Sambungan: Gadis Miskin

________________

Aku tidak ingin menunggu malam untuk menuntaskan kesempatan menikmati tubuh gadis muda bernama Ratna ini. Gadis yang pasrah melepaskan keperawanannya demi uang Rp.50.000,- ini terlihat tidak mengerti apa reaksi yang harus ia lakukan. Hal itu ku maklumi, karena ini mungkin pengalaman pertamanya melakukan pekerjaan tersebut. Akhirnya ku bisikkan ditelinganya bahwa, ini akan menjadi pekerjaan paling nikmat yang pernah ia lakukan. Ratna yang masih berdiri hanya mengangguk saat ku lepaskan satu persatu kacing bajunya. Ia hanya membiarkan aku melucuti pakaiannya dan hanya bereaksi sedikit-sedikit untuk mempermudahku menelanjanginya.

Wow! Tubuh Ratna yang berdiri tanpa busana memang sangat menggairahkan. Payudara yang ranum dan jembul kemaluan yang cukup lebat dan panjang untuk gadis seusianya merupakan tanda bahwa Ratna memang belum pernah memikirkan untuk melakukan pekerjaan ini sebelumnya.

Akhirnya, Seluruh pakaian yang ku kenakan juga ku lepaskan, dan ku ajak Ratna masuk ke kamar mandi. Ku coba untuk memanjakannya dengan menyabuni seluruh tubuhnya. Ku remas-remas payudaranya dan ku gosok belahan di sela pangkal pahanya, hanya sekedar untuk memperkenalkan bagaimana rasanya sentuhan pada darah-daerah senitif pada tubuhnya. Harapanku adalah agar dia tidak terlalu canggung saat permainan sebenarnya dimulai.

Aku juga meminta Ratna untuk menggosok seluruh tubuhku dengan sabun. Tanpa sepatah katapun Ratna melakukan perintahku, kecuali pada saat akan menyabuni daerah sekitar batang penisku yang besar dan panjang yang sedang tegak mengacung ke atas. Ratna terlihat gugup dan takut, tetapi aku tak perduli. Hanya dengan isyarat mata, akhirnya Ratna dengan hati-hati menyentuh batang penisku dan menggosokkan sabun ke batang penisku yang telah sangat keras itu. Inilah Ronde perkenalan, di mana Ratna harus ku biasakan dengan situasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

______________________

Selesai mandi, aku langsung membaringkan tubuh Ratna di atas tempat tidur yang ada di kamar Rangga. Ratna dengan tubuh terkulai tanpa busana terlihat malu-malu dan gugup menantikan saat-saat dimana ia akan kehilangan keperawanannya. Di saat situasi hati Ratna seperti itu, ku dekati wajah Ratna dan ku bisikkan.

“Tenang saja! Ini tidak akan sakit kok, Sayang! Kita akan melakukannya dengan perlahan… Tugas Ratna hanya membuka paha Ratna lebar-lebar dan biarkan aku yang menyelesaikan sisanya….” Kataku padanya. Ratna yang sepertinya memang tidak mengerti tentang cara melakukan hubungan seks, hanya menurut saja dengan apa yang ku katakan. Ia langsung membuka pahanya lebar-lebar dan menariknya ke atas dengan tangannya. Terlihat sebuah pemandangan indah di daerah selangkangannya yang sudah tak sabar untuk ku nikmati.

Dengan posisi terkangkang seperti itu, ku mulai aksiku dengan menjilati belahan vagina Ratna. Ku biarkan dia merasakan geli pada awalnya. Aku terus memainkan lidahku di belahan itu, terutama pada ujung klitoris yang menyembul di sela-selanya. Lama kelamaan, Ratna sepertinya tidak lagi merasa geli. Desiran darah di sekujur tubuhnya sepertinya telah mulai merayap dan berkumpul di wilayah pangkal pahanya itu. Saat itulah ku rasakan cairan lubrikasi dari dalam vaginanya mulai mengucur dan membasahi belahan vaginanya dan mengalir hingga ke daerah belahan bokongnya. Ku pikir inilah saat paling tepat untuk memasukkan batang penisku ke lobang vagina Ratna yang masih belum terjamah.

_____________________

Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung mengambil posisi menyerang. Ku arahkan kepala penisku menyeruak bibir luar vagina  Ratna mencoba mencari dan menerobos masuk ke sebuah lobang kenikmatan yang berujung ke rahim. Ratna juga sepertinya mulai tegang. Terlihat ia memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang saat kepala penisku telah tertancap di muara lobang vaginanya. Dengan sedikit tekanan, ku coba untuk membenamkan batang penisku di lobang vagina Ratna.

Sebenarnya aku sudah tak tahan untuk langsung menenggelamkan batang penisku di lobang sempit perawan Ratna. Tetapi itu tidak ku lakukan, karena aku ingin memberikan kesan pertama yang indah nikmat dan memuaskan dalam melakukan hubungan seks bagi Ratna. Ku tekan secara perlahan batang penisku ke lobang itu. Sebenarnya tidak terlalu sulit, karena lobang vagina Ratna telah sangat licin. Tetapi aku ingin membiarkan dinding vaginanya beradaptasi pada ukuran batang penisku yang mengisi lobang vaginanya.

Tidak perlu waktu lebih dari 1 menit untuk membenamkan batang penisku sempurna di lobang vaginanya, karena ku yakin Ratna juga telah cukup terangsang dan permisif dengan benda yang masuk ke lobang vaginanya. Faktor emosional sepertinya tidak berpengaruh besar pada kejiwaan Ratna dalam melewati pengalaman pertamanya melakukan hubungan seks dengan lawan jenis. Aktivitas Warming Up yang ku lakukan sepertinya cukup berhasil dalam mengajak Ratna untuk sama-sama menikmati permainan dewasa ini.

Setelah batang penisku bertapa beberapa saat di dalam lobang vagina Ratna. Sekarang saatnya untuk melakukan kegiatan penetrasi pada dinding vagina Ratna. Ku tarik batang penisku hingga hanya tinggal kepalanya saja yang masih tenggelam dalam liang senggama Ratna, lalu ku tekan lagi sampai amblas secara sempurna. Ku lakukan aktivitas itu terus menerus secara perlahan. Frekuensi genjotanku ku percepat seiring dengan semakin jauh kami meninggalkan alam nyata menuju keindahan surga dunia yang mungkin bau pertama dirasakan oleh Ratna.

Mata Ratna yang memang telah terpejam sejak awal, tidak mewakili bibirnya yang terus mendesah, Oh ah Oh ah… mengikuti irama gerakan penisku di lobang vaginanya. Entah apa yang ia rasakan, tetapi yang pasti dinding vagina Ratna benar-benar menggenggam erat batang penisku. Lobang vaginanya yang sangat rapat dan sempit itu membuatku tak mampu bertahan terlalu lama sebelum mencapai puncak orgasme. Hanya sekitar 5 menit setelah ku tingkatkan frekuensi genjotan, aku terpaksa menarik keluar batang penisku, karena sperma akan segera memancar dari ujung penisku.

“Crot!” “Crot!” Crot!”…. Spermaku berhamburan di atas perut Ratna. Ratna yang kelihatannya terkejut saat penisku ku cabut dari lobang vaginanya secara tiba-tiba langsung membuka matanya dan melihat ke arah perutnya yang telah di kotori oleh sperma yang berhambiran ke mana-mana, Sebuah kenikmatan yang luar biasa saat ku ketahui sprey tempat tidur Rangga ternyata telah dipenuhi oleh banyak sekali bercak darah keperawanan Ratna.

Tubuhku terkulai lemah dan ku jatuhkan di samping tubuh Ratna yang terlihat kelelahan dengan pernapasan dada yang menggerakkan payudaranya naik turun. Ku tatap wajar Ratna yang seperti sedang menerawan ke langit. Lalu ku letakkan telapak tanganku di payudaranya sambil berkata:

“Ratna! Sekarang kamu boleh pulang…. Tapi aku akan membayar lebih jika kau mau melayaniku untuk beberapa ronde lagi…” Kataku pada Ratna sambil meremas-remas lembut payudaranya yang masih sangat kencang. Ratna tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku beberapa saat lalu tersenyum dan berkata:

“Seandainya saya tidak perlu uang untuk makan, saya tidak akan minta bayaran untuk pekerjaan ini, Tuan!” Jawab Ratna yang ternyata cukup manis jika dia tersenyum.

“Ya! Saya mengerti kok, Sayang…! Jawabku sambil menarik tubuh bugilnya ke dalam pelukanku.

_____________________
BERSAMBUNG: :arrow: NEXT STORY

Tentang Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s