Kisah sebelumnya….

“Kalau Mas bener mau lagi, Mas tinggal aja di sini malam ini menemani Lela…. Lela akan melayani Mas, berapa kalipun Mas sanggup….

==========================================

Tawaran Lela untuk menemaninya malam ini memang sangat menarik. Perjalananku yang sebenarnya merupakan tugas kantor, biarlah aku abaikan dulu. Hujan lebat ku pikir cukup untuk menjai alasan keterlambatanku menyelesaikan tugasku di luar kota. Bercinta dengan Lela, gadis belia penjaga warung untuk satu malam penuh, hanya akan terjadi malam ini. Karena itulah, ku putuskan untuk mengabiskan malam ini bersama Lela….

****************

Saat kami selesai bercinta, waktu menunjukkan jam 5 sore, namun hujan waktu itu belum reda. Lela kembali mengenakan pakaiannya dan keluar dari rumah, menuju warung kecil yang berada di depan rumah. Akupun kembali mengenakan pakaianku yang berserakan dan mengikuti Lela keluar. Rupanya Lela sedang membereskan warungnya dan bersiap-siap tutup. Melihat Lela melakukannya sendiri, aku berpikir untuk membantunya meskipun ku sadari sebenarnya aku bukan siapa-siapa di sini. Aku hanya seorang yang sedang numpang berteduh dari hujan….

Setelah semua barang dan perkakas warung dibereskan, Lela kembali mengajakku masuk ke rumah. Aku menurut saja permintaannya, karena ia pasti punya maksud mengajakku masuk. Di dalam rumah, Lela kembali melepaskan seluruh pakaiannya, dan berbaring di kasur. Aku pun berbaring di sampingnya, sambil memulai percakapan ringan.

Lela

“Ibu kamu kapan pulang, Lela?”

“mungkin sebentar lagi….”

“Apa tidak dimarahi, Mas ada di sini?”

“Hmm….. Lela yang tanggung jawab nanti…”

“kalau boleh tahu, Lela akan bilang apa sama Ibu?”

“Lela akan bilang bahwa Mas, pelanggan baru Lela…. Biasanya kalau pelanggan baru memang begitu, Mas! Lela akan melayaninya satu malam penuh dulu Gratis…”

“oh begitu ya? Terus, bayaran Lela untuk satu kali main berapa sih? kalau boleh tahu…”

“Tergantung…!!! kalau Lela lagi mood, paling-paling Lela cuman minta Rp.50.000,- tapi kalau lagi nggak mood, Lela minta’in sampai Rp.500.000,-“

“Kalau sama Mas, Lela suka nggak?”

“kita lihat malam ini, bisa nggak Mas bikin Lela suka sama Mas! hehehe…….”

*****************

Kata-kata Lela membuatku tak sabar menunggu malam. Tanpa pikir panjang, kembali ku lepaskan seluruh pakaianku lalu berbaring kembali di samping Lela. Tubuh mungil Lela, dengan payudara yang masih kencang, serta vaginanya yang masih berbulu kecil, berbaring dalam keadaan telanjang, membuat siapa saja yang menatap ingin bercinta dengannya. Lagi pula, meskipun sudah tidak perawan, tetapi lobang vagina Lela masih cukup kuat mencengkram batang penisku.

“Lela! kalau Mas mau mulai sekarang gimana?”

“Hehehe… udah nggak sabar, ya?”

“Abis Lela sih, pakai acara bugil segala….”

“kalau Mas udah nggak tahan, langsung aja masukin….!”

😆 ****************** Ronde 2

Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka selangkangannya dan mengambil posisi untuk segera menancapkan batang penisku yang sudah kembali keras ke lobang vagina Lela. Tanpa banyak kesulitan berarti, aku telah berhasil membenamkan seluruh batang penisku di lobang vaginanya. Dinding vagina Lela yang kenyal dan lembab merupakan hal ternikmat yang pernah menjepit batang penisku. Aku langsung memainkan pantatku, menarik dan menghujamkan senjataku ke belahan daging lembut di selangkangan Lela.

Dalam ronde kedua ini, permainan berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Selama permainan, aku tidak pernah mengubah posisiku, aku hanya terus menggenjot lobang vaginanya dengan posisi aku berada di atas, dan Lela berbaring sekedar menikmati setiap gesekan pada dinding vaginanya. Selama itu, beberapa kali Lela seperti mengejang, dan mendekap tubuhku. Mungkin itu merupakan puncak kenikmatan yang beberapa kali ia lewati selama 1 jam permainan monoton. Sperma kembali ku tumpahkan di dalam liang vagina Lela di akhir permainan, dan tubuhku terkulai lemah dengan keringat yang bercucuran disekujur tubuhku. Ronde kedua, buatku sangat melelahkan. Aku terhempas di samping tubuh Lela, dan tanpa sadar aku tertidur karena kelelahan.

**************** Ronde 3

Saat aku tertidur dalam keadaan masih telanjang, aku merasa ada seseorang yang memegang dan mengocok penisku dengan tangannya. Awalnya ku pikir itu pasti Lela, jadi ku biarkan ia terus memainkan batang penisku, karena ku pikir mungkin Lela kembali menginginkan untuk memulai ronde ke-2. Tetapi ada yang janggal ketika batang penisku masuk ke dalam lobang vagina. Ku rasa, cengraman vagina Lela tidak sekuat dua ronde sebelumnya. Akhirnya ku buka mataku, dan ternyata bukan masalah pada vagina Lela, tetapi masalah pada sosok yang sedang duduk di atas tubuhku dengan penis tertancap ke lobang vaginanya. Aku melirik ke samping, ku lihat Lela, masih terbaring di sampingku sambil tersenyum kecil kepadaku.

“Mas! Ibu juga pingin nyoba merasakan penis Mas yang besar dan panjang….” begitu kata-kata yang keluar menyambut keterkejutanku melihat sosok berbeda yang menikmati batang penisku. Aku hanya terdiam dan kembali ku arahkan pandanganku kepada wanita yang sedang menyetubuhiku. Dia seorang wanita setengah baya, mungkin usianya baru 30an atau 40an. Payudaranya terlihat sudah kendor, tetapi karena masih terbalut BH, maka masih terlihat menggoda. vaginanya hitam ditumbuhi oleh bulu yang sangat lebat dan panjang, berbeda dengan kemaluan Lela yang masih bersih dengan bulu-bulu kecil di atasnya. Tetapi tak mengapa, apapun itu, aku hanya berpikir, itu juga tetap lobang vagina, liang kenikmatan pria. Jadi, ku nikmati saja permainan Ibunya Lela hingga akhirnya ia mengejang dan terkulai lemas dan jatuh di pelukanku.

Ku angkat lututku, dan ku peluk tubuh Ibunya Lela, lau kembali ku mainkan penisku yang masih tertanjap di lobang pada selangkangan Ibunya Lela. Memang tidak begitu rapet, tetapi setiap gesekannya juga masih memberi rasa nikmat dan dorongan untuk terus mengejar puncak orgasme. Ibunya Lela yang agak sedikit gemuk tak kuasa untuk menahan desahan-desahan yang terlantun senada dengan keluar masuknya penisku di lobang vaginanya…

“eeh… ehhh… aaahhhh….!” suara itu memberiku sebuah rangsangan yang cukup sehingga tidak seberapa lama menunggu, orgasme kembali datang menghampiriku, tetapi kali ini aku harus menumpahkan spermaku di lobang yang berbeda. Setelah mengetahui aku telah mencapai klimaks persenggamaan, maka Ibunya Lela bangkit dari posisinya, tetapi Lela menyambutnya dengan menjilati lobang vagina Ibunya yang basah dan mengeluarkan cairan putih di sela bibir vaginanya. Lela seperti begitu menikmati air spermaku yang ada di lobang vagina Ibunya. Dalam lelah, ku hanya bisa menyaksikan sebuah pemandangan langka, permainan beraroma birahi antara Ibu dan anaknya….

😆 ****************** Ronde 4

😆 ****************** Ronde 5

😆 ****************** Ronde 6

😆 ****************** Ronde 7

Dari ronde ke-4 hinga ke Ronde ke-7, pergumulan terjadi hanya dengan Lela. Ibunya hanya membiarkan kami terus berpacu memburu tiap orgasme sepanjang malam itu. Hebatnya, Lela terus bisa melayani permainanku, dan pada setiap Ronde, Lela selalu berhasil mencapai orgasmenya hingga berkali-kali.  Dinding vaginanya juga selalu terasa basah, dan kadang terasa becek dan banjir meluap hingga membasahi sprey kasur tempat kami melakukan percintaan sepanjang malam itu. Ronde ke-7 berlangsung sekitar pukul 4 pagi. Orgasmeku juga tidak lagi berakhir dengan keluarnya sperma, tetapi hanya berupa rasa pelepasan ketegangan pada sendi-sendi dan aliran darah di tubuhku. Sepertinya 7 Ronde permainan telah menguras habis stok sperma yang ku miliki.

😆 ****************** Ronde 8

Menjelang pagi, aku bersiap untuk melanjutkan perjalanan dinasku ke luar kota yang seharusnya sudah ku lakukan dari kemaren, tetapi ku ingin memberikan kado selamat tinggal pada Lela dengan kembali melakukan hubungan intim dan berharap mampu memberinya ratusan orgasme dalam pertandingan terakhir.

Kali ini, aku melakukannya di kamar mandi sederhana yang hanya berdindingkan seng di bagian belakang rumah kecilnya. Dengan tubuh yang basah oleh air kendi yang dingin, kembali ku hujam lobang vagina Lela dengan batang penisku yang menurut Ibunya cukup besar dan panjang. Dalam kesadaran bahwa stok spermaku telah habis, aku terus menusukkan penisku di lobang vaginanya berharap pertandingan terakhir ini berakhir dengan kepuasan yang tak terlupakan. Aku terus menusuk lobang vagan Lela dengan kecepatan maksimal yang ku bisa. Seperti jarum mesin jahit, aku terus memacu kecepatan permainan batang penisku di lobang vaginanya, berharap pertandingan cepat berakhir dengan kemenangan KO. Tetapi ternyata, aku tidak bisa mencapai orgasme bahkan pada saat ku merasa sudah sangat lelah. Akhirnya ku putuskan untuk menghentikan pertandingan. Tetapi Lela tidak terima. Ia lalu menelantangkan tubuhku di lantai kamar mandi, dan duduk di atas tubuhku lalu mengarahkan batang penisku kembali masuk ke lobang vaginanya. Setelah penis tertanjap sempurna, ia mulai menari dan bergoyang, membawa batang penisku berdansa mengikuti arah gerakannya.

Trik permainan yang dilakukan oleh Lela, pastinya sangat melelahkan baginya. Terlihat dari keringat yang menggantikan basah air kendi yang telah kering di badan, karena lamanya permainanku dalam mengejar orgasme. Tetapi trik tersebut cukup lumayan berarti, karena tidak berapa lama ia melakukan itu, seluruh persendianku seakan menegang, karena kuatnya aliran darah di tubuhku yang seakan tersedot menuju ujung penisku. Hingga akhirnya, aku tak kuasa untuk menahan tubuhku yang mengejenag melepaskan klimaks di ujung penis yang tertancap sempurna di vagina gadis muda anak tukang warung.

Setelah mengetahui bahwa aku kembali mencapai orgasme, Lela mengakiri Ronde 8 dengan kemenangan KO, sekaligus mengakhiri persenggamaan satu malam bersama Lela. Pengalaman yang tak terlupakan dan mungkin tak akan terjadi lagi, karena aku harus bayar jika ingin kembali bercinta dengan Lela.😆

Pesan: “Laki-laki tidak akan bisa meninggalkanmu, jika kau telah memberinya kenikmatan dengan vaginamu, kecuali jika ia menemukan vagina lain sebagai pelarian atau pembanding” 

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

3 responses »

  1. yonie mengatakan:

    Sangat mengasikan. Jadi pengen ada benerannya…..

  2. Sugeng mengatakan:

    Joss gandos , pokoke apik lah bro !!! tapi eling ojo keblabasen yo

  3. rdtngrh mengatakan:

    huh…bikin tegang saja,..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s