Kiriman: Leony

Cerita ini adalah tentang temanku, Sam. Dia adalah teman satu lokasi waktu aku melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di sebuah desa yang lumayan terpencil, bernama Desa Tawo. Penduduk desa Tawo pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan pekebun. Sumber daya alam yang paling besar di desa Tawo adalah pohon karet yang tumbuh secara liar di hutan. Melihat dari keadaanya, pohon karet yang ada di desa ini tidak seperti perkebunan karet pada umumnya yang tersusun rapi dan terawat tanpa semak. Namun demikian jumlahnya cukup banyak dan hampir menjadi sumber mata pencaharian pokok bagi warga Desa Tawo.

Waktu itu, aku, Sam, dan empat temanku yang lain melaksanakan tugas KKN dan ditempatkan di desa ini. Jaraknya cukup jauh dari kota kecamatan. Mobil rombongan KKN dari kampus pun hanya dapat mengantar kami sampai di Desa Areng. Selebihnya kami menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 1km melewati hutan dengan tekstur jalan setapak tanah merah berkerikil naik turun bukit dan jurang yang tertutup semak di sisi jalan. Saat tiba di desa Tawo, tidak ada terlihat penyambutan khusus dari warga desa. Mereka terlihat risih tidak bersahabat melihat kedatangan kami ke desa mereka. Di sebuah warung kecil teman cowokku, Buya, mencoba bertanya  dimana rumah kepala desa, penduduk desa yang saat itu sedang duduk minum teh di warung itu menunjukkan letak rumah kepala desa, dan ada juga yang bertanya tentang status kami. Di sanalah masyarakat kemudian tahu bahwa kami adalah rombongan mahasiswa KKN yang ditempatkan di desa Tawo.

Sesampainya di sebuah rumah sederhana sesuai dengan petunjuk penduduk di warung tadi, Sam langsung mengetuk pintu rumah tersebut.

“Tok! Tok! Tok!”

“Siapa?” Ada seseorang menjawab dari dalam rumah dengan suara agak keras.

“Kami mahasiswa KKN, Pak?” Jawab Sam.

“O ya! Tunggu sebentar…!!!” begitu suara jawaban seorang laki-laki dari dalam rumah. Kami pun meletakkan tas dan perlengkapan kami di pelataran rumah tersebut sambil duduk beristirahat. Sambil melakukan pembicaraan kecil dengan teman-temanku, tak terasa 5 menit telah berlalu, tetapi pintu rumah Pak kepala desa belum terbuka. Apa yang sedang dilakukan Pak kepala Desa di dalam rumahnya, menjadi pertanyaan bagi kami, kecuali si Dewi yang duduk di ujung pelataran rumah. Ia terlihat sedang asyik sendiri duduk membelakangi kami sambil menempelkan wajahnya di dinding.

“Dew!” Panggilku. Dewi terkejut dan langsung berbalik menghadap kami, lalu ia meletakkan jari telunjuknya di bibir merahnya sebagai sebuah isyarat ke padaku untuk diam. Keningku berkerut melihat sikapnya. Kemudian Dewi kembali menempelkan wajahnya di dinding selama beberapa saat, lalu ia beranjak dari tempatnya dan berkata:

“Pak Kepala Desanya sudah keluar…” Katanya sambil melangkah mendekati tempat dimana ia meletakkan tas. Benar saja kata Dewi, terdengar ada seseorang dai dalam membuka kunci pintu rumah, “Cekrek! Cekrek!” Lalu keluar seorang laki-laki bertubuh gelap dengan kumis tebal memenuhi bibir atasnya yang hanya mengenakan sarung.

“Maaf, ya! Mungkin agak lama menunggu… Silahkan masuk!” Kata pria itu dengan sopan, melenyapkan kesan bengis yang terlihat dari perawakan tubuh dan kumis tebalnya.

“Ah, nggak apa-apa kok, Pak! sekalian kami mengendorkan otot yang tegang setelah perjalanan jauh, Pak! Jawab Erdy, cowok berkumis tipis yang merupakan yang tertua di antara kami berenam. Pak kepala desa membuka lebar pintu rumahnya dan kami membenahi tas dan perlengkapan kami dan membawa masuk ke rumah Pak Kepala Desa.

“Wah! Anak kota pasti tidak terbiasa jalan kaki naik turun gunung!” Kata Pak Kepala Desa dengan senyum tipis menghias bibirnya.

Di ruang tamu kami duduk bercakap-cakap dengan Pak kepala desa, sekalian berkenalan. Beliau juga memberikan gambaran tentang kondisi desa, secara geografis, sosial dan budaya kepada kami. Di tengah percakapan, terlihat ada seorang wanita muda dengan rambut panjang terurai keluar dari kamar. Wanita itu juga hanya mengenakan kain sarung yang membungkus tubuh putihnya hingga sedada. Ia berjalan menuju ruang belakang dan lenyap di balik gorden.

“Itu istri saya!” kata Pak lurah memindahkan pembicaraan kami. Mungkin karena beliau melihat gelagat Sam dan Buya yang memang terlihat tercengan melihat wanita yang keluar dari kamar tersebut.

“Oh…!!” Begitulah jawaban Sam sambil mencoba menyembunyikan ekspresi gugup di wajahnya. Aku, Dewi dan Siti temanku satunya lagi mencoba menahan tawa, melihat apa yang baru saja terjadi di hadapan kami.

“Istri pertama saya meninggal dunia, setahun yang lalu setelah melahirkan anak ke-2 saya. Itu tadi, Rahma. Dia adalah adik istri pertama saya.” begitu kata Pak Kepala Desa menceritakan sedikit tentang profilnya.

“Jadi Bapak menikahi adik istri Bapak yang meninggal itu, ya Pak?” Tanya Erdi sambil memperbaiki kacamata minus yang selalu tergantung di telinganya.

“Iya! Soalnya anak pertama saya yang waktu itu baru berusia 3 tahun sangat akrab dengan Rahma.” Kata Pak Kepala Desa.

“Hmmm…! Ya ya ya! Saya mengerti…” Jawab Dewi sambil mengangguk-angguk.

Istri kepala Desa yang bernama Rahma itu kemudian mendatangi kami di ruang tamu sambil membawa beberapa gelas teh panas yang mungkin baru diseduhnya di dapur. Dengan tersenyum manis, istri Kepala Desa itu mempersilahkan kami untuk minikmati teh yang disuguhkannya. Sam dan Erdy terlihat tidak berani menatap wanita itu, mereka terlihat sangat pokus dan antusias dengan pembicaraan Pak Kepala Desa. Padahal aku yakin, sebenarnya mereka sangat tertarik pada Rahma, sang istri kepala Desa tersebut. :lol:

Percakapan kami terus berlanjut sambil menikmati teh panas yang tersaji di meja ruang tamu. sampai akhirnya diterangkan bahwa sebagian dari kami tinggal di rumah beliau, dan sebagian lainnya tinggal di salah satu rumah warga tak jauh dari rumah Pak kepala desa. Kami berembuk dan memutuskan Aku dan Sam tinggal di rumah kepala desa, Dewi, Siti, Buya, dan Erdi tinggal di rumah warga yang disebutkan oleh Pak Kepala Desa tadi.

Dewi, Siti, Buya, dan Erdi kembali mengangkut tas dan barang perlengkapan mereka ke ruamh warga tersebut, diantar oleh Pak Kepala Desa. Sementara aku dan Sam diajak ke sebuah kamar oleh istri Kepala Desa. Saat berada di depan pintu kamar tersebut yang berada agak ke belakang, istri kepala desa berkata:

“Ini kamar kalian. Silahkan kalau mau istirahat dulu. Kalau ada apa-apa panggil saja saya.”

“Oh iya, Bu! Makasih atas tumpangannya. Jadi nggak enak nih!” Kata Sam yang terlihat mencoba akrab dengan istri kepada Desa. Wanita berkulit putih itu hanya tersenyum sambil meninggalkan aku dan Sam.

Dari pembicaraan di ruang tamu tadi, Pak Kepala Desa memang meminta yang tinggal di rumahnya adalah satu orang pria dan satu orang wanita, tetapi untuk istirahat dan tidur malam hanya di satu kamar yang sama. Pak Kepala Desa mengatakan bahwa orang terpelajar seperti kami pasti bisa mengendalikan diri meskipun tidur sekamar. Aku dan Sam sangat setuju dengan pemikiran Pak Kepala Desa, tetapi bukan dalam hal mengendalikan diri. Bagiku dan Sam, tidur satu kamar berdua adalah sebuah kesempatan untuk saling menyalurkan kebiasaan kami waktu di kost, :lol:Having Sex

*************

Malam pertama tinggal di rumah Pak Kepala Desa, Aku dan Sam sudah tidak sabar menunggu jam tidur, tetapi Pak Kepala Desa terlihat sangat bersemangat bercerita tentang kondisi desanya. Terlihat olehku bahwa Sam yang sangat fokus dan konsen mendengarkankan cerita Pak Kepala Desa. Tetapi aku yakin dihatinya juga mau mengatakan: “Pak! sudah dong ngongnya, Pak!”  :lol: Akhirnya, ku coba untuk mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan istri beliau.

“Ibu, di mana, Pak?” Tanyaku sambil melirik ke belakang.

“Istri saya itu, kalau anak-anak sudah tidur, dia juga tidur.” Jawab Pak Kelapa Desa.

“Wah! Kalau begitu, saya juga mau permisi tidur juga, ya Pak!” Kataku meminta izin.

“Oh ya, silahkan! Nak Samsul kalau mau istirahat juga, silahkan!” Kata Pak Kepala Desa.

“Iya Pak! Sebenarnya sih capek! Tapi kalau dengar Bapak bercerita, saya asyik mendengarnya, Pak!” Jawab Sam seperti masih ingin mendengar cerita Pak Kepala Desa. Padahal sebenarnya… :lol: :lol: :lol: Hehehe…..

Akhirnya, Sam termakan oleh kata-katanya sendiri. Pak Kepala Desa meneruskan percakapan berdua dengan Sam. Sementara aku langsung ke kamar setelah sikat gigi dan cuci muka di kamar mandi tanpa atap berdinding seng yang ada di bagian belakang rumah Pak Kepala Desa.

Di kamar yang kami tempati, aku mencoba melakukan beberapa persiapan sebelum Sam masuk kamar. Tempat tidur ku rapikan, lobang-lonag di dinding yang berbatasan dengan kamar Pak Kepala Desa ku tutup, wangi-wangian ku pakai, dan :arrow: ku lepaskan seluruh pakaianku dan berbaring di tempat tidur sederhana yang disediakan Pak Kepala Desa di kamar itu.

*******************

Aku yang tertidur karena kelelahan dalam perjalanan, tiba-tiba terjaga karena ada sesuatu yang menggelitik selangkanganku. Aku bangkit dari tidurku, dan ternyata Sam sedang memainkan lidahnya di selangkanganku. Ku lihat di HP-ku jam telah menunjukkan pukul 01.00 malam.

“Jam berapa selesai rapat, Sam?” Tanyaku dengan nada berbisik meledek Sam.

“Baru aja!” Jawab Sam sambil tersenyum dan berdiri dan menagkah mendekatiku. Ia kembali merebahkan tubuhku yang bangkit dari tidurku karena terkejut ada sesuatu di tubuhku. Ia mencium bibirku, merayap ke kuping, leher, turun ke dada, dan seterusnya hingga kembali ke posisinya semula, di selangkanganku. Sam memang pandai dalam membangkitkan gairahku untuk melakukan hubungan seks. Permainan Foreplay-nya saja telah mampu membuatku orgasme beberapa kali.

Sampai saat aku mulai memasuki daerah puncak orgasme yang ke sekian kalinya, Sam menghentikan aksi oralnya di unjung clitorisku. Ia naik ke atas tubuhku dan mulai menancapkan penisnya yang besar ke lobang vaginaku. Hampir 30 menit Sam menggenjot lobang vaginaku yang banjir dengan air lubrikasi, dan tak terhitung jumlah puncak orgasme yang berhasil ku daki dengan gaya permainan seks yang dilancarkannya terhadapku. Ku pikir, aku pasti akan ketagihan untuk terus melakukan hubungan seks dengan Sam yang luar biasa. Aku beruntung, anggapan Pak Kepala Desa terhadap orang terpelajar seperti kami berbeda dengan realitas manusiawi yang sebenarnya ada pada diriku dan Sam, sehingga ia telah memberikan kesempatan besar kepada kami untuk terus bisa melakukan hubungan intim tanpa terganggu oleh nilai-nilai budaya dan norma sosial ketimuran.

****************

Pagi-pagi sekali, ku dengar di kamar Pak Lurah sudah ada perbincangan ringan. Ku bangunkan Sam dan ku katakan bahwa Pak Kepala Desa sudah bangun dan ku jelaskan padanya tentang kemungkinan kebiasaan masyarakat di Desa Tawo ini untuk bangun pagi-pagi sekali. Sam bergegas bangun dari tidurnya dan mengenakan pakaiannya. Kemudian dia langsung keluar sekedar untuk membiasakan diri dengan kebiasaan warga di desa ini.

Saat kami keluar dari kamar, ku lihat Pak Kepala Desa telah keluar dari rumah dan menutup pintu rumah dari luar. Melihat itu, aku langsung meminta Sam untuk mengejar Pak Kepala Desa, siapa tahu ada hal penting yang terjadi di luar. Sam langsung mencoba mengejar Pak Kepala Desa yang telah pergi meninggalkan rumah dengan langkah setengah berlari. Tak disangka-sangka, saat lewat di depan kamar depan, Sam menabrak istri Kepala Desa yang kebetulan keluar dari kamarnya.

“Jebroaakh!” Bu Rahma terjatuh di lantai karena tertabrak oleh Sam yang sedang melangkah buru-buru mengejar Pak Kepala Desa. Melihat itu, aku yang tadi hanya berdiri di depan kamar melepas keberangkatan Sam, secara spontan berlari menolong Bu Rahma yang terjatuh di depan kamarnya.

“Aduh, Maaf, Bu! Ibu tidak apa-apa kan, Bu?” Kata Sam sambil membantuku menolong Bu Rahma yang terjatuh.

“Oh.. Saya tidak apa-apa kok!” Jawab Bu Rahma yang mencoba untuk bangkit sendiri tanpa pertolongan kami.

“Maaf, Bu! Saya tidak sengaja menabrak Ibu…” Kata Sam sambil kembali memohon maaf atas apa yang terjadi.

“Tidak apa-apa, Kok! Kalian sudah bangun?” Tanya Bu Rahma sambil memperbaiki ikatan sarungnya yang sempat terlepas dan mempertontonkan BH hitamnya kepada kami. Bu Rahma bertanya pada kami menurutku hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, dan menutupi rasa malu atas pertunjukkan tidak sengaja yang ia pertontonkan pada kami.

“Iya, Bu! Soalnya saya lihat Bapak keluar, makanya saya suruh Sam cepat-cepat menyusul Bapak…” Jawabku. Sam yang berdiri di sampingku mengiyakan perkataanku dengan anggukan kecil disertai senyuman di bibirnya.

“Oh, begitu, ya? Warga di sini memang kebiasaan turun ke kebun jam segini untuk menoreh karet. Jadi kalian tidak perlu mengejar Bapak.” Jawab Bu Rahma menjelaskan kebiasaan para petani karet di desanya.

“Oh, begitu ya, Bu? Ibu juga mau keluar ya, Bu?” Tanya Sam.

“Tidak! Saya hanya ingin mengunci pintu kok! Kalian kalau mau meneruskan istirahat, silahkan…!” Kata Bu Rahma sambil meninggalkan kami menuju pintu depan dan menguncinya. Aku dan Sam kembali ke kamar untuk menghabiskan sisa waktu menjelang pagi dengan kembali melakukan ML.

Subuh itu, aku dan Sam kembali bercinta. Kali ini Sam melakukan penetrasi dengan gaya berdiri di sisi tempat tidur dan aku berbaring terlentang di tempat tidur dengan kaki bersandar di dada Sam yang terus menggenjotkan penisnya ke lobang vaginaku.

Saat sedang terbuai dalam kenikmatan bercinta, tiba-tiba pintu kamar kami terbuka dan terlihat Bu Rahma muncul di balik Pintu. Birahi yang bergejolak dalam diri kami, seketika itu juga padam. Bu Rahma pun sangat terkejut melihat apa yang kami lakukan di kamar.

“Kalian sudah menikah, ya?” Tanya Bu Rahma.

“Maaf, Bu!” Jawab Sam sambil menarik baju yang tergantung di hanger untuk sekedar menutupi burungnya yang mati tergantung. Detak jantungku berdetak keras karena rasa takut akan akibat yang akan kami terima atas apa yang kali lakukan berdua. Tanpa memikirkan tubuhku yang tanpa busana, aku bergegas mendekati Bu Rahma dan bersimpuh dihadapannya.

“Maaf, Bu! Tolong jangan beritahu Bapak! Kami memang bukan suami istri, tapi kami tak bisa menahan dorongan hawa….” Belum selesai rangkaian kataku mengiba memohon pengertian Bu Rahma, tiba-tiba Sam menarik tubuh Bu Rahma dan menjatuhkannya di tempat tidur. Aku terpaku atas apa yang dilakukan Sam terhadap Bu Rahma, istri kepala desa yang telah memberikan tumpangan tempat tinggal sementara selama KKN.

Sam menarik sarung Bu Rahma dengan paksa sehingga tubuhnya yang hanya mengenakan BH dan CD menjadi tontonanku dan Sam.

“Samsul..! kamu mau apa?” Tanya Bu Rahma mencoba berontak sambil menarik kembali sarung yang dilepaskan oleh Sam dari tubuhnya. Sam terlihat tidak perduli dengan perlawanan Bu Rahma. Ia terus berusaha melepaskan CD yang dikenakan oleh Bu Rahma. Aku hanya terdiam melihat kenekatan Sam yang sepertinya mencoba memperkosa Bu Rahma. Aky tak tahu harus berbuat dan berkata apa. Aku hanya berpikir, perbuatan Sam jelas akan menambah berat sanksi hukum yang akan kami terima. Sampai tiba-tiba Sam berkata kepadaku:

“Leony! Ambil BBmu!” Begitulah perintah Sam padaku yang aku benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Sementara Bu Rahma terus berontak melakukan perlawanan terhadap Sam. Aku tak bergerak sedikitpun dalam ketrpakuan, sampai Sam kembali berkata:

“Leony! Cepat foto!” kata Sam sambil ia memeluk tubuh Bu Rahma dan berguling. Sehingga terlihat posisi Bu Rahma sedang menunggang Sam. Sam terus mengikatkan pergelangannya di tubuh Bu Rahma, sehingga Bu Rahma tak bisa melepaskan diri. Aku akhirnya paham dengan strategi Sam. Langsung ku ambil BBku dan ku ambil foto saat Bu Rahma berpelukan dengan Sam dengan posisi “Lady on Top“.

“Jpret..!!” lampu Blitz di BBku menyala diiringi dengan tersimpannya sebuah foto di BBku yang sangat tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Saat itu Sam melepaskan pelukannya, dan Bu Rahma bergeas turun dari tempat tidur dan mengambil CD dan sarungnya sambil mengancam:

“Kalian anak kota yang kurang ajar! Akan saya sampaikan pada seluruh warga di sini, atas apa yang kalian lakukan!!”

Mendengar ancaman itu, Sam kembali meraih tangan Bu Rahma sehingga ia kembali jatuh ke pelukan Sam. Kemudian Sam kembali berguling dan duduk di atas tubuh Bu Rahma sambil memegang tangan Bu Rahma, lalu ia berkata:

“Rahma yang cantik! Lihat ini…!!” Sam mencoba menenangkan Bu Rahma yang merasa dilecehkan oleh Sam. Lalu Sam memintaku untuk memperlihatkan hasil jepretan foto dari BBku.

“Foto ini sangat manis, ya Bu? ada seorang istri muda kepala desa yang memaksa seorang mahasiswa KKN untuk melakukan hubungan intim, karena suaminya tidak bisa memuaskan birahinya yang bergejolak…” Begitulah cara Sam menjelaskan tentang foto di BBku yang ku tunjukkan pada Bu Rahma. Sam kemudian berkata lagi:

“Kira-kira apa ya reaksi suami kamu kalau melihat foto ini?” Tanya Sam pada Bu Rahma dengan bahasa yang benar-benar jahat. Aku yang berada di samping Bu Rahma untuk menunjukkan foto yang ada di BBku, kemudian mencoba untuk memperlunak suasana dengan mengatakan:

“Bu! Kami hanya minta, apa yang ibu lihat, cukup ibu yang tahu. Tolong, Bu! saya mohon, jaga rahasia ini untuk ibu saja. Saya dan Sam hanya tidak mampu menahan dorongan hawa nafsu kami. Kalau ibu bisa menjaga rahasia kami, foto ini tidak akan saya tunjukkan pada Bapak!” Kataku meminta kerjasama dari Ibu.

“Jangan..!!! Jangan sampai Bapak tahu….!!! Baiklah! saya akan merahasiakan perbuatan kalian…” Begitu jawab Bu Rahma dengan nada ketakutan. Aku dan Sam saling bertatapan dan tersenyum. Tetapi ternyata ide jahat Sam tidak berhenti disitu saja. Ia lalu berkata lagi:

“Rahma yang cantik! itu perjanjian antara kamu dan Leony. Saya minta syarat lain dengan kamu….” Kata Sam.

“Apa?” Jawab Bu Rahma dengan cepat dan singkat. Sam mendekatkan bibirnya ke telinga Bu Rahma kemudian membisikkan sebuah kalimat yang tak bisa ku dengar. Tetapi yang pasti, setelah Sam membisikkan kalimat itu, Bu Rahma melontarkan sumpah serapahnya kepada Sam:

“Kurang ajar kamu! Setan…!!!” Kata Bu Rahma pada Sam. Tetapi Sam hanya tersenyum sambil menghempaskan tubuhnya di samping Bu Rahma, lalu berkata:

“Terserah deh….” Jawab Sam singkat. Bu Rahma pun berdiri dan mengenakan kembali CD dan sarungnya. Ia melangkah keluar dari kamar kami dan terdiam di depan pintu. Ia terlihat menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya, lalu kembali masuk ke dalam kamar dan langsung naik ke atas tempat tidur dan ….. :?: Sungguh di luar dugaaku. Di hadapanku, Bu Rahma memegang penis Sam dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Aku hanya berpikir kalimat yang dibisikan Sam ke telinga Bu Rahma adalah permintaan untuk melakukan oral sex (seks mulut) pada penisnya. Pantas saja jika Bu Rahma melemparkan sumpah serapahnya dan mengatakan Sam adalah setan! :lol: Harus ku akui, ide Sam memang luar biasa. Bukan hanya mampu menutupi kesalahannya, tetapi ia telah membuat Bu Rahma tak bisa berbuat apa-apa untuk menolak keinginannya.

Subuh itu, sarung, BH, dan CD Bu Rahma kembali terlepas, tetapi kali ini tidak dengan cara paksa, tetapi terlepas secara indah. Sam berhasil menuntaskan birahinya dengan istri kepala desa di hadapan mataku. Rasa cemburu sepertinya terbesit dalam hatiku. Bukan karena Sam bercinta dengan wanita lain di depan mataku, Melainkankan karena Sam bisa menuntaskan birahinya, sementara aku harus kandas karena Bu Rahma mengacaukan segalanya. Aku jadi berpikir untuk mengajak Bapak Kepala Desa yang hitam dan kekar itu untuk melakukan hubungan seks denganku, siapa tahu beliau bisa memberikan sensasi yang lebih nikmat dibandingkan dengan Sam. :lol:

*********************

About Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

2 responses »

  1. [...] Peristiwa itu, Aku, Sam, dan Bu Rahma mencoba untuk bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami. [...]

  2. elhajer unior mengatakan:

    Cek….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s