Written by: Ferry

Peristiwa ini terjadi saat kegiatan Penerimaan Anggota Baru (PABA) MAPALA tahun lalu. Kegiatan PABA ini dilaksanakan di daerah Hutan Lindung bagian utara Jawa Barat. Aku menjadi salah seorang panitia dalam kegiatan itu. Ada 15 orang panitia dari rekan-rekan MAPALA, 5 orang di antaranya adalah mahasiswi, dan ada 40 orang peserta, calon anggota baru MAPALA Kampusku, 3 di antaranya mahasiswi.

Kegiatan siang itu begitu melelahkan, sehingga pada malam harinya semua peserta terlelap dalam tidurnya. Panitia pun tidak luput dari hantaman rasa lelah yang menerpa, namun karena tanggung jawab atas keamanan dan kelancaran kegiatan, maka kami bergantian untuk jaga malam.

Waktu itu, aku kebetulan mendapatkan jatah jaga jam 02.00, jadi aku manfaatkan waktu sebelum tiba jam jagaku, untuk melepaskan lelah dengan tidur dalam salah satu tenda panitia. Namun rasanya baru sekejap aku menutup mataku, aku di bangunkan oleh temanku dan mengatakan bahwa jatahku untuk jaga malam telah tiba. Ku lihat jam di tanganku, ternyata memang telah menunjukkan jam 2 malam. Jadi, mau tidak mau, aku harus melaksanakan kewajibanku.

Aku tidak tugas jaga sendiri, tetapi ditemani oleh seorang panitia lagi, namanya Ronan. Ku lihat ia tidak ada di tendaku, maka ku cari ia di tenda panitia yang lain. di tenda itupun tak ku dapati teman jagaku itu. di antara 3 tenda panitia, 2 tenda untuk mahasiswa dan 1 tenda untuk mahasiswi. Jika dua tenda mahasiswa Ronan tidak ada, apa mungkin ia tidur di tenda mahasiswi? Sebuah pertanyaan yang cukup membathin dan mengundang pikiran nakal, tetapi tidak ada salahnya ku tengok juga tenda panitia yang ketiga.

Alangkah terkejutnya aku, ternyata 5 orang mahasiswi yang jadi panitia kegiatan PABA MAPALA tersebut, sedang asyik berpesta seks dengan orang yang ku cari-cari, yaitu Ronan. Saat aku menengok ke dalam tenda, seorang mahasiswi bernama Lita sedang duduk bergoyang di atas tubuh  Ronan dengan penis tertancap ke belahan vaginanya. Sementara kedua tangan Ronan sibuk bermain dengan vagina dua mahasiswi lain. Sementara itu, seorang mahasiswi berbadan besar duduk di atas wajah Ronan dengan wajah penuh birahi karena vaginanya di jilati oleh Ronan.

Seorang mahasiswi lagi, yang bertubuh agak kecil namun langsing, bernama Sisi, menjilati penis Ronan yang tertancap di lobang vagina Lita yang berbulu lebat. Saat pintu tenda terbuka, Sisi berhenti menjilati penis Ronan. ia menatapku dan beranjak mendekatiku lalu tanpa pikir panjang, melepaskan celanaku. Aku yang memang sudah terangsang melihat pemandangan langka di hadapanku, tak kuasa untuk menolak perbuatan Sisi terhadapku. Tanpa pikir panjang, tanpa pemanasan, langsung ku hempaskan tubuh Sisi ke alas terpal dalam tenda itu, lalu ku arahkan penisku ke lobang vaginanya yang memang telah basah.

Tidak cukup sulit untuk membenamkan penisku di lobang vagina Sisi meskipun tanpa proses warm up. Dalam posisi menindih, terus ku genjot lobang vagina Sisi yang di kelilingi oleh bulu lebat. Aku tidak berpikir untuk menikmati kenikmatan itu lebih lama, karena ada tanggung jawab lain yang akan terabaikan jika aku berlama-lama dalam tenda tersebut.

Akhirnya, aku telah berada diujung orgasme menuju batas klimak kenikmatan. Dapat ku rasakan jutaan sel sperma bergerak serentak menuju ujung penisku, seolah memadati saluran kecil tenpatnya keluar. Dalam kenikmatan puncak birahi itu, aku tidak berpikir untuk mencabut penisku dari lobang vagina Sisi. Ku biarkan saja spermaku mengisi lobang vagina Sisi….

Crot..! Crot…!!! Croooooot……😆

Ada yang janggal dalam puncak orgasme yang ku rasakan, spermaku bukannya mengisi rahim Sisi, namun hanya tertumpah di celanaku, bersamaan dengan suara seseorang yang menyebut namaku…

“Fer! Ferry…!! Bangun…!! Sudah jam 2…!! Sekarang giliranmu tugas jaga malam….” Suara itu menyadarkanku bahwa apa yang terjadi padaku malam itu bukan kenyataan, namun hanya mimpi…😆 Ronan membangunkanku dari tidurku, memisahkanku dari indahnya mimpi yang berbuah celana dalam yang belepotan sperma….

************************

Waktu menunjukkan jam 02.15, artinya baru 15 menit aku melakukan tugasku untuk jaga malam bersama Ronan. Padahal rasanya sudah cukup lama aku duduk di dekat unggukan kayu api unggun yang hanya tinggal bara itu. Sementara itu Ronan yang dari tadi berkeliling, datang menghampiriku lalu berkata:

“Fer! anak-anak baru di tenda putra, seperti belum tidur. Tadi waktu aku ngontrol di sana, mereka terdengar bersuara berbisik-bisik.”

“Ya! biarkan saja! mereka mungkin belum terbiasa tidur di alam bebas seperti ini…. apalagi mereka tidur beberapa orang dalam satu tenda, jelas tidak seperti di kamar, kan?” Jawabku santai.

“Iya juga sih! Tapi jika mereka tidak tidur, mereka mungkin akan kelelahan untuk menghadapi kegiatan kita besok pagi.”

Dalam asyiknya percakapan berbau debat itu, tiba-tiba ada seseorang keluar dari tenda Panitia putri, berjalan gak cepat ke arah kami. Dari jauh sudah bisa ku kenali bahwa itu adalah Sisi. Ia berjalan mendekat ke arah kami, lalu berkata:

“Guy! temenin gue ke sungai dong! kebelet nih!” kata Sisi sambil kedua tangannya memegang perut bagian bawah.

“Pipis aja di sini..! Apa susahnya sih..!?” jawab Ronan dengan nada sedikit bercanda.

“Aduh…! Serius nih…!!” kata Sisi yang sepertinya memang serius ingin buang air. Melihat gelagat itu, aku ikut bicara…➡

“Ya udah, aku temenin..! Ron! aku temenin Sisi dulu ya, sekalian ngontrol anak-anak….!”

“OK..! Tapi jangan macam-macam, ya! Hehehe….” Jawab Ronan dengan nada bercanda yang khas.

*********************

Jarak sungai memang tidak terlalu jauh dari lokasi tenda, namun gelapnya malam cukup membuat jarak itu terasa jauh, apalagi aku berjalan dengan seorang cewek yang baru saja ku setubuhi dalam mimpiku. Sisi memang bukan cewek yang terlalu cantik. Perawakannya kecil, namun memiliki tubuh yang padat dan kuat. Ya bisa dimaklumi, karena ia juga MAPALA sepertiku. Kalau boleh dibilang Sisi sama sekali tidak memiliki Sisi peminim dalam dirinya, kecuali rambutnya yang panjang dan lurus namun selalu terikat, dan bentuk payudaranya yang bulat dan kencang.

“Si..! tadi malam aku mimpi..” ungkapku pada Sisi sambil menemani langkah cepat kami menuju sungai.

“Mimpi apa?” tanya Sisi yang beranjak turun menuju sisi sungai. ia melepaskan sandalnya di sisi sungai lalu mencebur ke bagian dangkal di pinggr sungai yang berbatu.

“Aku mimpi sama kamu…” jawabku sambil turun ke pinggir sungai mengikuti Sisi.

“Hahaha…! mimpi nemenin aku buang air ya? hahaha….” Sisi mentertawakan ceritaku, seraya melakukan hal yang sama sekali tidak aku sangka…. Ia melepaskan celananya dan merendamkan pantatnya di air sungai. Untung saja cahaya di pinggir sungai ini tidak terlalu terang, jadi aku tidak terlalu jelas melihat bagian tubuhnya. Aku berusaha untuk tidak menghiraukan pemandangan indah yang agak samar-samar di hadaanku itu sambil berkata:

“Serius! Aku mimpi basah, bercinta dengan kamu, Sis!” kataku sambil terus turun ke pinggir sungai mendekati posisi di mana Sisi berendam. Tak berapa lama, terlihat menyemburkan air ke arah selangkangannya beberapa kali lalu bangkit dari duduknya pertanda bahwa ia telah selesai buang air. Ia melangkah mengambil celananya yang ia letakkan di atas sebuah batu besar di dekatnya. Anehnya ia tidak mengenakan celananya, tetapi melangkah ke arahku dan melingkarkan celananya di leherku.

“Kenapa kita tidak mencobanya dalam nyata, Fer!” kata Sisi yang telah berdiri dihadapanku tanpa mengenakan celana.

“Boleh?” tanyaku hanya sekedar memastikan.

“Tentu!” jawab Sisi sambil melemar senyum manisnya ke arahku.

“Kapan?” tanyaku lagi.

“Sekarang!” Jawab Sisi singkat.

“Dimana?” tanyaku seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapanku.

“Di sini!” jawab Sisi tanpa melepaskan pandangannya ke arah mataku. Jawaban terakhir Sisi, menjadi acuanku untuk menurunkan celanaku dan mengeluarkan batang penisku yang sudah mulai tegang. Melihat aku menurunkan celanaku, Sisi tidak lagi menatap mataku, ia menunduk menatap batang penisku yang berdiri tegak menyentuk perutnya.

Ku dorong mundur tubuh Sisi perlahan beberapa langkah, sehingga ia tersandar di sebuah batu besar di belakangnya. Dalam posisinya bersandar itu, ku angkat kedua pahanya, sehingga lobang vaginanya tepat berada di hadapan kepala penisku. Ku coba untuk mendorong pantatku, memaksa ujung penisku masuk membuka belahan vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Tetapi ternyata menerobos lobang vagina Sisi dalam nyata, tidak semudah memasukkan penisku ke lobang vaginanya saat dalam mimpi.

Sisi mencoba membantu dengan memegang batang penisku dan menancapkan kepala penisku tepat berada di muara lobang senggamanya yang masih terlihat rapat. Sambil terus mengangkat pahanya, ku coba untuk kembali mendorong pantatku, menekan kepala penisku agar bisa membuka belahan berbulu lebat di selangkangan paha Sisi. Namun usahaku tetap tidak berhasil. Jika ku paksa, bibir vagina Sisi seolah ikut tertarik masuk ke dalam belahan vaginanya.

“Si..! apakah kita perlu pemanasan dulu ya?” tanyaku pada Sisi untuk mencoba mengajaknya melakukan warming up dulu sebelum melakukan hubungan seks.

“Tidak perlu, Fer!” kita lakukan lain kali saja.” Sisi berkata sambil memintaku melepaskan tanganku yang memegang pahanya ke atas. Aku hanya terdiam dalam kekesala karena tidak berhasil menyelesaikan permainan hingga ke puncak orgasme. Sisi mengenakan kembali celananya, dan dengan terpaksa ku ikuti Sisi dengan juga mengenakan kembali celanaku yang telah terturun, meskipun harus memaksa untuk menutup kancingnya karena penisku tidak bisa begitu saja tidur dalam sangkarnya.

Sisi melangkah naik ke tepi sungai, dan aku mengikuti selangkah di belakangnya. Kami kembali berjalan menuju lokasi perkemahan dengan perasaan yang cukup kesal karena gagal menuntaskan gejolak birahi. Buat aku secara pribadi, rasanya aku ingin sekali menarik tubuh Sisi yang melangkah di depanku ke semak-semak untuk memperkosanya. Tetapi besarnya rayuan setan itu terhenti ketika Sisi tiba-tiba berkata:

“Kapan kamu selesai tugas jaga, Fer?” kata Sisi sambil menghentikan langkahnya tepat di depan tendanya dan berbalik menghadapku.

“jam 03.00…!! Kenapa..!?” jawabku sembari bertanya balik untuk mengetahui apa maksudnya? Sisi mengangkat lengan kirinya dan memperhatikan dengan seksama jam tangan silver yang melingkar di tangannya itu. beberapa saat kemudian ia berkata:

“Itu artinya 15 menit lagi…!” katanya sambil kembali menatapku. Aku secara reflek juga mengayunkan lengan kiriku ke arah dada, hanya sekedar untuk melihat jarum panjang pada jam tanganku.

“Iya!” jawabku singkat. Sisi mengangkat kedua bahunya bersamaan dengan terangkatnya sepasang keningnya diwajahnya.

“Ok! terima kasih mau menemaniku… Selamat bertugas, ya Fer! katanya dengan sopan.

Aku yang hanya bisa memendam kekecewaan atas kegagalan orgasme dalam peristiwa hubungan seks yang nyata, terpaksa meninggalkannya dengan senyum yang juga terpaksa. Aku berbalik melangkah meninggalkan Sisi di depan tendanya menuju Ronan yang masuk duduk di dekat api unggun yang hanya tinggal bara. Namun hanya beberapa langkah aku meninggalkannya, tiba-tiba Sisi berkata:

“15 menit lagi ku tunggu di sini…!”

Langkahku terhenti mendengan kata-katanya itu. sepenggal kalimat yang mampu memaksa kepalaku kembali menoleh pada seorang gadis di belakangku. Ku lihat Sisi masih berdiri dan dia tersenyum melihatku kembali memutar tubuhku untuk menatapnya. Dengan isyarat mata dan gerakan ibu jari, Sisi menunjuk tendanya.

Aku berusaha mencerna maksud petunjuk itu. Sepintas dapat ku pahami bahwa 20 menit lagi aku dimintanya untuk mendatanginya ke dalam tendanya. Tapi di sisi lain, bagaimana mungkin…😦 Karena dalam tenda itu masih ada 4 orang mahasiswi lain yang juga panitia PABA MAPALA. Keadaan ini mengingatkanku pada peristiwa yang terjadi dalam mimpiku, dimana Ronan bercinta dengan semua mahasiswi yang terlibat dalam kepanitiaan PABA MAPALA. Mengingat itu, aku tersenyum pada Sisi yang masih berdiri di depan tendanya. Aku kemudian memberi isyarat persetujuan dengan memberikan anggukan kecil padanya. Sisi tersenyum lalu masuk ke dalam tendanya. Aku pun meneruskan langkahku menuju teman jagaku, Ronan.

*************************

15 menit waktu istirahat, kadang terasa sangat singkat. Tetapi ternyata 15 menit menjadi cukup lama, ketika kita tidak sabar untuk menunggu apa yang akan terjadi pada 15 menit kemudian tersebut. Aku seolah-olah dipaksa untuk melihat gerakan jarum merah di jam tanganku yang hanya bergerak selangkah dalam setiap detik. Rasa tidak sabar dalam diriku membuatku ingin mempercepat gerakan jarum merah itu mejadi satu putaran perdetik.

************************

Dalam ketidak sabaranku menanti 15 menit, ku coba untuk sejenak merebahkan tubuhku di samping Ronan, di dekat hangatnya bara api unggun, menatap indahnya bintang-bintang di angkasa. Aku berpikir, sebentar lagi aku akan sampai ke langit, aku akan terbang bersama nikmatnya birahi yang akan membawaku ke langit. Saat aku terlena dalam buaian hayalanku itu, tiba-tiba Ronan menggangguku….😆

“Woy..!!! enak aja lo..!! Jaga sama-sama dong..!! Jangan tidur mulu…!!” Ronan berdiri di hadapanku sambil memegang sebatang tongkat kecil. Dalam kebingungan, aku bertanya:

“Udah jam berapa, Ron…??” ku coba untuk sekedar berbasa basi menanyakan jam, meskipun sebenarnya aku aku sedang berusaha mencermati jarum jam di tanganku.

“01.15..!!” jawab Ronan singkat. Dalam keadaan tidak percaya dengan jawaban Ronan, ku cermati lagi jarum jam di tangnku yang ternyata memang baru menunjukkan jam 01.15 malam. Aku semakin kebingunan dengan apa yang ku alami sebelumnya. Apakah percintaanku dengan Sisi di pinggir sungai itu hanya mimpi?

“Ron! tadi Sisi ada ke sini, nggak?” tanyaku berusaha meyakinkan diri, berharap apa yang terjadi sebelumnya bukan mimpi. Ronan yang dari tadi masih berdiri, tiba-tiba mengayunkan tongkat yang dipegangnya ke pahaku…

“Sisi…!? Mimpi lu ya..!!?? Semua orang udah pada tidur..!! Termasuk eluuu…!!” Enak aja gua disuruh melek sendirian…!! Nih..!! Giliran elu sekarang keliling…!! Gua mo tiduur juga aaaah…!!” Jawab Ronan seolah-olah meyakinkanku bahwa apa yang terjadi sebelumnya memang benar-benar mimpi dalam mimpi..😆 Sial bener ya? Sudah gagal orgasme, ternyata juga hanya mimpi…😆 Hehehehe….

*****************************

Karena kekecewaan atas apa yang telah terjadi, aku mencoba melangkah mengelilingi lokasi perkemahan dengan membawa sebilah tongkat yang diberikan oleh Ronan tadi kepadaku. Sambil memperhatikan ke sekeliling lokasi perkemahan yang terbungkus kegelapan, aku mulai melupakan cerita dalam mimpiku, sampai saat aku berada di dekat tenda panitia putri. Tenda itu mengingatkanku dengan Sisi yang menjanjikanku tuk bersabar 15 menit lagi selepas tugas jagaku.

Namun semua itu ku sadari hanya mimpi, aku mencoba membuang semua keindahan yang dijanjikan oleh mimpi dengan berkonsentrasi pada tugasku jaga malam. Namun konsentrasi itu buyar ketika aku berada di depan tenda panitia putri itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara penuh gairah dari dalam tenda. Aku mendengar suara wanita mendesah, tertawa kecil, berbisik, bercampur jadi satu. Dalam rasa penasaran, ku coba mengintip di sela dinding tenda, ternyata….

Sisi mengangkang dalam keadaan bugil, sementara itu Lita tiarap di bawah selangkangannya sambil menjilati belahan vagina Sisi, dua teman Sisi yang lain masing-masing memegang kaki Sisi agar lurus menunjuk langit, sambil meremas-remas payudara Sisi yang bulat dan kencang. Tidak hanya itu, seorang teman Sisi lainnya terus memberikan oral seks pada Sisi, ia terus melumat bibir Sisi dan sesekali memasukkan lidahnya ke rongga mulut Sisi.

Terlihat jelas bahwa Sisi tak berkutik mendapatkan perlakuan teman-temannya, entah karena merasakan kenikmatan, atau karena lemas tidak berdaya. Aku yang sebenarnya terangsang dengan pemandangan di hadapan mataku, tak sanggup melihat Sisi diperlakukan seperti seorang wanita yang diperkosa. Tanpa mampu menunggu lebih lama, aku akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam tenda mereka. Terang saja semua yang berada dalam tenda itu terkejut, dan dengan serta merta menghentikan kegiatan penuh birahi yang mereka lakukan terhadap Sisi.

“Apa yang kalian lakukan, ha?” tanyaku dengan nada berbisik. Mereka tidak menjawab dan hanya saling berpandangan satu dengan yang lainnya.

“Kenapa kalian memperlakukan Sisi, seperti dia bukan teman kalian?” begitu kata-kataku seolah memarahi mereka untuk membela Sisi yang terzalimi. Anehnya mereka bukannya takut atau merasa bersalah. Mereka justru tersenyum dan menutup mulut mereka seperti menahan tawa agar tidak meledak. Dalam saat itulah, tiba-tiba Lola yang memiliki tubuh besar dan lebih pantas disebut gendut, tiba-tiba mendekatiku.

“Fer..!! tahu nggak kenapa kami melakukan ini terhadap Sisi?” Lola bertanya kepadaku sambil terus mendekatiku, lalu tiba-tiba ia memegang erat batang penisku yang tersembunyi dalam celanaku. Sontak saja aku menjerit. Kemudian Lola menjawab sendiri pertanyaannya:

“Karena kamu gagal memerawani Sisi…!!” jawaban yang diberikan Lola itu membuatku terperangah, kebingungan yang sebelumnya telah berhasil ku kubur dengan menganggapnya hanya mimpi ternyata kembali diusik oleh pernyataan Lola yang seakan membuktikan bahwa yang terjadi antara aku dan Sisi di tepi sungai itu bukan Mimpi. Tidak cukup di situ, dari sudut lain dalam tenda itu, Lita malah menyudutkanku dengan kata-katanya.

“15 menit Sisi menunggu tugasmu selesai, tapi kau tak kunjung datang! kemana aja luu..??” kata Lita sambil merangkul tubuh Sisi yang masih bugil. Aku menggelengkan kepala tak mengerti dengan apa yang terjadi, ku perhatikan jam tanganku, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 03.15, yang artinya aku telah terlambat . Kebingunganku sekarang kembali pada 15 menit yang lalu, kenapa saat aku Ronan membangunkanku dari tidurku, jam di tangan menunjukkan jam 02.15…!?❓

Dalam kebingunganku, Wiwik berdiri dan menghampiri tempat dimana aku terpuruk. Kemudian sambil kedua tangannya bergerak perlahan melepaskan satu persatu kancing bajuku, ia hadir dan berkata laksana orang bijak yang datang memberi solusi.

“Sudahlah, Fer..! Aku tidak mengerti dengan kebingungan di wajahmu. Apa yang kami lakukan terhadap Sisi, adalah demi solidaritas. Sisi adalah satu-satunya anggota MAPALA yang masih perawan di antara kami. Dan dia rela melepaskan keperawanannya demi kesatuan kita….” Wiwik dengan tenang menjelaskan duduk perkaranya, dan dengan tenang pula melepaskan baju yang ku kenakan.

Setelah seluruh pakaianku terlepas, Wiwik membaringkanku di dalam ruang tenda mereka. Dalam posisi terlentang itu, ia kemudian dengan perlahan membuka kancing celanaku, sambil meneruskan kata-katanya:

“Kami hampir saja mengambil keperawanan Sisi dengan cara yang tidak normal…Sekarang, karena kamu sudah ada di sini, kami berharap kamu mau membantu kami mengambil keperawanan Sisi secara normal…..” sambil terus menjelaskan keadaan, Wiwik telah berhasil melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuhku. Ia kemudian menggenggam batang penisku yang mulai tegang dan berkata:

“kami akan membantumu untuk memulai…….”

Itulah kata terakhir yang terucap dari bibir Wiwik sebelum ia mengisi rongga mulutnya dengan batang penisku. Aku yang tak mengerti dengan apa yang terjadi padaku, kebingungan antara mimpi dan kenyataan. Namun kenikmatan dari aktivitas oral yang dilakukan Wiwik terhadapku benar-benar dapat ku rasakan. Kenikmatan yang ku rasakan itu cukup untuk membuatku melupakan apa yang terjadi sebelumnya dengan hanya menikmati apa yang ku rasakan sekarang.

Sementara itu, Lola, dan Lita sedang asyik merangsang Sisi yang terlentang bugil di sampingku. Lola berbaring di samping Sisi sambil melumat bibir Sisi dan meremas-remas buah dada Sisi yang bulat dan kencang. Sementara Lita sibuk mencari sesuatu di sela belahan vagina Sisi. Dengan lidah panjangnya, ia mengais-ngais belahan vagina Sisi yang berbulu lebat.

Sementara Wiwik masih asyik mengulum batang penisku yang semakin keras, tiba-tiba Nany berdiri di hadapanku sambil melepaskan satu persatu pakaiannya, mulai dari kemeja, celana panjang kesatuan MAPALA yang kebetulan ia kenakan, kemudian ia melepaskan BHnya dan menampakkan pemandangan buah dada bertato Mawar. Tanpa menunggu lebih lama, ia melepaskan CDnya dan memberiku pemandangan daging yang mencembung di sela pertemuan pangkal pahanya. Nany menari menggoyangkan pinggulnya, memperlihatnya permukaan vagina yang telah dibersihkan dari bulu-bulu. Terlihat jelas bahwa Nany bukan hanya tidak perawan, tapi bisa dikatakan ia adalah seorang pemain dalam dunia seks.

Nany memberi isyarat kepada Wiwik untuk menghentikan aksinya mengoral batang penisku, Nany mengambil posisi Wiwik, tapi bukan untuk mengoral, tapi berdiri di atasku, lalu menurunkan pantatnya. Dengan tangan kanannya dipegangnya batang penisku lalu dimasukkan ke dalam lobang vaginanya yang tidak berbulu. Dalam sekejap, batang penisku tenggelam sempurna dalam liang vagina Nany.

Sementara Nany mulai beraksi dengan goyangannya, Wiwik dan Lita mulai melepaskan pakaian mereka satu persatu. Ku lihat tubuh semampai Lita dan tubuh langsing Wiwik berdiri di kedua sisi tubuhku. Lita dan Wiwik menarik tangan kanan dan kiriku, lalu memasukkan jari tengahku ke lobang vagina mereka masing-masing. Tanpa harus berpikir lama, kumainkan jariku di lobang vagina mereka. Sementara itu, Sisi yang terbaring di sisi kananku terus mendesah dengan nafas besar terus berderu kejar mengejak, karena Lola tidak henti-hentinya memainkan lidahnya di lobang vagina Sisi.

Tak berapa lama kemudian, Lola si gendut berhenti menjilati vagina Sisi yang memang telah terlihat kelelahan. Lola berbaring di antara aku Sisi. Saat itu pula Wiwik dan Lita melepaskan jariku dari vagina mereka, dan menarik tanganku sehingga aku tidak lagi berbaring tetapi duduk. Dalam posisi duduk itu, Nany masih belum berhenti menggoyangkan pantatnya agar penisku bisa terus menggesek dinding vaginanya.

Sementara penisku masih bermain di lobang vagina Nany dalam posisi duduk, Lita dan Wiwik ternyata telah berbaring berjejer di samping Lola yang telah berbaring terlebih dahulu di samping Sisi. Saat itulah Nany memeluk tubuhku dan membalik posisi dalam keadaan penisku masih menacap di lobang vaginanya, Nany merebahkan tubuhnya tepat disamping Wiwik. Sekarang terlihat jelas formasinya bahwa mereka berlima telah terbaring sejajar, dengan tangan mereka yang saling menyentuh vagina kawan di sebelahnya.

Penisku yang masih menancap di lobang vagina Nany, ku keluarkan untuk berpindah ke lobang vagina Wiwik yang bertubuh langsing, pinggang kecil dan pinggul dan paha yang besar. Ku angkat dan ku buka paha Wiwik dan mengarahkan kepala penisku ke belahan vaginanya berbulu lebat hampir sampai ke lobang anusnya.

Saat aku mulai mencoba memasukkan penisku ke lobang vagina Wiwik, dapat ku rasakan perbedaan rasa antara Nany dan Wiwik, dimana bibir vagina Nany terasa kencang, namun dinding vaginanya tidak begitu kuat meremas batang penisku. Wiwik meskipun memiliki bibir vagina yang agak lembek dan lebar, tetapi dinding vaginanya dapat mencengkram erat batang penisku. Tak tahan rasanya aku berlama-lama bermain dengan lobang vagina si langsing Wiwik, cepat-cepat ku cabut untuk mencoba lobang vagina Lita.

Saat berada di antara selangkangannya, aku bisa melihat tubuhnya yang tinggi semampai. Kedua tungkai pahanya terlihat sangat panjang, sehingga aku cukup mendorong kedua lututnya ke samping maka terbukalah belahan di selangkangannya. Permukaan belahan vagina Lita hanya ditumbuhi bulu-bulu kecil, lembut dan pendek, namun demikian bulu di permukaan bagian cembungannya mampu menutupi lobang vaginanya.

Sepintas, terlihat bahwa lobang vagina Lita bisa ditembus dengan mudah karena ketika pahanya di buka, bibir vaginanya juga terbuka, tetapi ternyata tidak semudah yang ku bayangkan. Aku perlu beberapa kali melakukan tarik ulur untuk bisa membenamkan penisku dalam lobang vaginanya, yang ternyata tidak dalam. Setiap kali aku menghujamkan batang penisku ke lobang vaginanya, aku merasa bahwa kepala penisku menyentuk pangkal liang vagina Lita.

Aku tidak ingin juga berlama-lama dengan Lita, takutnya Sisi malah tidak sempat. Karena aku harus melewati Lola lebih dulu. Tak terbayangkan saat duduk di selangkangan Lola, permukaan vaginanya begitu tebal, aku harus menggunakan jari untuk melihat bagian dalam vagina Lola. Tanpa pikir panjang, langsung ku terobos lobang vagina Lola, penisku berhasil masuk ke lobang vagina Lola, namun entah seberapa dalam lagi ujung liang vaginanya. Pergerakan penisku seakan terhalang oleh permukaan bibir vaginanya yang tebal. Namun begitu, cengkraman dinding vagina Lola juga sangat kencang, seperti vagina Wiwik.

Vagina Lola bisa saja membuatku mencapai kepuasan saat itu juga, tetapi orang mengharapkan untuk mendapatkan penisku adalah Sisi. Ia seorang perawan yang rela melepaskan keperawanannya hanya demi kesatuan dan persahabatan sesama MAPALA. Antara rasa kasihan karena mengetahui kisahnya dan kebahagiaan karena aku bisa mengambil keperawanan seorang teman tanpa paksaan bahkan malah dorongan…

Setelah ku lepaskan batang penisku dari lobang vagina Lola, aku tidak langsung membenankan penisku di lobang vagina perawannya. Aku ingin bermain dulu dengan vagina perawannya.

Hal pertama ku lakukan adalah menjilati permukaan belahan vaginanya yang ditumbuhi banyak bulu, seperti bulu vagina Wiwik. Ku belah bibir vaginanya yang kencang dan kenyal dengan lidahku, ku emut ujung clitorisnya yang kemerah-merahan, ku mainkan batang penisku dipermukaan belahan vaginanya dan menyentuh clitorisnya.

Semakin lama ku rasakan, vagina Sisi semakin basah, maka saat itulah ku anggap bahwa vagina si perawan ini, siap untuk ditembus. Dengan perlahan, ku masukkan kepala penisku ke belahan vagina Sisi yang memang ku akui benar-benar rapat, kuat mencengkram batang penisku yang telah sampai pada ukuran terbesarnya.

Perlahan namun pasti, batang penisku akhirnya bisa masuk menyeruak hingga ke pangkalnya. Ku tahan penisku beberapa saat dalam posisi terdalam di lobang vagina Sisi, untuk sekedar menikmati dan merasakan kuatnya cengkraman dinding vagina Sisi. Setelah beberapa saat, kembali ku tarik penisku keluar dari lobang vaginanya, lalu ku masukkan lagi…😆 semakin cepat, semakin dapat dorongan hasrat, semakin aku tak mampu menahan tekanan sperma yang terasa sudah menggumpal di pintu pagar, menunggu saat untuk menerjang keluar….

Dalam gelombang gesekan gerak cepat antara batang penis dan dinding vagina yang terus terjadi, sepertinya telah tersetrum sengatan listriknya, ia mengejang, dan bahkan mendorong perutku agar menghentikan aksiku. Hal itu tidak mungkin terjadi lagi, karena aku merasa telah berada di dekat puncak orgasme, jadi aku tidak menghiraukan keluhan dan kepedihan yang dirasakan Sisi. Aku terus menggenjotnya untuk mencapai puncak yang ku inginkan. Selain itu, aku tidak ongin mengalami kegagalan mencapai orgasme seperti yang terjadi sebelumnya….

Lobang vagina Sisi yang tadinya licin, sekarang terasa kesat, entah karena pelumas dalam vaginanya telah habis atau karena dia telah kehilangan birahinya, karena keegoisanku dalam mencapai orgasme. Aku terus saja meggesekkan batang penisku di dinding vagina Sisi yang telah mengering itu, hingga ku rasakan gumpalan sperma telah membobol pagar pertahanan dan saat itulah ku hujamkan penisku ke lobang vagina Sisi sedalam yang ku bisa dan menyemprotkan spermaku ke rahim Sisi sebanyak yang ku punya…

Tak ku sangka, lobang vagina Sisi mengeluarkan bayak sekali darah keperawanan. dan sepertinya bukan karena selaput dara yang robek, tetapi karena gesekan pada dinding vagina yang tidak siap lagi menerima objek luar menyentuh kelembutannya….

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s