Namaku Bobby. Sebelum kejadian itu, aku tidak pernah melakukan hubungan seks. Beruntunglah aku, karena dengan kesialan yang ku alami, akhirnya aku bisa merasakan nikmatnya vagina perawan untuk pertama kali.

Begini ceritanya….

Saat aku sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 3 bulan di sebuah desa yang lumayan terpencil. Aku bertemu dengan seorang gadis desa bernama Lastri. Usianya waktu itu mungkin belum mencapai 17 tahun. Tetapi perawakannya sudah seperti wanita yang cukup dewasa. Terlihat dari bentuk pinggul dan ukuran buah dadanya yang cukup kencang. Tetapi bukan itu yang membuatku tertarik padanya, karena pada umumnya gadis-gadis seusianya di Desa itu memang sudah memiliki bentuk tubuh wanita dewasa. Perbedaan Lastri dengan gadis lain di Desa itu adalah lantaran dia adalah cucu dari nenek Ijah, pemilik rumah di mana aku dan teman-temanku tinggal selama melaksanakan KKN, sehingga hampir setiap saat aku melihat gadis berkulit putih itu.

Suatu hari, suasana rumah sedang sunyi. Aku sibuk membuat laporan harian di ruang tamu, sementara teman-temanku yang lain sedang melakukan pertemuan dengan para pemuda desa untuk membentuk Karang Taruna. Tiba-tiba Lastri masuk ke rumah dengan buru-buru ke belakang.

“Lastri..! Ada apa?” tanyaku.

“Kebelet, Kang!” jawabnya singkat sambil terus berlari kecil ke kamar kecil yang ada di belakang rumah. Karena suasana rumah yang sedang sepi, timbul keinginanku untuk mengintip Lastri di kamar kecil. Dengan perlahan aku berjalan menuju kamar kecil yang hanya berdindingkan papan yang sudah lapuk dan banyak lobang di sana sini. Pintu kamar kecil di rumah Nek Ijah, tidak memiliki pintu yang tertutup rapat seperti kamar kecil pada umumnya, tetapi hanya ditutupi oleh dinding kain bekas sarung.

Aku melangkah perlahan mendekati kamar kecil itu, tetapi sial yang ku dapat, karena aku terpeleset di lantai kayu yang berlumut. Dalam keadaan tidak seimbang, aku memegang kain sarung penutup kamar kecil hingga robek dan aku tersungkur tetapt di depan tubuh Lastri yang sedang jongkok di kamar kecil itu.  Karena terkejut, Lastri sontak berteriak.

“Aaaaa…!!!!” teriaknya sambil langsung berdiri tanpa memperdulikan tujuannya semula berada di kamar kecil. Aku yang kalut karena aktivitas mengintip Lastri yang bukan hanya gagal tapi justru harus jatuh di lantai kamar kecil tepat di hadapan Lastri yang sedang buang air besar, terpaksa harus langsung berdiri dan langsung membekap mulut Lastri yang berteriak karena kaget.

Lastri terus mencoba berontak, karena mulutnya ku tutup dengan tanganku. Dalam kalut, aku juga bingung tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ku coba membisikkan satu kalimat di telinga Lastri.

“Lastri..!! jika kamu masih mencoba teriak. Aku akan memperkosamu. di rumah tidak ada orang. Gampang saja aku melakukannya…!!” bisikku di telinga Lastri. Meskipun Lastri tidak mencoba untuk berteriak lagi, tetapi dia masih tetap berontak untuk melepaskan diri. Kemudian ku bisikkan lagi di telinganya.

“Lastri..!! asal kamu bisa tenang, aku akan memberikanmu apa yang kau inginkan. Aku janji…!! Tapi jika kau ingin membuatku malu di tengan warga desa, aku juga bisa membuatmu malu bertemu mereka.”

Mendengar kalimat itu, Lastri kemudian diam dan mulai tenang. Beberapa saat kemudian, ku lepaskan bekapan tanganku di mulutnya dengan perlahan, dan Lastri masih tetap diam. Setelah keadaan menjadi tenang, aku melangkah mundur meninggalkan Lastri di kamar kecil untuk kembali menuju ruang tamu. Lastri yang berdiri dalam keadaan setengah telanjang, kembali duduk untuk meneruskan buang air besar dan membersihkan diri.

Dalam keadaan bingung dalam harapan semoga kejadian memalukan ini tidak tersebar ke orang lain, termasuk teman-temanku, aku terus berpikir untuk mencari cara, bagaimana agar Lastri bisa menyimpan rahasia ini. Akhirnya ku putuskan untuk mengajak Lastri bicara. Aku kembali ke belakang untuk menemui Lastri yang baru saja keluar dari kamar kecil.

“Lastri!” panggilku dengan nada lemah. “Aku minta maaf ya! Aku tidak ada maksud apa-apa kok!”

Lastri tidak menjawab permintaan maafku. Ia hanya berdiri memperbaik kain penutup kamar kecil yang robek. Akhirnya ku coba untuk mendekatinya dan membantunya membetulkan kain penutup kamar kecil yang telah robek itu. Ku lihat wajahnya, ternyata ia menangis tanpa suara. Melihat itu, aku menjadi semakin erasa bersalah.

“Lastri, maafkan aku ya! Apapun ancaman yang ku ucapkan tadi, semuanya tidak benar. Aku tidak ada niat untuk memerkosa Lastri. Aku hanya kalut…. Maaf, jujur… Awalnya aku memang punya niat ingin mengintip Lastri di kamar kecil. Tapi aku menyesal kok…”

Lastri terus meneteskan air matanya tanpa sedikitpun menoleh kepadaku apalagi menjawab permintaan maafku. Akhirnya, ku coba memegang bahunya dan berusaha memutar tubuhnya agar berdiri berhadapan denganku. Tetapi tetap saja ia tertunduk dengan airmata yang terus mengalir di pipinya.

“Lastri…! Dengarkan aku…!! Aku janji tidak akan melakukan ini lagi. Aku janji..!!” Begitu aku terus mengharapkan ada sepatah kata yang keluar dari mulut Lastri. Sampai akhirnya, Lastri menyeka airmatanya dengan kedua tangannya, dan berkata:

“Kenapa Akang mau mengintip Lastri? Itu kan bukan perbuatan baik, Kang?”

“Iya, aku kan sudah minta maaf, Lastri..! Aku khilaf…..”

“Khilaf, Kang!? Memangnya apa yang Akang inginkan dari Lastri?”

“Lastri..! Sebagai laki-laki normal, tubuh Lastri sangat menggoda Akang. Tapi itu hanya pikiran kotor Akang saja, kok…!! Akang tidak punya niat sampai ingin melihat tubuh Lastri apalagi untuk menikmati tubuh Lastri… Ya Akang mohon, cukup ini rahasia kita berdua saja, ya?” Begitulah harapan yang ku katakan jujur, karena rasa bersalah yang terlalu terhadap Lastri.

“Jika Akang berharap berharap Lastri menjaga rahasia Akang, bisakah Akang menjaga rahasia ini?” setelah berkata itu, Lastri melepaskan pakaiannya satu persatu dan berdiri di hadapanku dalam keadaan bugil. Tampak jelas di hadapanku, bentuk lengkungan tubuh Lastri secara utuh, mulai dari payudara besar yang agak menggantung, namun masih kencang, pinggang kecil berpadu dengan pinggul yang lebar, hingga paha montok yang berpangkal pada permukaan vagina yang ditumbuhi bulu-bulu yang lebat. Dalam kekagumanku, ku coba bertanya:

“Lastri..! Kenapa Lastri melakukan ini?”

“Bukankah ini yang ingin Akang lihat?”

“Lastri..!! Jangan buat Akang melakukan kekhilafan 2 kali…” Setelah mendengar kata-kataku, Lastri mendekatiku dan berbisik di telingaku:

“Jadikan Lastri sebagai istri Akang!” itulah kata-kata yang diucapkannya padaku. Kalimat itu cukup untuk membuatku kembali khilaf. Batang penisku langsung mengeras dan tanpa berpikir panjang lagi, langsung ku lepaskan celanaku dan ku keluarkan batang penisku. Aku tak tahan menunggu ia jadi istriku untuk menikmati tubuh Lastri yang telah telanjang bulat di hadapanku. Ku tarik tubuh Lastri yang telah telanjang bulat menuju kamarnya. Ku hempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu langsung ku bentangkan pahanya dan ku masukkan penisku ke lobang vagina Lastri.

Dalam sekejap, darah perawan telah membahasahi sprey tempat tidur, dan hanya dalam beberapa menit, spermaku telah mengisi rahim Lastri. Entah penyesalan atau kebahagiaan yang ia rasakan, tetapi itu adalah awal di mana aku dan Lastri terus mencari kesempatan untuk mengulanginya, meskipun hanya sesaat setelah orang di rumah menikmati indahnya mimpi dalam tidur mereka.

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

7 responses »

  1. Arby Les Blanc mengatakan:

    pendek bget ceritanya.. baru mau berimajinasi… ada sambungannya gak???

  2. aarby mengatakan:

    kok pndek bget.. baru mau tegang.. X__X

  3. Rizka Unyu mengatakan:

    Bqindt Terangsang, Tpi Kogh Pndek Sih, Huft Putuz Sinyal Jdinya

  4. Putra Raflesia Martadinta Nasution mengatakan:

    Asyeik la tu Lnjut khan pruangan mu bgie2 lge y crits na.crita na krang pnjang&krang asyek boss lbih pnjang lge la

  5. RadityaNugraha mengatakan:

    ….hehehehe,cukup menegangkan,,

  6. terserah123 mengatakan:

    Aku juga suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s