Pada zaman dahulu kala, ada sebuah desa yang dikenal dengan nama desa Lebah. Dinamakan dengan Desa Lebah karena konon penduduknya hanya dilahirkan oleh seorang Ibu. Peristiwa terjadinya Desa Lebah ini bermula ketika desa tersebut digemparkan dengan hilangnya seluruh anak perempuan yang telah telah memasuki usia dewasa. Menghilangnya para anak perempuan di desa tersebut, selalu terjadi pada saat menstruasi pertamanya, sekitar usia 10 – 15 tahun. Hingga hampir semua anak perempuan desa habis,  mereka belum bisa mengungkap misteri di balik hilangnya anak perempuan yang beranjak dewasa di Desa mereka.

Oleh sebab itu, seluruh warga Desa akhirnya berusaha menutup-nutupi setiap kali kelahiran anak perempuan mereka dengan cara mendandaninya seperti anak laki-laki. Tetapi ternyata hal tersebut juga tidak memberi perubahan. Ketika anak mereka memasuki masa pubertas pertamanya, iapun menghilang. Ada pula yang berusaha menyembunyikan anak mereka ke dalam gua, melarikan ke desa lain, membuat persembunyian di bawah tanah, dan sebagainya. Tetapi semua usaha mereka itu sia-sia. Penduduk desa tersebut percaya bahwa hilangnya anak-anak gadis di desa mereka erat kaitannya dengan makhluk halus yang dikenal dengan sebutan, “Lilu”.

lilu

Lilu adalah sejenis makhluk gaib yang dipercaya oleh penduduk sebagai makhluk yang gemar menyetubuhi wanita, terutama saat mereka sedang tidur. Wanita yang sedang disetubuhi, kebiasaan akan bermimpi sedang melakukan hubungan seks. Namun ada juga yang terjaga dari tidurnya, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk membuka matapun tak bisa. Hal inilah yang membuat masyarakat tidak mampu menggambarkan sosok Lilu secara tepat.

 Jenis perempuan dari bangsa Lilu sering disebut dengan nama Lili. Konon disebutkan bahwa Lili adalah istri dari Lilu. Menurut penduduk desa Lebah, tragedi hilangnya anak-anak perempuan di desa mereka bermula dari khabar yang menyebutkan bahwa seorang dukun sakti yang berhasil menangkap dan membunuh Lili. Sehingga Lilu menjadi sangat marah dan mencari anak-anak perempuan untuk direnkarnasi menjadi Lili.

**************

Tidak berhasilnya usaha penduduk desa menyembunyikan anak-anak perempuan mereka dari incaran Lilu menyebabkan mereka prustasi. Selama berpuluh-puluh tahun Lilu mengancam kehidupan anak-anak perempuan desa Lebah, sehingga jumlah perempuan di desa lebah hampir habis. Jumlah wanita dewasa juga semakin berkurang, karena usia yang semakin tua sehingga tidak mampu untuk bereproduksi lagi, serta faktor kematian.

Kecilnya jumlah perempuan di desa Lebah menyebabkan proses perkawinan sudah tidak lagi berjalan normal, dan bahkan nilai sakral perkawinan sudah tidak berlaku lagi di desa Lebah. Pria bebas menyalurkan hasrat biologisnya pada wanita yang mana saja yang mereka inginkan. Sang wanita pun juga tidak bisa menolak untuk melakukan hubungan seks dengan siapa saja. Hingga akhirnya fungsi wanita tidak lagi sebagai seorang istri yang melayani suami, bekerja di dapur, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Tugas para wanita dewasa di desa Lebah hanya sebagai tempat penyaluran nafsu kaum laki-laki desa Lebah.

Kaum wanita desa Lebah yang hanya tinggal beberapa orang harus siap melayani kebutuhan biologis kaum laki-laki desa Lebah. Perbandingan jumlah wanita yang hanya 1 berbanding 100 membuat seorang wanita kadang harus melakukan hubungan seks hingga puluhan kali dalam sehari.

Sampai pada suatu ketika, wanita terakhir di desa Lebah meninggal dunia dalam proses persalinan. Anak yang dilahirkannya adalah seorang perempuan. Dialah satu-satunya perempuan yang tersisa di desa Lebah. Penduduk desa lebah menjadi prustasi, hingga hubungan seks sejenispun tak bisa dihindarkan. Anak perempuan yang dilahirkan oleh wanita terakhir di desa mereka masih balita dan tidak mungkin bisa dijadikan pasangan melakukan hubungan seks. Lagi pula, kelak anak perempuan itu, juga pasti akan diculik oleh Lilu jika telah dewasa kelak.

Akhirnya, para penduduk desa Lebah memutuskan untuk mencari perempuan dari desa lain. Tetapi rencana mereka tersebut, tidak berjalan dengan mulus, karena para perempuan dewasa dari desa lain juga tidak mau menerima tawaran mereka tersebut. Akhirnya, satu persatu penduduk desa Lebah meninggalkan desa mereka, hingga akhirnya penduduk desa Lebah hanya tinggal beberapa orang laki-laki saja. Mereka yang bertahan pada umumnya adalah orang tua yang memiliki anak laki-laki yang masih kecil, dan orang tua yang kehilangan anak gadis mereka, karena alasan terbakar kemarahan dalam diri mereka pada makhluk bernama Lilu itu. Yang mereka lakukan selama bertahan di desa Lebah adalah mencari makhluk bernama Lilu itu. Motivasi mereka adalah, “jika ada orang yang berhasil membunuh Lili, kenapa Lilu tidak bisa dilenyapkan?”

***************

Beberapa tahun kemudian, si gadis kecil yang diberi nama “Vaginy” tumbuh menjadi sosok gadis yang beranjak dewasa. Penduduk desa mulai khawatir akan ancaman yang mungkin mengincar gadis itu. Karena jika ia mendapatkan menstruasi pertamanya, Lilu pasti akan menculiknya. Penduduk desa mulai melakukan penjagaan ketat terhadap Vaginy. Tak sekejap pun gadis itu lepas dari pengawasan penduduk desa, baik yang muda maupun yang dewasa.

Salah seorang teman bermain Vaginy, yang bernama Luda tidak mengerti kenapa Vaginy sangat dikeramatkan oleh warga desa Lebah. Seolah-olah Vaginy adalah ratu di kerajaan Lebah. Pemikiran yang sama juga ditanyakan oleh anak-anak lelaki lainnya yang seusia dengan Luda. Para lelaki dewasa pada umumnya tidak mau menjelaskan alasannya, karena mungkin anak laki-laki seusia Luda belum boleh mengerti tentang perkawinan dan seks.

Rasa penasaran Luda kemudian ditanyakannya langsung pada Vaginy. Tetapi Vaginy juga tidak mengerti, ia sendiri merasa tidak nyaman dengan penjagaan ketat yang dilakukan oleh orang-orang di desanya. Pertanyaan Luda ternyata mulai membuka pikiran Vaginy tentang adanya rahasia masa lalu yang tidak mereka ketahui. Hingga ia memberanikan diri menanyakan perihal tersebut kepada kepala desa Lebah. Awalnya sang kepala desa juga tidak mau menceritakan tentang ancaman Lilu terhadapnya. Tetapi karena desakan Vaginy, akhirnya kepada desa dan seluruh pemuka desa sepakat dan memutuskan untuk menceritakan keadaan sebenarnya tentang Vaginy.

Kepala desa mengajak Vaginy masuk ke dalam rumahnya dan bersama beberapa pemuka desa yang ada di tempat. Sang Kepala desa kemudian melepaskan seluruh pakaiannya, dan memperlihatkan daging menjulur yang ada di bawah perutnya. Vaginy kecil yang tidak mengenal alat kelamin pria sangat terkejut melihat penis yang dianggapnya sebagai kelainan fisik.

Sang kepala desa mulai menerangkan tentang binatang, ada jantan dan ada betina, mereka melakukan hubungan badan untuk bisa meneruskan keturunan, beranank atau bertelur. Kemudian ia menjelaskan tentang penis sebagai alat kelamin pada manusia jantan, dan Vagina sebagai alat kelamin pada manusia betina. Lalu ia katakan bahwa, Vaginy adalah satu-satunya manusia betina yang tersisa di desa Lebah, karena seluruh betina dewasa diculik oleh Lilu, sesosok makhluk gaib yang keberadaannya sulit sekali ditemukan.

Vaginy hanya mengangguk-angguk, mendengarkan cerita sang kepala desa. Ia kemudian meminta semua orang yang ada dalam ruangan itu untuk melepaskan pakaian mereka. Vaginy ingin memastikan bahwa seluruh penduduk desa Lebah adalah manusia Jantan. Bahkan kemudian, sang kepala desa memerintahkan kepada seluruh warga desa baik yang tua maupun anak-anak untuk melepaskan pakaian mereka dan menunjukkan alat kelamin mereka kepada Vaginy.

Vaginy akhirnya mengerti tentang ancaman yang dihadapinya. Vaginy akhirnya ketakutan dengan posisinya yang terancam diculik oleh Lilu. Ia akhirnya bisa mengerti dan bahkan sangat berharap penjagaan atas dirinya diperketat. Tetapi kejadian hari itu, melahirkan beberapa pertanyaan baru yang mau tidak mau harus dijawab oleh penduduk desa, terutama mereka yang telah dewasa.

“Kapan saya akan mengalami menstruasi?” tanya Vaginy.

“Menstruasi adalah tanda bahwa kamu telah berubah menjadi wanita dewasa. Menstruasi pertama tidak bisa dipastikan kapan datangnya. Biasanya pada wanita seusia kamu ini.” Jawab kepala desa.

“Hmm… jadi wanita dewasa harus menstruasi dulu ya?” Tanya Vaginy lagi.

“Ya! darah menstruasi adalah sel telur yang telah matang dalam kandungan, tetapi tidak dibuahi. Maka sel telur itu akan rusak dan berubah menjadi darah kotor yang keluar dari alat kemaluan kamu.”

“Bagaimana cara membuahi sel telur dalam kandungan saya?”

“Caranya dengan memasukkan sel sperma ke dalam kandungan kamu.”

“Sel sperma itu apa?”

“Sel sperma itu, adalah sel jantan. Itu ada pada tubuh laki-laki”.

“Bagaimana cara memasukkan sel sperma ke dalam kandungan saya?”

“Caranya…!!?? dengan memasukkan alat kelamin pria ke dalam lobang pada alat kelaminmu.”

“Hmmm… Jadi begitu ya? daging memanjang itu gunanya untuk masuk ke lobang saya ini. Dan kandungan dalam tubuh saya sebagai tempat penampungannya..!?”

“Betul, Vaginy! karena itulah kami sangat menjagamu. Tanpa Vaginy, desa kita tidak akan bisa berkembang biak.”

“Bagaimana jika proses pembuahan dilakukan sekarang? Siapa tahu sel telur dalam kandungan saya sudah matang? Jadi saya tidak akan menstruasi..!!?”

Pernyataan Vaginy membuat para lelaki yang adalah ruangan itu saling memandang. Dan mereka melakukan rapat singkat dalam ruangan itu dan berakhir dengan keputusan “menyetujui tawaran Vaginy”. Proses usaha pembuahan sel telur dalam rahim Vaginy dimulai dengan pemilihan siapa yang akan menjadi laki-laki pertama yang akan melakukan deflorasi, atau merobek keperawanan Vaginy.

Mereka sepakat melakukan undian terbuka seluruh warga desa, tak perduli apakah dia dewasa ataupun masih anak-anak. Masing-masing pria diberi satu kertas kecil dan diminta untuk menulis nama mereka di kertas itu lalu memasukkan kertas yang mereka pegang itu ke dalam sebuah tempat yang telah disediakan. Sang kepala desa mendapat kehormatan untuk memilih secara acak nama-nama yang ada di dalam tempat itu, dan mengambil satu kertas terpilih. Sang kepala desa berdiri di depan warga desa lebah dan membaca nama yang tertulis di atas kertas tersebut. Seluruh warga desa, terutama laki-laki dewasa tegang menunggu nama siapa yang akan terpilih menjadi laki-laki yang akan mengambil keperawanan Vaginy, satu-satunya betina dalam masyarakat desa Lebah.

“Luda…!!!”

Nama teman dekat Vaginy akhirnya terpilih menjadi laki-laki yang akan mengambil keperawanan Vaginy. Seluruh mata penduduk desa Lebah tertuju pada Luda. Tetapi menurut pendapat para lelaki dewasa, Luda masih anak kecil dan belum mengerti tentang hubungan badan. Sang Kepala Desa kemudian berkata:

“Saudara-saudara! ini bukan tentang dewasa atau belum dewasa! Ini juga bukan tentang pembuahan sel telur Vaginy! Tetapi ini adalah tentang keperawanan Vaginy. Luda berhak untuk menjadi pria yang akan mengambil keperawanan Vaginy.”

Luda yang memang tidak mengeti tentang hubungan seks, pembuahan sel telur, sperma dan keperawanan. Ia hanya maju ke depan mendekati tempat sang kepala desa berdiri, lalu berkata:

“Bapak Kepala Desa! Apa yang harus saya lakukan pada Vaginy? Apakah ini akan menyakitkan bagi saya atau Vaginy?” kata Luda.

“Luda! Bekerjasamalah dengan Vaginy! Bapak akan mengarahkan cara memulainya…” Kata kepala desa Lebah kepada Luda.

**************

Proses Deflorasi Vaginy berlangsung di atas panggung dan disaksikan oleh seluruh penduduk desa Lebah. Vaginy dan Luda telah berada di atas panggung dengan tubuh tidak mengenakan pakaian selembarpun. Sang kepala desa dan beberapa pria pemuka desa lainnya juga berada di atas panggung untuk memberikan pengarahan tentang cara dan proses pembuahan.

Vaginy diminta berbaring dengan kaki mengangkang dan Luda diminta untuk menjilati kemaluan Vaginy. Luda diarahkan untuk memainkan lidahnya pada daerah clitoris Vaginy. Saat Luda memulai aksinya, Vaginy mengikutinya dengan khidmat. Sang kepala desa meminta Vaginy untuk merasakan dan menikmati setiap sentuhan lidah Luda di belahan vaginanya.

Vaginy mencoba untuk merasakan dan menikmati aksi Luda. Ia dapat merasakan darahnya berdesir kencang setiap kali clitoris dan lobang kemaluannya disentuh oleh lidah Luda. Sang kepala desa menyentuh kemaluan Vaginy dengan jarinya dan merasakan bahwa Vaginy telah berhasil merespon permainan lidah Luda, karena ia menganggap lobang kemaluan Vaginy telah mengeluarkan cairan lubrikasi.

Sang kepala desa kemudian menghentikan permainan lidah Luda pada kemaluan Vaginy. Lalu meminta Vaginy memasukkan  penis Luda ke dalam mulutnya. Vaginy hanya menurut saja dengan permintaan sang kepala desa. Ia pun mengulum kemaluan Luda yang masih kecil. sang kepala desa mengarahkan Vaginy untuk melakukan beberapa hal, sepeti memainkan lidah pada ujung kemaluan Luda, menjilati batang kemaluan tersebut dan memasukkannya kembali dalam mulutnya.

Tidak berselang waktu yang lama, Vaginy merasakan bahwa batang kemaluan Luda semakin mengeras seperti tulang. Ia merusaha untuk memahami sendiri proses itu tanpa bertanya pada kepala desa tentang kenapa bisa seperti itu. Kerasakan kemaluan Luda yang semakin keras, Vaginy semakin bersemangat memainkan batang kemaluan Luda. Sementara Luda sendiri hanya bisa diam merasakan dan berusah menikmati aksi Vaginy terhadap batang kemaluannya.

Setelah dianggap cukup, Sang kepala desa menghentikan aksi Vaginy, dan meminta Vaginy untuk berbaring mengangkang seperti semula, lalu meminta Luda menancapkan batang kemaluannya yang telah mengeras itu ke dalam lobang di antara belahan pada daerah pangkal paha Vaginy. Dengan arahan kepala desa, Luda dengan mudah memasukkan batang kemaluannya ke dalam lobang pada kemaluan Vaginy.

Luda diminta untuk mengocok lobang itu dengan batang kemaluannya dengan cepat dan hati-hati. Luda hanya menurut saja dengan arahan sang kepala desa. Luda terus mengocok lobang senggama Vaginy dengan batang kemaluannya. Saat itu sang kepala desa dan semua laki-laki dewasa hanya membiarkan proses deflorasi itu berjalan. Luda dan Vaginy seperti juga telah dapat merasakan kenikmatan melakukan hubungan badan dengan alat kelamin yang mereka miliki. Darah berdesir kencang, jantung berdetak keras, dan keringat membasahi tubuh mereka berdua, terutama Luda yang basah kuyup seperti seorang yang kehujanan.

Luda mungkin telah merasa kelelahan, tetapi ia terus mengocok lobang kemaluan Vaginy dengan batang kemaluannya yang teras semakin keras. Pada saat itu ia merasakan, ada sesuatu yang mendesak pada pangkal kemaluannya, seperti menggumpal ingin menyembur. Sang kepala desa yang merasakan reaksi itu, meminta Luda membenamkan batang kemaluannya sedalam mungkin, jika gumpalan itu terasa sudah diujung kemaluannya. Luda hanya mengangguk dan mempercepat frekuensi kocokannya pada lobang senggama Vaginy yang sangat basah. Luda terlihat berusaha untuk memaksa gumpalan di pangkal batang kemaluannya itu untuk keluar dan menyembur ke dalam lobang kemaluan Vaginy.

Wajah Vaginy yang luput dari perhatian sang kepala desa dan semua penduduk desa, ternyata sedang terpejam menengadah sambil menggigit bibirnya. Kedua tangannya memegang pahanya, seolah-olah ingin memberi ruang lebih lebar bagi Luda agar lebih muda mengocok lobang kemaluannya.

Luda mulai terengah-engah dengan nafas tak karuan. Ia sepertinya hampir mendapatkan puncak kenikmatan melakukan hubungan seks pertamanya. Tak selang berapa lama, Luda berhenti mengocok dan menancapkan kemaluannya sedalam-dalamnya di lobang kemaluan Vaginy. Luda dapat merasakan batang kemaluannya mulai melemas setelah ia berhasil menyemburkan gumpalan sperma ke dalam lobang kemaluan Vaginy.

*************

Begitulah sejarah desa Lebah, yang berkembang biak dari seorang ratu bernama Vaginy. Keputusan membuahi sel terus vaginy sebelum sel telur itu matang dan terbuang ternyata berhasil. Vaginy pun akhirnya mengandung anak pertamanya, dan keturunan baru bagi warga desa Lebah yang kehabisan wanita. Selama sepuluh tahun pertama, warga desa Lebah bergantian mengisi rahim Vaginy dengan sperma mereka. Vaginy pun terus hamil dan melahirkan tanpa sempat mendapatkan menstruasi seumur hidupnya. Hingga turun temurun, warga desa Lebah terus melakukan ritual hubungan seks dengan anak perempuan yang memasuki masa remaja. Dan sejak saat itu, tak ada lagi anak perempaun yang hilang, sekaligus juga tidak ada seorangpun perempuan yang mengenal arti menstruasi.

🙂😆😆🙂

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s