ya, De! Makasih udah mau membantu saya…”

“Mbak! ada masalah apa? kok Mbak kelihatannya ketakutan!?”

“Saya dikejar sama Petugas!”

“Mbak ada salah apa?”

“Saya tidak salah!”

“Terus!? kenapa Mbak lari?”

“Saya hanya tidak mau ditangkap…”

“Kalau Mbak tidak salah, mereka tidak akan menangkap, Mbak kan?”

Wanita itu menatapku sesaat lalu kemudian ia melangkah mendekatiku dengan perlahan. Sambil melepaskan pakaiannya satu persatu di hadapanku. Aku tak bisa berkata apa-apa melihat pemandangan indah yang baru pertama kulihat seumur hidupku. Sesosok wanita dewasa berdiri di hadapanku tanpa selembar pakaianpun menutup tubuhnya. Payudara yang tergantung serta bulu lebat pada daerah selangkangannya, membuat batang kemaluan dalam celanaku bereaksi secara alami. Ia meletakkan kedua tangannya di bahuku, lalu berbisik di telingaku sambil berkata:

“De! Mereka menganggap apa yang saya lakukan ini salah….” Ia kemudian melingkarkan lengan kirinya di leherku dan menempelkan bibirnya di bibirku, sementara tangan kanannya membelai lembut batang kemaluanku. Aku tak tahu apa yang ku rasakan dan apa yang dilakukan oleh wanita itu terhadapku. Namun yang pasti saat itu, aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali merasakan dan membiarkan ia menjamah tubuhku.

“Di mana kamarmu? Saya mau menginap di sini malam ini…” Begitu katanya sambil melepaskan pelukannya dan semua yang ia lakukan terhadapku.

“Maaf, Mbak! Saya hanya penjaga di toko ini. Dan saya hanya tinggal di gudang. Boss pasti akan marah kalau ada orang tidak dikenal di dalam tokonya…”

Dia kembali menatapku, dan berbalik melangkah ke arahku lalu ia mengulurkan tangannya dan menyebutkan namanya.

“Namaku Winda! Kamu?”

“Budi!”

“Sekarang kita sudah kenal, Jadi saya boleh menginap kan?”

“Tapi, Mbak? Saya……….”

“Saya janji akan pulang sebelum matahari terbit… Katanya sambil melangkah ke dalam toko menuju gudang kain yang berada di bagian belakang gudang. Aku mengejarnya dan mencoba untuk kembali memperingatinya untuk tidak menginap, tetapi wanita yang tanpa malu melepaskan pakaiannya itu tetap melangkah menuju ruang gudang.

Tanpa perduli ia kemudian membaringkan tubuh bugilnya di atas katil kecil yang memang disediakan oleh pemilik toko untuk tempat tidurku. Aku terus mencoba untuk memperingatinya untuk mau meninggalkan toko, dengan alasan, aku punya tanggung jawab atas keamanan toko ini.

Sambil tetap berbaring, wanita itu kemudian kembali menatapku lalu berkata,

“Bolehkah saya membayar dengan ini untuk menginap di sini barang satu jam?”

“Mbak! Saya tidak pernah melakukannya dan saya tidak pernah diperbolehkan untuk melakukannya kecuali dengan wanita yang sah…”

“Hai, Budi! Anggap saja ini jual beli. Aku memberikan ini sebagai bayaran untuk menginap di sini. Jadi kau sah-sah saja melakukannya.”

“Apa keuntungan saya selain boleh menyetubuhimu? Saya tidak mau, Mbak…! Tolong, Mbak! keluarlah dari toko ini, Mbak!”

“Budi! Saya mohon ambillah upah dari saya ini, untuk harga 1 jam saja! Jika Budi tidak puas, saya akan keluar! Saya janji!

Dalam dorongan nafsu ingin mencoba yang besar serta rasa tanggung jawabku sebagai seorang toko, aku kebingungan untuk mengambil keputusan. Tetapi pada saat itu, Wanita yang bernama Winda itu menarikku ketempat tidur dan membaringkan tubuhku di tempat tidur. Ia kemudian melepaskan celanaku dan menggenggam batang penisku yang memang telah tegang. Kemudian ia mengulum batang penisku, dalam posisi setengah 69, yaitu ia berbaring terbaling disampingku sambil memainkan batang penisku.

Tiba-tiba ia menagkap jariku dan menariknya masuk ke lobang vaginanya. Itu pengalaman pertamaku merasakan bersentuhan dengan vagina wanita. Ternyata ada rongga daging yang cukup kenyal dan basah di sela belahan vagina yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Dalam keasyikan penisku yang terus dikulumnya, aku akhirnya bisa menikmati indahnya sensasi memasukkan jari ke lobang vagina seorang wanita dan memain-mainkan jariku di lobang itu.

Tetapi kesempatan itu tidak berjalan lama. Winda langsung berdiri di atas tubuhku, lalu duduk tepat di atas ujung batang penisku yang tegak. Dengan tangannya dipegangnya batang penisku dan diarahkannya ke sebuah lobang di sela pangkahl pahanya dan menekan pantatnya ke bawah yang mengakibatkan batang penisku lenyak dimakan oleh vagina Winda.

Winda memainkan pantatnya naik turun dan hanya dalam beberapa gesekan, aku telah mencapai puncak orgasme. Sebuah kenikmatan yang tak bisa kutunda dan ku jelaskan dengan kata. Air spermaku mengisi lobang kemaluan Winda dan sebagiannya menetes saat ia mengeluarkan penisku dari mulut vaginanya.

Winda kembali merebahkan tubuhnya disampingku, lalu ia berkata:

“Saya telah membayar biaya menginap untuk satu jam. Tapi jika kamu mau menerima bayaran saya lagi, saya bersedia membayarnya setiap jam sampai pagi…”

Malam itu, aku tak bisa tidur pengalaman pertama melakukan hubungan seks, meskipun hanya dengan seorang PSK membuatku tak sabar untuk terus menunggu 1 jam berikutnya.

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

One response »

  1. […] Sambungan dari Cerita: Harga Menginap 1 Jam […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s