Posted By: Irfan

Aku adalah alumni di institut pertanian kenamaan di negara ini. Sejak aku lulus pendidikan S1, aku kembali ke kampung halaman. Orang tuaku mungkin bisa dikatakan sebagai pengusaha yang cukup sukses. Ayah mempunyai puluhan hektar kebun karet yang berada sekitar 1km dari tempat tinggalku. Karena ingin mempraktekkan ilmuku secara mandiri, aku mencoba untuk membantu Ayah mengelola dan mengembangkan perkebunan karetnya. Ayah sangat senang dengan tawaranku, sehingga kebun karet yang luasnya sekitar 90 hektar tersebut, dipercayakannya kepadaku.

Di tengah perkebunan karet tersebut, Ayah mendirikan sebuah villa kecil yang saat ini didiami oleh Pak Abdi bersama keluarganya. Pak Abdi adalah penjaga kebun karet Ayah. Selama ini, dialah yang dipercaya Ayah untuk mengelola perkebunan karet milik Ayah tersebut. Sampai saat ini, Pak Abdi telah bekerja pada Ayah selama lebih dari 10 tahun. Selama itu, ia belum pernah mengecewakan Ayah dalam pekerjaannya. Ia seorang pekerja yang rajin dan hampir tak pernah mengeluh dengan upah yang tak seberapa yang Ayah berikan padanya. Oleh karena itulah, aku juga sangat menghargai dan menghormati Pak Abdi.

Villa di Kebun KaretSelain ia dan istrinya, di villa kecil tersebut juga tinggal anak perempuannya yang tahun ini akan duduk di bangku SMU. Ia lulus dalam UAN dengan nilai terbaik di kotaku. Namanya, Lisa Marlisa. Ia gadis kecil yang pintar, sekaligus cantik. Dulu waktu aku masih SMU ia masih anak kecil banget. Tetapi kini setelah aku lulus kuliah dan kembali ke kampung halaman, Lisa telah berubah menjadi sosok remaja yang beranjak dewasa. Ia mulai menampakkan sosoknya sebagai seorang wanita dewasa yang sempurna. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dan senyumannya yang….😆 maniiiis banget! Sangat menggoda.

Saking tergodanya aku pada perubahan fisik Lisa, aku sempat mengutarakan keinginanku untuk menjadikannya sebagai calon istri kepada Ayahku, tetapi Ayah tidak menyetujuinya. alasan Ayah, karena ia adalah anak dari Pak Abdi yang hanya seorang penjaga kebun. Mereka tidak memiliki tempat tinggal lagi di kampung asal mereka, karena rumah dan tanah mereka telah habis terjual untuk keperluan pengobatan istrinya yang waktu itu terserang stroke. Bahkan hingga harta mereka habis, istrinya tidak kunjung sembuh, sampai sekarang. Ayah menganggap bahwa Pak Abdi memiliki level sosial yang terlalu rendah untuk menjadi besannya. Selain itu, Ayah juga mengatakan bahwa Lisa masih terlalu muda untuk menyandang gelar istri, apalagi Ibu.

Meskipun aku merasa kecewa dengan tidak adanya restu Ayah, tetapi aku tetap menghargainya sebagai orang tuaku. Aku berusaha berpikir positif bahwa, di luar sana masih bayak gadis-gadis lain yang lebih cantik, lebih pintar dan mungkin mempunyai status sosial yang sederajat dengan keluargaku. Dan ku akui, Lisa memang masih terlalu muda untuk diambil sebagai istri. Ia tampak lebih dewasa, hanya karena sikapnya yang mandiri dan tidak kekanak-kanakan, serta bentuk fisiknya yang tinggi semampai.

**********************

Pak Abdi memang tidak diberikan upah yang besar untuk menjaga dan memanen kebun karet Ayah, tetapi Ayah menjamin semua kebutuhannya dan keluarganya, mulai dari papan, sandang dan pangan, bahkan untuk keperluan pendidikan Lisa, atau keperluan berobat jika dia atau keluarganya sakit. Jadi, upah yang diterima Pak Abdi bisa ia tabung untuk keperluan masa depannya.

Selain kebun karet, Ayah juga membelikan sepetak sawah untuk Pak Abdi di samping kebun karet Ayah. Sawah itu diberikan kepada Pak Abdi untuk keperluannya sendiri. Tapi Pak Abdi juga bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Setiap kali ia memanen hasil sawah, ia juga selalu memberikan separo hasil sawah kepada Ayah. Pak Abdi, sesuai dengan namanya, dia sangat berbakti pada majikannya. Karena itulah Ayah tetap mempertahankannya bekerja menjaga dan mengelola kebun karet, selama lebih dari 10 tahun. Aku secara pribadi juga sangat salut pada Pak Abdi atas pengabdiannya.

*********************

Kembali pada sosok Lisa, gadis beranjak dewasa anak satu-satunya Pak Abdi….. :aroow:
Aktivitasku yang lebih banyak ku habiskan di kebun karet, membuatku selalu punya waktu yang banyak untuk bertemu dengannya. Sepulang sekolah, Lisa juga sering membantu pekerjaanku meskipun kadang kami hanya mengobrol sambil menyisir perkebunan karet tersebut. Sebagai seseorang yang memang telah tertarik padanya, sejujurnya aku senang sekaligus nervous juga berada di sampingnya. Ia mempunyai daya tarik inner beauty yang luar biasa menurutku. Tutur bicaranya sopan, dan nyambung kalau diajak ngomong.

Keakrabanku dengan Lisa, sepertinya tidak terlalu dihiraukan oleh Ayah. Pak Abdi sendiri terlihat tidak begitu khawatir ketika melihat anak perempuannya sedang jalan bersamaku mengitari perkebunan karet yang ia kelola. Namun bagiku secara pribadi, semakin akrab dan dekat aku dengan Lisa, semakin aku jatuh hati padanya. Di mataku, sosok Lisa bisa dikatakan sangat sempurna untuk dijadikan seorang pasangan hidup. Tetapi kembali pada berbagai pertimbangan yang Ayah sampaikan, bahwa Lisa masih sangat muda untuk dijadikan istri, dan lebih dari itu, Ayah sudah mengeluarkan statement bahwa ia tidak merestui keinginanku untuk menjadikannya istriku. Yah, meskipun aku bahagia berada di dekatnya, tetapi apa boleh buat…..😆

*****************

Suatu ketika, saat sedang berjalan dengan Lisa mengelilingi kebun  karetku, aku mencoba mencoba membawa percakapan ke arah yang lebih spesifik pada urusan hati.

“Lisa udah punya pacar pa belum?” ku coba bertanya pada Lisa yang sedang asik memainkan batang rumput di tangannya.

“Eh… Akang! Kenapa emangnya, Kang…?” Jawab Lisa dengan wajah tertunduk dan senyum kecil menghiasi bibirnya.

“Ah, enggak! Akang cuman mau tahu aja. Siapa tahu sudah punya pacar…” Jawabku coba menutup maksud di hati.

“Mana ada yang mau sama anak tukang kebun, Kang…!” Jawab Lisa.

“Ah nggak mungkin! Pasti deh ada teman Lisa di sekolah yang suka sama Lisa…” Aku mencoba mengorek informasi langsung dari Lisa tentang teman-teman sekolahnya yang mungkin beranggapan sama denganku.

“Yah! Akang! Kalau memang benar ada, masa dia nggak pernah datang ke rumah Lisa…?” katanya mencoba membantah anggapanku.

“Oh gitu, ya!? Berarti kalau mau jadi cowoknya Lisa, harus datang ke rumah, ya?” Ku coba memancing pembicaraan.

“Mmmmhh… nggak juga sih! tapi perlu….!” jawabnya dengan gaya sedikit berpikir.

“Lisa! Kita pulang yu!” Kataku dengan bahasa mengajak.

“Pulang? kok cepet!?” katanya dengan ekspresi wajah bingung dan kepala yang penuh tanya.

“Iya! kita pulang ke rumah Lisa…” Lanjutku. Lisa tersenyum kecil mencoba menahan tawa yang akhirnya tawanya lepas tak tertahan. Melihat Lisa tertawa, sekarang giliranku yang bingung, apakah dia sudah mengerti arah pembicaraanku, atau ada hal lucu yang ia tertawakan dariku. Lisa melangkah kecil menjauhiku sambil terus tertawa. Lisa kemudian duduk bersandar di salah satu pohon karet dan perlahan mengakhiri tawanya.

Ada hal yang terlihat aneh. Lisa langsung terdiam masih dengan batang rumput yang ia mainkan dari tadi di tangannya. Aku menarik nafas panjang, dan melangkah mendekatinya. Ku mulai berpikir, ada masalah yang sedang ia hadapi. Setelah berada di dekatnya, akupun duduk di sampingnya, dan kembali membuka pembicaraan.

“Kalau ada yang salah dengan omongan Akang! Akang minta maaf!” kataku memulai percakapan. Lisa masih diam dan tiak langsung menjawab. Aku juga tidak mau bertanya lagi sebelum ia merespon pembicaraanku. Aku takut ada yang salah dengan pembicaranku. Ku biarkan dia berpikir dan menyelami hatinya, sampai akhirnya sebuah kalimat terucap di bibirnya:

“Akang suka sama Lisa, ya? atau hanya sekedar menggoda Lisa?” begitulah dua pertanyaan sekaligus yang ia lemparkan padaku.

“Lisa! kalau Akang salah, Akang minta maaf, ya!” Begitulah kata yang bisa ku ucapkan untuk menghindar dari pertanyaan yang dia berikan. Lisa kemudian menatapku, dan beranjak pergi sambil berkata:

“Enggak kok! Akang tidak salah. Lisa yang sal…….” ia mencoba berdiri menjauh dariku. Aku tahu dia kecewa dengan jawaban yang ku berikan. Tetapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, ku raih tangannya dan ku tarik, sehingga ia terjatuh tepat di pelukanku.

“Lisa! Maafkan Akang, ya! Maksud Akang memang hanya ingin menggoda Lisa… Tapi sebenarnya Akang memang suka sama Lisa…” ku akhiri kalimatku, tanpa mengakhiri pandanganku yang menusuk matanya sampai ke hati.

Perlahan ku dekatkan wajahku ke wajah Lisa, dan ku lihat Lisa menutup matanya. Bagiku ini berarti dia siap menerima ciumanku. Tanpa pikir panjang, langsung ku cium dan ku lumat bibirnya. Lisapun ternyata menyambut ciumanku meski dengan mata yang tetap terpejam.

Dalam asyiknya berciuman, tiba-tiba Lisa meraih tanganku dan meletakkannya ke atas gundukan daging yang berada di dadanya. Terasa olehku payudara yang tidak terlalu besar berbungkus Bra, namun montok dan terasa kenyal. Lisa sepertinya memang mengharapkan aku memegang dan meremas payudaranya. Akupun tidak akan mengecewakannya, karena aku juga memang menginginkannya, menikmati tubuh Lisa, menyentuh dan membelai setiap setiap bagian tubuhnya.

Berciuman dalam posisi Lisa di pangkuanku sambil memainkan payudaranya, membuatku sangat terangsang. Penisku perlahan mulai mengeras. Sayangnya, ia harus keras dalam celana dan yang lebih menyakitkan, punggung Lisa tepat berada di atasnya, menindih dan mempersempit ruang geraknya. Kuatnya tekanan batang penisku yang menegang, ku yakin pasti dirasakan oleh Lisa yang saat itu masih terpejam menikmati ciuman di bibirnya dan remasan di gundukan payudaranya.

Ku lihat, Lisa perlahan menggerakkan tangannya dan membuka satu persatu kacing bajunya. Aku mengehntikan ciumanku, karena di hadapanku terpampang pemandangan baru, yaitu tubuh bagian atas Lisa yang hanya tinggal tertutup Bra. Tubuhnya putih mulus, dan kencang, jelas sangat menggoda birahiku. Ku tatap matanya yang telah terbuka dan menatapku. Lalu ku panggil namanya:

“Lisa….” dengan nada setengah berbisik. Lisa tersenyum lalu bangkit dari pangkuanku. Ia kemudian duduk dengan baju yang telah terbuka. Ia kembali menatapku, dan sesaat kemudian ia bergerak mendekat dan berusaha membuka kancing celanaku. Berbagai pikiran berkecamuk dalam pikiranku. Sejuta tanya tentang sosok Lisa yang ku kenal sopan, tetapi ternyata berhasil memancing birahiku. Dan sekarang dia mencoba untuk mengeluarkan sesuatu yang berada dalam celanaku. Tetapi dorongan nafsu birahi dalam diriku, telah menghapus anggapan itu, dan bahkan aku lebih memilih untuk membantunya melepaskan kancing celanaku dan mengeluarkan penisku dari peraduannya.

Melihat batang penisku yang menyembul tegak menatap langit, Lisa langsung menunduk dan mengarahkan wajahnya ke penisku. seketika itu juga, ku rasakan batang penisku telah masuk ke dalam rongga mulutnya. Pelayanan yang ia berikan padaku mampu membuatku melupakan semua anggapan miring yang ada di pikiranku tentang Lisa. Ia sepertinya sangat berpengalaman dalam melayani kebutuhan birahi laki-laki, sehingga aku tak mampu menahan datangnya puncak orgasme yang harus berakhir di mulut Lisa.

Crooot…!!! Crooot….!!! Croooot…!!!

Sebuah ledakan besar yang membuat tubuhku bergetar dan sempat membuat Lisa sedikit terkejut, menjadi akhir dari pelayanan yang Lisa berikan untuk mengantarku pada penetrasi yang luar biasa. Lisa mengeluarkan batang penisku yang mulai melemah kembali dari rongga mulutnya, lalu ia meludahkan sperma di mulutnya ke tanah. Ia menggunakan ujung bawah bajunya untuk membersihkan sisa sperma yang masih ada di dalam mulut dan bibirnya, lalu kembali memasukkan tiap biji kancing ke lobangnya masing-masing.

Melihat Lisa yang kembali mengemasi pakaiannya yang terbuka di bawah pengaruh syahwat, akupun juga kembali memasukkan batang penisku ke dalam celanaku dan menutup kancingnya kembali. Lisa kembali duduk di sampingku seperti sebelum peristiwa beraroma birahi itu terjadi. Ia kemudian kembali mengulang pertanyaannya, yang telah ia ajukan saat aku baru datang dan duduk menghampirinya di pohon itu. Tetapi kali ini arahnya pilihannya berbeda:

“Akang memang benar suka sama Lisa? atau hanya sekedar ingin menikmati tubuh Lisa?” begitulah pertanyaan yang ia ajukan tanpa menatapku.

“Lisa! Maafkan Akang! Akang tidak bisa mengendalikan nafsu Akang! Jujur, Akang suka sama Lisa… Akang juga pernah katakan ini sama Ayah bahwa Akang suka sama Lisa…” Begitu jawabku berusaha menutupi kekhilafan nafsu shawat yang mengisi pikiranku selama ber-oral sex dengan Lisa. Mendengar jawabanku tersebut, Lisa menatapku, lalu ia kembali bertanya:

“Apa tanggapan Tuan Besar?” Lia terlihat lebih serius dengan pertanyaannya tentang respon Tuan Besar, begitu ia memanggil Ayahku.

“Kata Tuan Besar, Lisa masih terlalu muda untuk dijadikan istri…” Begitulah jawabanku sambil mengangkat tanganku dan menjatuhkannya di pundak Lisa. Lisa hanya terdiam dan tertunduk dan dan membiarkan tubuhnya ku tarik masuk ke dalam pelukanku.

“Kenapa Akang berpikir untuk menjadikan Lisa sebagai istri Akang?” Tanya Lisa sambil merapatkan dirinya di pelukanku.

“Karena Akang pikir, Lisa cukup dewasa dan siap untuk jadi istri Akang….” begitu jawabku

“Tapi Lisa kan cuma anak penjaga kebun karet milik Tuan Besar. Apa mungkin Lisa bisa diterima….” Tanya Lisa lagi.

“Yang penting, Orang Tua Lisa bisa menerima Akang….” Begitu jawabku meyakinkan Lisa.

Lisa kemudian melepaskan diri dari pelukanku dan berjalan menyisiri jalan setapak di tengah perkebunan karet milik Ayahku itu. Aku juga bangkit dari tempat dudukku dan berusaha mengejarnya. Lisa terus berjalan dan tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya. Akupun tidak berani bertanya, karena ku rasa ada kesedihan di wajahnya.

“Akang nggak usah berpikir terlalu jauh, Kang! Sepertinya Lisa bukan wanita terbaik untuk Akang…” Begitulah kalimat yang cukup membuat hatiku hancur.

“Lisa kenapa berpikir begitu? Akang bisa kok menyayangi Lisa….” Aku mencoba merayu Lisa untuk meralat kata-katanya.

“Tidak, Kang! Lisa bukan seperti yang Akang kenal….” Jawab Lisa mempertegas kata-katanya sebelumnya.

“Maksud Lisa..!? yah, itu tidak apa-apa… Akang bisa mengerti kok! Lisa pasti hanya sekedar ingin mencoba melayani keinginan Akang kan?” begitu ungkapku berusaha menterjemahkan sendiri apa maksud perkataannya.

“Bukan itu masalahnya, Kang!” bantah Lisa atas apa yang ku sampaikan.

“Terus? Masalahnya apa? Tentang restu Tuan Besar? Perbedaan status sosial? Itu bukan masalah buat Akang…!!! atau…..??” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Lisa menghentikan langkahnya dan menatapku sambil mengucapkan satu kata:

“Bukan…!!!” Lisa kemudian kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon karet. Terlihat air mata mengalir membasahi pipinya. Aku tak tahu sebesar apa masalah yang dimaksudkannya, sehingga ia sampai harus menteteskan air mata seperti itu. Ku dekati Lisa dan duduk di sampingnya.

“Lisa! jika Lisa percaya pada Akang, Lisa harus cerita sama Akang…!!” Begitulah ungkapku sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Lisa pun tak mampu menahan haru. Ia kembali jatuh ke dalam pelukanku. Isakan-isakan kecil tak mampu ia tahan, air mata juga tak henti menetes.

“Akang! Lisa akan ceritakan rahasia Lisa selama ini hanya pada Akang! Tetapi Akang harus janji untuk menjaga rahasia ini seumur hidup Akang…!!” begitulah yang ia ungkapkan padaku. Aku hanya bisa berpikir, seberat apa sih masalah yang dia hadapi sampai memintaku untuk bersumpah seperti itu. Tetapi jika aku tidak bersedia, dia pasti akan sangat kecewa. Kemudian ku katakan padanya:

“Lisa! Lisa bisa pegang janji Akang! Sekarang ceritakan semua pada Akang….!”

Lisa menarik nafas panjang lalu mengusap air matanya, ia sepertinya sedang berusaha mencari dari mana ia akan memulai ceritanya….😆

Tobe Continoued

Link di atas akan aktif  jika cerita selanjutnya telah diterbitkan…

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

6 responses »

  1. jafar mengatakan:

    mana lanjutannya

  2. hah. .gak usah di terbitkan jg,yg mbaca udah tau kok,kalau tuan besar nya.udah nyicipin 0 nya lisa. Ya kan bro.

  3. Kontol Gede mengatakan:

    Lanjutannya mana Su?
    Kentang nih, Lisanya tak pake dulu aja sini!

  4. satria kamandanu mengatakan:

    Paling paling si Lisa nya udah ngentot ma tuan besar,,,haha

  5. arfi mengatakan:

    pingin dioral sex sma om om

  6. Karin mengatakan:

    Kapan lanjutannya? Lg seru baca nii..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s