Kiriman: Leony

Sejak Peristiwa itu, โ“ Aku, Sam, dan Bu Rahma mencoba untuk bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Tetapi sebagai perempuan, aku memiliki posisi lebih dekat dengan Bu Rahma, karena aktivitasku selama tinggal di rumah Pak Kepala Desa, aku lebih banyak membantu kegiatan Bu Rahma di dapur.

Siang itu, Sam dan Bapak Kepala Desa, serta mahasiswa KKN lainnya melakukan observasi desa untuk membuat perencanaan kegiatan kami selama beberapa bulan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di desa tersebut. Aku diminta oleh pak kepala desa, untuk membantu istri beliau menyiapkan makan siang, karena rencananya Pak Kepala Desa akan menjamu kami makan siang di rumah beliau. Kebetulan siang itu, hanya ada aku dan Bu Rahma. Kesempatan itu ku coba manfaatkan untuk kembali meminta maaf atas apa yang Sam dan aku lakukan terhadap Bu Rahma.

“Bu! Maafkan kami atas kejadian subuh tadi. Saya dan Sam sebenarnya tidak bermaksud jahat sama Ibu. Kami sadar sih, Bu! apa yang kami lakukan salah, tapi jujur, Bu! saya sudah ketagihan untuk terus melakukan hubungan seks sejak awal kuliah…” Kataku pada Bu Rahma yang sepertinya masih marah kepadaku.

“Kamu tidak takut hamil?” Tanya Bu Rahma padaku.๐Ÿ™‚ Aku merasa senang dengan respon pertanyaan itu. Ternyata Bu Rahma masih bisa menghargai permohonan maafku.

“Yah! Itu memang sudah resiko sih, Bu! Tapi saya pakai KB suntik, Bu!” Jawabku dengan ย hati yang terasa lebih lega.

“Orang tua kamu tahu nggak?” Tanya Bu Rahma lagi.

“Maksudnya, Bu?” Tanyaku minta penjelasan.

“Ya! maksudnya, apakah orang tua kamu tahu tentang kesenanganmu melakukan hubungan badan dengan laki-laki yang bukan berstatus suami kamu?” Bu Rahma mencoba menjelaskan maksudnya.

“Orang tua saya nggak tahu, Bu! Mereka hanya tahu, saya kuliah ke kota untuk belajar, mendapatkan gelar, dan jadi sarjana.” Jawabku.

“Kalau nanti, misalkan kamu kawin. Apakah kamu tidak takut ketahuan bahwa kamu, maaf.. sudah tidak perawan lagi?” Tanya Bu Rahma lebih dalam padaku.

“Hmm…. Kalau ketahuan tidak perawan sih, saya tidak takut…!! Yang kadang saya khawatirkan, kalau misalnya pas bertengkar, suami saya membuka aib saya pada keluarganya, atau keluarga saya…” Jawabku mencoba menerawang jauh sampai setelah married.

“mmh… Begitu, ya?” respon Bu Rahma seakan ingin menghentikan pembicaraan. Ku coba mendekati Bu Rahma, dan bertanya padanya lebih pribadi.

“Ibu masih marah sama saya, Bu?” Tanyaku dengan nada memelas.

“Tergantung….” Jawab Bu Rahma tanpa menatapku.

“Tergantung apa, Bu?” Tanyaku.

“Kalau kamu hapus foto tadi pagi, saya tidak akan marah lagi…” Jawab Bu Rahma.

“Bener, Bu?” Tanyaku ingin jawaban lebih jelas. tetapi sesaat kemudian ku katakan, “tapi kalau saya hapus, Bu Rahma mungkin akan mengusir kami dari sini,.. ya kan, Bu? Tanyaku lagi.

“Bukan begitu…! Saya sebenarnya tidak ada niat untuk melaporkan kalian sama Bapak. Saya bisa mengerti kok, anak seusia kalian, kalau tidak dikontrol orang tua pasti ingin mencoba melakukan hal-hal yang baru, termasuk hubungan yang hanya boleh dilakukan oleh suami istri itu…” Bu Rahma sepertinya sudah mulai mencair terhadapku. Kemudian Bu Rahma meneruskan kata-katanya:

“Tapi cara kalian untuk minta maaf itu yang menurut saya sangat kurang ajar. Terutama teman kamu si Samsul itu…!!”

“Sam sebenarnya orangnya baik, Bu! Tapi….” belum sempat ku selesaikan kata-kataku, Bu Rahma telah memotongnya.

“Iya, saya mengerti. Kalian takut karena tertangkap basah melakukan hubungan suami istri di kamar, kan? Makanya saya ditelanjangi, difoto, terus diminta melayani pula…. Dengarkan saya! Seandainya kalian mau sabar sedikit, mencoba beradaptasi dulu, kenali suasana dulu, kenali orang-orang di sekitar kalian dulu… Kalau buat saya sih, saya tidak akan melarang kalian melakukan hubungan suami istri seperti itu, asal jangan heboh!” Panjang lebar Bu Rahma menjelaskan padaku tentang kesalahanku.

“Maaf, Bu! Iya saya salah sih! Soalnya Bapak menyuruh kami tidur sekamar berdua, jadinya yang ada di pikiran kami hanya keinginan untuk segera menggunakan kesempatan yang diberikan oleh Bapak.” Jawabku.

“Hmmm… Bapak itu nggak mengerti tentang kehidupan kota! Beliau memandang kalian sebagai orang terpelajar, tidur satu kamar tidak masalah. Karena kalian itu beliau anggap sebagai orang tahu hukum dan norma di masyarakat.”

“Iya, Bu! Betul juga ya, Bu!… Jadi sekarang saya harus bagaimana, menurut Ibu?” Tanyaku meminta pendapat Bu Rahma.

“Ya, hapus fhoto yang tadi…!!” Pinta Bu Rahma.

“Tapi Ibu janji dulu saya saya, tidak akan menceritakan perintiwa subuh tadi kepada siapapun..!!” aku mencoba mengajukan syarat.

“Leony! Apa susahnya sih tutup mulut perihal kejadian yang saya sendiri tidak ingin orang tahu? Coba kamu pikir! Apa untungnya buat saya melaporkan kalian? Apakah kalau kalian ternyata dihakimi warga, saya akan mendapatkan upah? Tidak kan?” Begitulah Ibu mencoba meyakinkanku tentang permintaannya untuk menghapus fhoto kejadian subuh tadi. Aku hanya terdiam, tertunduk dan mengangguk tanpa pengiyaan. Kemudian Bu Rahma memegang kedua bahuku, lalu mengangkat daguku, lalu berkata:

“Leony! Ibu mohon ya! Tolong kamu hapus foto itu. Ibu takut, jika Bapak tahu, atau orang lain ada yang melihat HP kamu, saya saja kalian telah menyebarkan fitnah besar untuk istri Kepala Desa Tawo.” Kata-kata Bu Rahma benar-benar dalam dan menyentuh ruang terdalam di lubuk hati kecilku.

“Iya, Bu!” Jawabku sambil melangkah menuju kamar dan mengambil BB kesayanganku. Tetapi kekhawatiran tidak lantas hilang begitu saja. Saat berada di kamar, ku salin dulu foto tersebut ke sebuah folder tersembunyi, lalu aku keluar kamar dan kembali ke dapur dengan membawa BBku. Saat berada di hadapan Bu Rahma, ku buka gallery foto dan kembali ku tunjukkan fotonya pada Bu Rahma.

“Bu! Fotonya bagus, Bu! Sayang kalau dihapus. Kalau Ibu mau, nanti saya kirim ke HP Ibu….” Candaku sambil melempar sedikit senyum pada Bu Rahma yang sedang berdiri di depan meja, asyik memotong bawang. Saat Bu Rahma menoleh padaku yang duduk di lantai dapur, dan melihat kembali foto saat dia sedang berpelukan dengan Sam, dia langsung merebut BBku. Terukir sedikit senyum di bibirnya memandang foto tersebut. Beberapa saat kemudian dia menyerahkan BB yang ada di tangannya kembali padaku sambil berkata:

“Hapus!” kata Bu Rahma tanpa basa-basi dan panjang lebar.

“Iya, Bu!” Jawabku. Setelah beberapa saat ku katakan padanya, “sudah, Bu! Kalau nggak percaya, Ibu bolek cek sendiri BB Leony.”

“Nggak perlu! saya percaya sama kamu…” Jawab Bu Rahma.

“Bu! Kalau masalah Sam, gimana, Bu?” Tanyaku mencoba membuka kembali pembicaraan tentang peristiwa subuh tadi.

“Sam itu memang kurang ajar!” Jawab Bu Rahma.

“Ibu masih marah sama, Sam?” Tanyaku lagi.

“Bagaimana saya tidak marah…!!! Selain Bapak, dia satu-satunya laki-laki yang pernah menikmati tubuh saya seutuhnya, bahkan lebih dari Bapak…! Apa itu tidak kurang ajar namanya!?” Ungkap Bu Rahma padaku.

“Hah…!!! Lebih dari Bapak!? Apa maksudnya, Bu?” Tanyaku tentang satu kalimat yang tidak ku mengerti dari pengungkapan perasaan Bu Rahma yang baru ku dengar. Bu Rahma duduk di dekatku, lalu dia berkata dengan nada berbisik.

“Leony! Berapa kali kamu pernah melakukan hubungan badan temanmu, si Samsul itu?” tanya Bu Rahma padaku.

“Sam..!? sama Sam baru 2 kali. yang pertama tuntas, yang kedua terputus, karena digerebek istri kepala desa.” Jawabku yang ternyata memancing tawa kecil Bu Rahma.

“Heh…. Kamu suka dengan caranya bercinta?” Tanya Bu Rahma dengan volume suara yang lebih kecil.

“Ibu tanya saya, Bu?” tanyaku agak heran, kenapa Bu Rahma menanyakan masalah rasa kepadaku.

“Iya! Memangnya ada orang lain di sini, selain kamu?” jawab Bu Rahma yang langsug disambung dengan pertanyaannya yang membuatku tertawa agak lepas.

“Hehehe… iya benar juga, ya Bu! nggak ada orang selain kita… Hehehe….” Aku berusaha merespon dengan cara Bu Rahma bercanda. Kemudian ku katakan pada Bu Rahma dengan bahasa perempuanku:

“Hmmm…. Sam menurut saya hebat dalam foreplay dan intercourse…” Jawabku mencoba mendefinikan hal yang ku rasakan saat melakukan hubungan seks dengan Sam.

“Apa itu?” Bu Rahma memberiku pertanyaan tidak lengkap yang membuatku agak bingung. Tetapi kumudian aku sadar bahwa aku telah menggunakan bahasa yang terlalu tinggi untuk dipahami Bu Rahma.

“Ya, menurut saya, Sam itu hebat dalam memancing birahi saya, dan juga menuntaskannya…” Begitu penjelasanku dengan mencoba menggunakan istilah lain yang mudah-mudahan bisa dipahami oleh Bu Rahma. Aku kemudian mencoba mengembalikan arah pembicaraan.

“Bu! Ibu belum menjawab pertanyaan saya…” kataku. Ku lihat Bu Rahma juga mengerutkan keningnya, sebagai sebuah isyarat bahwa ada yang tidak lengkap dari pernyataan yang buat. Lalu ku lanjutkan perkataanku, “Tadi kata Ibu, lebih dari Bapak… maksudnya apa, Bu?”

“Kamu kan pernah melakukan hubungan badan dengan Samsul. Dan kamu katakan dia hebat…” Kata Bu Rahma.

“Maksud Ibu, Sam lebih hebat dari Bapak dalam urusan ranjang. Begitu ya maksud, Ibu?” Tanyaku mencoba menebak apa yang akan dikatakan Bu Rahma selanjutnya.

“Saya tidak bilang begitu….” jawab Bu Rahma.

“Terus..!!? maksudnya apa dong, Bu?” Tanyaku lagi.

Licking“Lebih dari Bapak, maksud saya…. Apa ya? maksud saya…. Ah! yang pasti gini… Bapak tidak pernah mencium kemaluan saya saat pemanasan sebelum berhubungan… Samsul melakukan itu tanpa merasa jijik…” Jawab Bu Rahma yang bingung mencari bahasa yang lebih sopan, dan akhirnya ia terpaksa menggunakan kata-kata seadanya dan apa adanya. Aku tersenyum mendengar penutusan Bu Rahma tersebut.

“Tapi enak kan, Bu?” Tanyaku mencoba meluluhkan ketegangan di antara kami.

“Ya, mungkin karena saya tidak pernah merasakan kemaluan dimainkan dengan lidah seperti itu… Rasa asing dan aneh saja sih!” Jawab Bu Rahma sedikit berbelit-belit.

“Tapi enak kan, Buuuu….!?” Ku ulangi pertanyaanku dengan tempo sedikit lambat.

“Karena baru sekali merasakan itulah, makanya rasa gimana gitu…!” Jawab Bu Rahma lebih singkat dari sebelumnya. Mendengar jawabannya itu, ku ulangi lagi pertanyaanku:

“TAPI ENAK KAN, BU…!???”

“Ah kamu ini, Iya!” Jawab Bu Rahma agak malu-malu untuk jujur kepadaku.

“Iya. apanya, Bu?” tanyaku mencoba tuk terus mengintrogasi Bu Rahma.

“Ah kamu ini… Pura-pura nggak ngerti aja..!! Udah ah!” Jawab Bu Rahma seraya meninggalkan dan melanjutkan pekerjaannya memotong bawang.

************************

Pada intinya, aku mengerti bahwa Bu Rahma sebenarnya juga menikmati sensasi foreplay dan intercourse dalam tragedi Subuh tadi. Tetapi ia merasa malu untuk mengakuinya. Ku pikir, bukan hanya aku yang akan ketagihan permainan seks Sam (alias Samsul Bahri), tetapi Bu Rahma juga. Wadooh…!! Bisa bahaya nih rumah tangga Pak Kepala Desa juga beliau sampai tahu istrinya menikmati hubungan seks paksa yang telah dilakukan Sam di hari pertama kegiatan KKN.๐Ÿ˜†

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

2 responses »

  1. EDy mengatakan:

    Aku ingin kenal Bu Verra kalau gak keberatatan,siapa tau nyambung ksh no person boleh gak,

  2. Hery ubt mengatakan:

    Ingin kenal lebih dekat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s