Posted by: Mega

Satu tahun sudah usia perkawinanku dengan Mas Andra. Selama itu pula kami berhasil memelihara keharmonisan rumah tangga kami. Namun ada satu hal yang kurang dalam indahnya rumah tangga yang kami jalani, yaitu kehadiran seorang anak.

Mas Andra, adalah seorang pengusaha Warnet. Ia memiliki banyak cabang warnet di berbagai tempat di daerahku. Sedangkan aku hanya seoang Ibu rumah tangga. Namun aku cukup bahagia, karena dengan usaha yang dijalankan Mas Andra tersebut, segala kebutuhanku secara materi dapat terpenuhi. Dalam urusan seks, Mas Andra juga bisa dikatakan cukup hebat, karena ia selalu berhasil memuaskanku saat melakukan hubungan intim. Hal itulah yang membuatku mampu bertahan hidup dengannya, meskipun ia telah divonis mandul oleh Dokter.

Kepiawaian Mas Andra dalam urusan seks membuatnya tidak terlalu percaya pada vonis dokter tersebut. Setiap ada kesempatan, kami selalu melakukan hubungan intim tanpa memandang waktu dan tempat. Dalam setiap kesempatan itu, Mas Andra selalu menumpahkan spermanya ke dalam rahimku. Mas Andra bisa dikatakan pabrik sperma, karena setiap kali dia mencapai orgasme, ia selalu menyemprotkan sperma dalam jumlah yang lumayan banyak ke rahimku. Kemampuannya itulah yang membuatnya yakin bahwa vonis dokter itu tidak benar.

Sebagai istri, aku juga berusaha untuk memupuk keyakinannya akan kemampuannya memberiku benih cinta. Meskipun sebenarnya, di usia satu tahun perkawinan kami tanpa tanda-tanda akan hadirnya jabang bayi, cukup membuat hatiku gundah. Jika vonis dokter tersebut ternyata tepat, maka selamanya aku tidak akan mengandung bayi dari benih Mas Andra. Namun demikian, aku tidak ingin menunjukkan kegelisahanku itu di mata suamiku. Aku harus tetap memiliki keyakinan seperti keyakinan yang selama ini masih dipegangnya.

****************

Pada suatu hari menjelang petang, Orang tua Mas Andra datang ke rumah kami. Tujuan mereka datang ke rumah kami adalah untuk menginap, karena istri Mas Budi, saudara Mas Andra sedang berada ke rumah sakit umum yang berada dekat rumah kami, untuk proses persalinan. Karena alasan itu, mereka menitip beberapa tas pakaian di rumah kami, lalu langsung berangkat menuju rumah sakit.

Mas Andra yang tahu khabar itu, langsung pulang dari tempat kerjanya dan menyusul mereka ke rumah sakit. Sebenarnya Mas Andra mengajakku serta, dan akupun sebenarnya ingin sekali menemaninya ke rumah sakit untuk melihat proses persalinan anak kedua Mas Budi, tetapi aku merasa kurang enak badan, sehingga Mas Andra memintaku untuk istirahat saja di rumah, dan ia pamit untuk ke rumah sakit menyusul orang tuanya yang telah berangkat lebih dulu.

**************

Saat matahari telah tenggelam, tiba-tiba ada suara mobil berhenti di halaman rumah kami, dan tak seberapa saat berselang, ada suara ketukan pada pintu depan rumah kami. Aku melangkah mendekati pintu dan mengintip dari kaca jendela. Dari balik pintu, berdiri seorang laki-laki berperawakan besar yang tidak lain adalah Mas Budi, kakak Mas Andra. Langsung saja ku buka pintu dan mempersilahkannya masuk.

“Mas Budi..! istrinya sudah melahirkan, ya Mas? Kok pulang duluan?” Tanyaku.

“Ya! laki-laki” Jawab Mas Budi singkat sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Saat berada di hadapanku, ia berbalik menatapku dan berkata lagi: “Tas Bapak ditaroh dimana?”

“Tas? oh ya, ada di kamar belakang, Mas! sini biar saya ambilkan.” aku melangkah menuju kamar belakang dan Mas Budi mengikuti di belakangku. Ku buka pintu kamar dan ku tunjukkan beberapa tas yang tadi sore di bawa Bapak ke rumah kami.

“Tas yang mana kak?” tanyaku pada Mas Budi sambil menawarkan untuk mengambilkan tas yang diinginkan.

“Kalau boleh! biar saya ambil sendiri saja.” jawab Mas Budi sambil meminta izin untuk masuk ke dalam kamar.

“O ya, silahkan, Mas!” jawabku sambil memberikan jalan pada Mas Budi untuk masuk ke dalam kamar.

Ku perhatikan Mas Budi yang sedang membuka sebuah tas kulit berwarna coklat muda berisi pakaian. Lalu ku coba menanyakan kembali pertanyaan pertama yang belum dijawab oleh Mas Budi.

“Kok pulang duluan, Mas?” tanyaku.

“Iya, di rumah sakit sudah ada Mama sama Bapak yang menjaga Mbak Dita. Mas Budi disuruh pulang saja dulu, istirahat, mandi, ganti pakaian. Tapi nanti malam Mas Budi ke rumah sakit lagi.” Jawab Mas Budi.

“Oh, kalau begitu, Mas Budi mandi saja dulu! Biar Mega siapkan airnya dulu ya, Mas!” Aku melangkah meninggalkan Mas Budi yang masih bergumul dengan tas berisi pakaian tersebut, menuju kamar mandi untuk menyiapkan keperluan mandi untuk Mas Budi.

Sambil aku menyiapkan air, sabun pasta gigi dan keperluan mandi lainnya, terbesit sebuah ide konyol dalam pikiranku untuk meminta Mas Budi menanam benih ke dalam rahimku. Ada beberapa alasan kenapa aku berpikir sepeti itu; pertama, Mas Budi telah dua kali berhasil membuahi rahim istrinya. Itu artinya, ia tidak mandul seperti halnya Mas Andra yang telah divonis dokter begitu; kedua, Mas Budi adalah kakak kandung Mas Andra. Jika ternyata aku hamil oleh benih Mas Budi, tentunya bayi yang lahir akan mirip dengan Mas Budi atau Mas Andra, sehingga Mas Andra tidak akan mencurigaiku melakukan selingkuh atau menganggap anak yang akan ku kandung sebagai anak orang lain. Lagi pula, Mas Andra sampai sekarang masih yakin bahwa ia tidak mandul, seperti vonis dokter yang dialamatkan padanya; Ketiga, suasana sangat mendukung. Di rumah hanya ada aku dan Mas Budi. Aku yakin, semua laki-laki akan tergoda ketika disuguhi daging gratis, tak terkecuali Mas Budi. Lagi pula, Mas Budi pasti sudah lama tidak melakukan hubungan intim dengan istrinya.

Saat aku larut dalam ide konyolku itu, tiba-tiba saja………..

“Kamu mau mandi juga, ya?”

Aku sangat terkejut dan hampir berteriak mendengar suara itu. Untung aku cepat menyadari suara itu adalah suara Mas Budi yang ternyata telah berada di depan kamar mandi. Aku langsung berbalik dan terpaku menatapnya. Hal yang aku pikirkan bukan jawaban atas pertanyaan yang dilemparkan Mas Budi, melainkan aku memikirkan, kenapa Mas Budi memberikan pertanyaan seperti itu.

Abu berusaha berpikir cepat, untuk merenspon pertanyaan itu. Di satu sisi, aku berpikir bahwa pertanyaan itu hanyalah sebuah kalimat canda Mas Budi, karena melihatku masih di kamar mandi, sementara ia sudah siap untuk menggunakan kamar mandi. Di sisi lain, aku berpikir bahwa pertanyaan itu adalah sebuah ajakan nakal Mas Budi untuk ikut mandi bersamanya. Dalam pikirku, kesempatan untuk mewujudkan ide konyolku bisa aku wujudkan sekarang! dan hanya sekarang! jika aku melewatkannya, maka kesempatan itu akan hilang.

“kalau Mas Budi mengizinkan….” jawabku tanpa ekspresi, berharap Mas Budi menanggapinya bukan sebagai candaan semata.

Mendengar jawabanku itu, Mas Budi terdiam menatapku selama beberapa saat, lalu tiba-tiba ia tersenyum padaku dan melangkah di depanku sambil melepaskan handuk yang melilit pinggangnya lalu menggantungnya pada kastok yang terdapat di dalam kamar mandi. Sebuah pemandangan langka, dimana aku tidak pernah melihat laki-laki lain dalam kamar mandi hanya mengenakan celana dalan, kecuali Mas Andra, suamiku.

“Kalau mau mandi, pakaiannya dilepas!” Begitulah kalimat yang diucapkan Mas Budi sambil menanggalkan celana dalamnya dan menggantungnya juga di kastok.

Aku seperti tidak percaya, ide konyol yang beberapa detik yang lalu mengganggu benakku, beberapa detik lagi akan jadi nyata. Ide konyol yang tadinya ku pikir akan sangat sulit dilakukan, ternyata tinggal menunggu bagaimana tindakanku selanjutnya. Seorang laki-laki yang beberapa detik yang lalu masih berada dalam ruang benakku, kini telah berdiri di hadapanku dengan keadaan yang sesuai harapan.

Tanpa berpikir jernih lagi, ku tanggalkan seluruh pakaianku dan berbaring mengangkang di lantai kamar mandi, lalu ku katakan padanya “Mas Budi..! Buat aku hamil seperti Mbak Dita!”

Dengan posisi itu, aku yakin tak seorang pria pun mampu mengendalikan akal sehatnya. Ku lihat Mas Budi memperhatikan setiap bagian tubuhku, terutama payudaraku yang kencang dan belahan di selangkanganku yang tertutup bulu lebat dan hitam. Ku lihat batang penis Mas Budi yang tadinya hanya menjuntai, kini mulai menunjukkan reaksinya, dan aku yakin bahwa saat tangan kanannya memegang batang penisnya, itu dilakukan atas dorongan nafsu.

Benar saja, Mas Budi akhirnya duduk di samping tubuhku dan menyodorkan batang penisnya yang mulai mengeras ke wajahku. Aku mengerti benar apa maksudnya. Tanpa instruksi, langsung ku genggam batang penis Mas Budi dan ku masukkan kepala penisnya ke dalam rongga mulutku. Terasa benar dalam mulutku dan dengan sentuha lidahku, penis Mas Budi bereaksi cepat membesar, memanjang, dan mengeras. Dalam ukuran maksimalnya, ternyata penis Mas Budi, jauh lebih besar dan lebih panjang dari Penis Mas Andra.

Tanpa berlama-lama bermain, Mas Budi langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengambil posisi penyerangan. Ia dudk di antara pangkal pahaku dan mengangkat dan mendorong betisku hingga lututku menyentuh kenyalnya payudaraku. Mas Budi mulai menghunuskan senjatanya ke belahan vaginaku, dan langsung menusukku dan membelah semua kegelisahan menjadi ribuan kenikmatan. Hujaman demi hujaman penis Mas Budi terus membunuh akal sehatku. Aku terkulai di antara sentuhan hangat di dinding vagina yang memaksaku untuk menikmati ajakan birahi Mas Budi yang tak henti menusuk muara rahimku. Meskipun yang ku harapkan hanya setetes sperma, tetapi aku tak bisa keluar dari dalamnya lautan kenikmatan nafsu birahi. Ukuran yang lebih besar dan panjang dari yang biasa membuaiku, membuatku merasakan sebuah sensasi baru dalam bercinta. Sebuah rasa baru yang memaksaku membandingkan dengan kenikmatan yang pernah ku rasakan bersama suamiku, dan aku harus mengakui bahwa sensasi yang diberikan oleh Kakak Iparku ini jauh lebih nikmat….

Sebuah hendakan keras yang menusuk hingga ke bibir rahim adalah puncak dari kenikmatan percintaanku dengan Mas Budi. Setetes sperma yang ia tanam dalam rahimku meninggalkan sebuah harapan, semoga ini akan berbuah dan berbunga dalam rahimku. Dan aku berharap bulan tidak akan datang padaku… Aku tidak ingin bangkit dari lantai kamar mandi karena aku tidak ingin ada setetespun sperma yang ditanam Mas Budi terbuang dari liang vaginaku.

******************

Setelah percintaan di kamar mandi itu selesai, keadaan dunia kembali seperti biasa. Mas Budi kembali ke pangkuan Mbak Dita, dan aku kembali kepelukan Mas Andra, meski harus ku akui, aku pasti akan merindukan sensasi yang diberikan oleh Mas Budi.

*****************

To be Continoued…..

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

3 responses »

  1. Bang Uddin mengatakan:

    Wau……….
    Keren gan
    Kok jadi pengen nich…………….

  2. By Adi prayogo, q mau jg mbak... mengatakan:

    Q mau jg mbak

  3. By Adi prayogo, q mau jg mbak... mengatakan:

    Q mau jg mbak 085208627252

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s