Pak Harno adalah seorang pengusaha Distribusi dan Transportasi. Rumah Pak Harno sangat besar dan mewah. Istrinya, Bu Dewi, juga memiliki usaha Butik. Mereka adalah pasangan yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.  Mereka memiliki dua orang anak, namanya Abdi dan Eka. Usia Abdi mungkin sekitar 17 atau 18 tahun, dia sekolah di sebuah SMA Swasta yang berjarak tak terlalu jauh dari rumah mereka. Sementara adiknya, Eka masih duduk di bangku kelas V SD.

Aku adalah seorang wanita berusia 35 tahun. Pekerjaanku adalah pembantu rumah tangga di rumah Pak Harno. Aku telah bekerja di rumah mereka, sejak suamiku meninggal 5 tahun yang lalu. Untuk bertahan hidup, aku terpaksa bekerja untuk membiayai kebutuhan hidupku dan anakku yang terpaksa ku tinggal di kampung halaman bersama orang tuaku. Beruntung aku bekerja di rumah Pak Harno, karena ia berani menggaji besar untuk pekerjaanku, sehingga aku bisa mencukupi kebutuhan anak dan orang tuaku di kampung.

Gaji 5 Juta perbulan memang angka yang besar bagiku. Dengan jumlah gaji sebanyak itu, aku bisa mengirimnya kepada orang tuaku untuk kebutuhan hidup mereka, dan sekaligus aku bisa menabung untuk keperluan masa depanku. Namun gaji sebesar itu, juga tidak ku terima dengan pekerjaan rumah tangga semata. Ada sebuah kesepakatan rahasia antara aku dan Pak Harno, dimana aku harus melayaninya dalam pekerjaan ranjang. Jika waktu itu aku tidak menyepakati perjanjian itu, maka mungkin gajiku tidak akan sebesar sekarang. Oleh sebab itu, setiap aa kesempatan, Pak Harno akan menemui atau memanggilku untuk sekedar melampiaskan kebutuhan biologisnya.

Pak Harno melampiaskan hasrat biologisnya kepadaku, karena istrinya sudah manupause dan tidak bisa lagi melayaninya. Jadi setiap kali ia ingin melakukan hubungan ia akan mencariku. Kesepakatan dengan Pak Harno ini kuterima karena, secara biologis, aku juga memiliki hasrat itu. Karena suamiku sudah meninggal, ku pikir dengan cara ini, adalah pilihan berat untuk tetap bisa mendapatkan kepuasan dalam hubungan suami istri, meskipun bukan dengan suamiku sendiri.

Dalam hal rasa dan kepuasan, melakukan hubungan seks dengan Pak Harno memiliki kepuasan tersendiri. Mungkin karena hubungan yang tidak sah, dan waktu yang tidak bisa dilakukan setiap saat, sehingga aku menjadi sangat bergairah setiap kali Pak Harno mengajakku melakukan hubungan seks suami istri. Tapi, begitulah…!! Pekerjaanku di rumah Pak Harno, bukan hanya dalam pekerjaan rumah tangga, menyapu, memasak dan mencuci, tapi aku seperti menggantikan seluruh pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh istrinya, sebagai ibu rumah tangga, termasuk dalam melayani di ranjang.

Masalah hubunganku dengan Pak Harno, memang sudah berlangsung lama, sejak awal aku bekerja di rumahnya. Dan aktivitas seks tak wajar yang ku lakukan dengan Pak Harno, sampai sekarang masih belum tercium oleh siapapun istri dan anak-anaknya. Selama ini hubungan beraroma birahi yang telah berlangsung lama antara aku dan Pak Harno, masih tersembunyi rapi dan merupakan rahasia antara aku dan Parno. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi jika ada yang mengetahuinya. Tapi rasa takut itu, selalu sirna ditiup kuatnya dorongan hasrat birahi dalam diriku setiap kali Pak Harno mengajakku bercinta….

Ku pikir, apapun yang akan terjadi jika rahasia ini terbongkar, itu adalah resiko yang harus ku tanggung….

********************

Sejak Abdi masuk SMA, ia terlihat semakin nakal dan menjengkelkan. Aku memang hanya seorang pembantu, tetapi aku juga manusia yang punya rasa. Abdi tidak pernah menghargai setiap pekerjaanku, pekerjaannya hanya menyuruh, membentak, memarahi dan menyalahkan. Jika aku memperturutkan perasaanku, mungkin aku akan memilih untuk berhenti bekerja di rumah Pak Harno. Tetapi mempertimbangkan hal lain seperti jaminan hidup yang tercukupi, dan kepuasan seks yang ku dapat dari hubungan dengan Pak Harno, aku memilih untuk bertahan menghadapi sikap menjengkelkan si Abdi.

Sampai akhirnya, aku berpikir, bagaimana jika Abdi ku beri kepuasan seksual? tak perduli semuda apa usianya, yang pasti ku pikir anak usia dia, pasti telah mengerti arti wanita dan hubungan seks. Dengan mendapatkan kepuasan seksual, aku berharap Abdi akan berhenti memperlakukanku seperti binatang.

*********************

Pada suatu kesempatan, saat itu Abdi baru saja pulang sekolah. Ia berteriak memanggilku dengan nada yang sama sekali tidak sopan. Dengan tergesa-gesa aku mendatangi arah suara panggilan itu yang ku tahu berasal dari arah kamar Abdi. Dari depan pintu kamar yang terbuka, ku lihat Abdi melepaskan pakaian sekolahnya dan melemparkan ke atas tempat tidurnya.

“Ada apa, Den?” Jawabku dari depan kamar.

“Handukku di mana? aku mau mandi…!!!”

“Oh iya! Handuk Den Abdi masih di jemuran, belum kering, Den.”

“Aduuh! Cari aku handuk yang lain! Buruan…!!”

“Handuk, Den Abdi yang lain ada di lemari, Den!”

“Ambilkan!”

“Nggeh! Permisi masuk kamar, Den!” Aku melangkah masuk ke kamar Abdi dan mengambilkan handuk mandi yang ada di dalam lemarinya.

“Ini Den, handuknya.” ku letakkan handuk Abdi yang baru ku ambil dari lemari pakaiannya tersebut di atas tempat tidurnya.

“Bawa sini..!!” Begitu bentak Abdi padaku yang hanya tinggal mengenakan celana dalam berwarna hitam. Aku mulai berpikir untuk melaksanakan rencanaku terhadap anak laki-laki dari Pak Harno ini. Parintahnya tidak ku laksanakan. Aku hanya tetap berdiri di dekat tempat tidur, dan menatap Abdi seperti seorang yang sedang benar-benar jengkel menahan amarah di dalam hati. Melihat sikapku itu, Abdi menatapku dan berkata:

“Wah! sudah berani melawan, ya? Akan ku adukan ke Papa! Mau kamu dipecat, ya..!?” begitulah bahasanya yang mengandung ancaman terhadapku. Bukannya aku tidak tahut terhadap ancamannya, tetapi perlawananku kali ini adalah bagian dari rencanaku dan jika resikonya memang harus dipecat, akan ku terima. Tetapi keyakinanku mengatakan, Pak Harno tak akan memecatku.

“Den! handuknya sudah Bibi ambilkan dari lemari. Sekarang Den Abdi bisa untuk belajar tidak mengambil sendiri, jangan hanya bisa memerintah dan membentak Bibi saja!” Jawabku dengan nada berbau perlawanan.

Abdi terlihat kesal, ia menggelengkan kepalanya dan melangkah mendekatiku untuk mengambil handuk yang ku letakkan di tempat tidurnya, sambil menggerutu dan memaki:

“Dasar Pembantu kurang ajar! kamu memang pingin benar-benar dipe……..” belum selesai kalimat yang ia ucapkan, tangannya telah merain handuk yang ada di tempat tidurnya, dan seketika itu juga Abdi ku dorong dan terjatuh di atas tempat tidurnya. Aku melangkah cepat menuju pintu dan mengunci pintu kamar Abdi dari dalam, lalu aku kembali berbalik arah menghadap Abdi dengan tatapan tajam.

“Bibi..!! mau apa kamu? jangan macam-macam denganku…!!!” Begitu kalimat yang terucap dari mulut Abdi yang ku yakin ia agak sedikit gentar dengan perlawananku. Aku melangkah dengan langkah perlahan menuju ke arah Abdi yang masih belum bangkit dari tempat tidurnya. Satu persatu kancing baju ku buka, lalu ku lepaskan bajuku. Rok panjang selutut juga ku lepaskan. Aku berdiri di sisi tempat tidur Abdi sambil terus menatapnya tajam. Ku lihat Abdi bingung dengan apa yang ku lakukan.

“Bi..! Kamu mau apa?”

Aku tidak menghiraukan pertanyaannya. Aku terus melepaskan BHku dan melemparkan ke tubuh Abdi. Lalu ku lepaskan CDku dan ku jinjing sambil merangkak naik ke atas tempat tidur Abdi. Aku merayap di atas tubuh Abdi dan ku pegang kemaluannya. Abdi yang bingung masih berpikir apa yang akan ku lakukan dengan tubuhku yang telah bugil tanpa busana. Ku masukkan telapak tanganku ke dalam celana dalamnya, dan ku genggang kemaluannya yang kecil.

“Bi..! Bibi mau apa?” Tanya Abdi bingung.

“Bibi akan membuat acara mandimu berarti…” Jawabku sambil menurunkan CD yang dikenakan Abdi lalu langsung mengulum batang penisnya yang belum tegang. Ku pegang tangan Abdi dan membawanya menuju ke selangkanganku dan menempelkan telapak tangannya tepat dipermukaan vaginaku yang yang berbulu lebat.

Awalnya Abdi tidak bereaksi, tapi beberapa saat kemudian jemarinya mulai merespon dan membelai permukaan vaginaku. Ku rasakan tangan Abdi mengelus-elus belahan vaginaku sampai akhirnya ia berani menyusupkan jari tengahnya masuk ke sela belahan vaginaku. Itu artinya rencanaku akan berjalan lebih mulus. Ditambah lagi, batang penis yang masih ku kulum dan kujilati sudah mulai menegang. Aku tidak akan menunggu waktu lama dalam permainan ini. Jika penisnya telah menegang dengan sempurna, maka aku akan langsung memperkenalkan Abdi dengan kenikmatan melakukan hubungan seks.

Dalam aksi ranjangku, Abdi tak berkata sepatah katapun. Ia hanya terus bermain jari dengan vaginaku dan menikmati sensasi oral yang ku lakukan. Aku yakin anak ini baru pertama kali ini melakukan hubungan seks. Sehingga rencanaku untuk bermain cepat dengannya ku urungkan. Aku kemudian menghenikan permainan oralku lalu duduk di atas dadanya dan mengangkangkan vaginaku di depan wajahnya. Ku tarik tangannya dan kembali mengarahkannya ke lobang vaginaku, tapi kali ini ku minta Abdi memasukkan jarinya ke lobang vaginaku. Abdi hanya diam mengikuti arahanku. Ia kemudian memasukkan jarinya ke lobang vaginaku dan ia menggerak-gerakkan jarinya dalam dinding vaginaku. Permainan jari Abdi memang cukup merangsangku, tetapi aku tidak ingin larut dalam kenikmatan, karena tujuanku adalah untuk merenggut keperjakaannya dan memperkenalkannya dengan lobang senggana wanita dan nikmatnya melakukan hubungan seks antara laki-laki dan perempuan.

Setelah ku rasa cukup Abdi menatap dan memainkan lobang vaginaku, aku merubah posisiku. Ku raih batang penis Abdi yang masih tegang dan ku arahkan ke lobang vaginaku dalam posisi aku di atas. Tidak begitu sulit untuk memasukkan penis Abdi dalam vaginaku karena penisnya yang tidak terlalu besar dan vaginaku yang memang sudah tak asing dengan alat kemaluan laki-laki yang bernama penis tersebut.

Ko goyang pantatku maju mundur, sehingga penis Abdi keluar masuk di lobang vaginaku. Terlihat Abdi sangat menikmati permainan seks yang ku lakukan terhadapnya, sehingga hanya dalam waktu tak lebih dari 2 menit, Abdi telah memuntahkan air spermanya di dalam vaginaku. Saat ku tahu bahwa Abdi telah mencapai orgasme, ku hentikan permainanku dan hempaskan tubuhku di atas tubuhnya. Ku biarkan penis Abdi menyemrotkan sisa-sisa spermanya dalam vaginaku, lalu ku cium dan ku limat bibirnya, dan ku katakan:

“Jika Den Abdi ingin melakukan ini lagi, panggil saja Bibi…”

Abdi hanya terdiam dan mengangguk. Aku kemudian berdiri dan mengenakan pakaianku lalu keluar dari kamar Abdi. Sejak saat itu, Abdi tidak pernah membentakku lagi dengan kata-kata yang kasar dan tidak sopan. Malah sekarang ia ketagihan melakukan hubungan seks denganku. Hampir tiap hari Abdi memanggilku untuk menjadi teman pelampiasan nafsu birahinya yang tak terkendali. Hanya aku yang tahu betapa gilanya Abdi terhadap kenikmatan seks. Beruntung hingga saat ini, permainanku cenderung rapi dan tak tercium.

Keluargaku dan orang di kampung tidak ada yang tahu bahwa pekerjaanku sebagai pembantu rumah tangga di rumah Pak Harno bukan hanya urusan dapur, tetapi sampai ke urusan ranjang. Mereka hanya tahu bahwa aku sangat beruntung memiliki juragan yang baik dan memberikan gaji yang besar atas pekerjaanku. Namun disisi lain, aku menikmati pekerjaanku, karena selain mendapatkan kepuasan dalam urusan seks, aku telah menguasai dua orang majikanku, yaitu Pak Harno dan Abdi, anak laki-lakinya. Dengan menjadi pelayan ranjang, mereka berdua tidak pernah menganggapku sebagai pembantu, karena rahasia mereka berdua ada di tanganku.

******************

Baca Juga:

Keperawanan Eka (Gadis Kelas V SD)

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s