Namaku Ari, masa kecilku ku habiskan di sebuah desa kecil di kawasan lereng Meratus. Posisinya memang cukup terpencil, tetapi tidak terisolir karena akses jalan besar telah membelah ruas desa. Meskipun hanya jalan tanah merah bercampur batu, tetapi cukup untuk memudahkan komunikasi dan transportasi ke pusat kecamatan dan kabupaten.

Sejak lulus SD, aku telah meninggalkan desaku, karena Ibuku tidak memiliki kemampuan untuk menanggung biaya pendidikanku, maka aku dititipkan di Panti Asuhan yang berada di kota kecamatan. di Panti Asuhan inilah aku hidup dan mendapatkan bantuan pendidikan hingga aku lulus SMA. Sebuah keberuntungan besar yang ku dapatkan saat itu, yaitu aku diterima bekerja di sebuah perusahaan batubara, meskipun awalnya hanya sebagai helper. Namun dari sinilah awal jenjang karirku, meskipun hanya lulusan SMA, namun akhirnya  setelah 10 tahun bekerja, President Director perusahaan itu mempercayakan jabatan HRD manager kepadaku menggantikan manager sebelumnya yang dipensiunkan dini karena penyakit struk yang dideritanya.

Jabatan sebagai seorang manager di sebuah perusahaan berskala international tersebut tentunya memberikan perubahan yang cukup besar bagi kehidupan ekonomiku. Meskipun aku masih tinggal di sebuah rumah dinas dengan mobil kantor yang selalu nongkrong di depan rumah setiap kali aku pulang kerja, namun dengan penghasilan di atas 20 juta perbulan, cukup untuk mengambil kredit rumah  di kawasan  perumahan elit di dekat lokasi kerjaku untuk Ibu dan saudara-saudaraku.

Bercinta Dengan Perawan Desa

Kesuksesanku tentu saja menjadi pembicaraan hangat di kampung halamanku, terutama sejak aku mengajak Ibu dan saudara-saudaraku pindah ke rumah baruku. Sejak saat itu, aku juga memutuskan untuk menjadi donatur tetap pada Panti Asuhan yang telah membesarkan aku hingga aku lulus SMA. Beberapa orang di kampungku juga ku ajak bekerja sebagai pembantu di rumah baru. Aku menjadi sosok yang sangat dibanggakan oleh penduduk di kampungku, karena salah seorang warga mereka telah berhasil di perantauan.

Bercinta Dengan Perawan Desa

Belasan tahun mengembara meninggalkan tanah kampung halaman tentunya memberikan kerinduan tersendiri bagiku untuk kembali menengok lereng meratus tempat kelahiranku. Pada moment yang telah ku rencanakan, akhirnya aku bersama Ibu dan saudara-saudaraku kembali ke pedalaman Meratus untuk sekedar melepas kerinduan akan kampung halaman. Dengan mobil Fortuner yang baru saja aku beli (meskipun dengan kredit), aku menelusuri jalan tanah merah berbatu kerikil menuju desa kelahiranku. Setelah sekitar 1 jam perjalanan menyisir jalan yang dipagari oleh tebing dan jurang, akhirnya aku tiba di kampung halamanku. Rumah kecilku yang sudah 6 bulan tak berpenghuni, terlihat semakin tak terawat. Tapi itu bukan masalah, karena bagaimanapun juga, itu tetap rumahku, tempat aku dilahirkan.

Bercinta Dengan Perawan Desa

Hari itu aku duduk di sebuah warung minum kecil di kampungku, sekedar bersilaturahmi dan berbagi kisah dengan warga di kampungku dan teman-teman kecilku, tiba-tiba aku melihat seorang gadis kecil berbalut sarung sedada melintas di hadapanku. Rambut yang basah menutupi punggungnya dan sebakul pakaian pakaian basah menandakan ia baru saja naik dari sungai tempat biasa warga di kampungku mandi dan mencuci. Entah mengapa tubuh gadis kecil yang putih dan montok itu tiba-tiba saja memompa hasratku untuk mendapatkannya.

Akhirnya ku coba bertanya pada teman-temanku yang duduk minum bersamaku. Dan ternyata gadis berperawakan kecil itu bernama Midah. Ia baru saja menyelesaikan Sekolah Dasar tahun kemaren. Selama ini pekerjaannya seperti layaknya warga di kampungku, yaitu bertani karet dan di sawah membantu orang tuanya.

Bercinta Dengan Perawan Desa

Sebenarnya ada keinginan untuk membawanya ke kota dan menjadikannya istriku, tetapi aku telah dijodohkan dengan seorang gadis bernama Shella, putri dari mantan managerku, yang saat ini masih mengikuti pendidikan S2 di Malaysia. Keinginanku itu kucoba sampaikan kepada Ibuku, dan Ibu memberikan solusi dengan menikahi Midah secara rahasia. Jadi, Midah adalah istriku di kampung dan aku tetap menjalin hubungan dengan Shella.

Ibuku akhirnya menyampaikan keinginanku itu kepada orang tua Shella, dan ternyata kesuksesanku di mata warga kampung berbuah pada diterimanya lamaranku. Acara pernikahan sederhana pun akhirnya dilaksanakan tanpa harus menunggu lama. Uang Mahar 5 juta sudah menjadi harga yang cukup mahal untuk mendapatkan seorang perawan di lereng Meratus, jadi itu tidak jadi masalah bagiku.

Bercinta Dengan Perawan Desa

Malam pertama bersama Midah seorang gadis kecil yang baru berusia 14 tahun yang kini menjadi istriku, menjadi hal yang cukup indah bagiku. Gadis yang sangat polos yang sama sekali tidak mengerti arti hubungan seks ini, terlihat sangat malu ketika aku mencoba melepaskan satu persatu pakaian yang menutupi tubuhnya, terutama saat aku melepaskan BH dan CDnya.

Midah memang tergolong sangat muda, terlihat dari bulu vaginanya yang masih belum terlalu tebal, sehingga belahan vaginanya hanya terlihat seperti garil lurus yang membelah selangkangan pahanya. Namun tubuhnya yang semok serta payudata kecilnya yang montok, cukup untuk membuatku menganggapnya sebagai seorang gadis dewasa yang siap untuk melakukan hubungan suami istri.

Midah kecilku ini, bahkan tidak berani menatap tubuhku ketika aku berdiri di hadapannya tanpa mengenakan sehelai pakaianpun, terutama ketika melihat batang penisku yang mengacung tegak ke angkasa siap untuk meluncur. Namun sikap malunya itu bukan halangan untukku memulai aksiku melepaskan keperawanan gadis desa ini.

Aku memulai aksiku dengan mengangkangkan kedua pahanya dan menjilati belahan vagina Midah yang sangat rapat itu. Ku coba memainkan lidahku mencari lokasi clitorisnya yang tersembunyi di sela belahan tersebut. Saat itulah ku lihat tubuh Midah menggeliat, entah karena geli atau karena menahan nikmatnya sensari permainan lidahku. Namun dapat kurasakan belahan vagina Midah semakin basah oleh air liurku bercampur dengan air vagina yang mengalir cukup deras hingga ke balahan pantatnya.

Saat itulah aku mulai untuk memasukkan penisku ke lobang vagina Midah, perawan desa yang masih sangat muda. Karena belahan yang cukup basah, maka penisku dapat dengan mudah menyeruak masuk ke permukaan bibir vaginanya, namun hal yang luar biasa ku rasakan ketika aku mencoba untuk memaksa batang penisku masuk lebih dalam ke lobang vagina Midah. Rasanya dinding dalam vagina Midah benar-benar menghimpit ujung batang penisku yang mencoba menggapai pintu rahim Midah.

Perlahan namun pasti, akhirnya seluruh batang penisku berhasil amblas di lobang vagina Midah yang sangat sempit itu. Setelah ku tahan beberapa lama, akhirnya ku mulailah proses pemompaan sperma. Dengan pelukan dinding vagina yang sempit dan basah itu, dalam waktu hanya beberapa menit, spermaku telah berhasil mengisi ruang rahim Midah.

Bercinta Dengan Perawan Desa

Malam itu, adalah menjadi malam yang luar biasa bagiku, karena pada malam itu untuk pertama kali aku merasakan nikmatnya melakukan hubungan seks. Dan pertama kali pula aku merampas keperawanan gadis kecil di desaku. Keindahan dan kenikmatan bercinta ternyata tidak aku yang merasakan karena malam itu, Midah berulang kali membangunkanku dan mengajakku untuk mengulangi permainan. Dengan energi dan sperma yang tersisa, aku mencoba untuk memenuhi birani gadis desa yang ternyata juga ketagihan nikmatnya melakukan hubungan seks.

Bercinta Dengan Perawan Desa

Karena masa cuti yang terbatas, akhirnya aku memutuskan untuk membawa Midah ke kota dan tinggal bersama Ibuku di rumah baruku, meskipun di mata rekan-rekan kerjaku, dia bukan dianggap sebagai istriku, tetapi pembantuku, tetapi pada saat malam, ia adalah teman tidurku.

Bercinta Dengan Perawan Desa

Sampai pada suatu ketika, seorang teman kerjaku terpikat pada Midah dan mengungkapkan keinginannya untuk menikmati tubuh gadis muda berperawakan kecil itu. Aku tentu saja terkejut mendengar keinginan teman kerjaku itu, tetapi aku tidak bisa mengatakan bahwa ia adalah istriku. Akhirnya keinginan rekan kerjaku itu kusampaikan pada Midah, untuk mendengarkan apa pendapatnya. Awalnya jelas ia tidak setuju, tetapi dengan alasan bahwa aku tidak bisa terus menerus menyembunyikannya sebagai istriku, maka akhirnya Midah menerima tawaran rekan kerjaku dengan beberapa syarat.

Syarat yang dikemukakan Midah adalah: (1) Aku boleh menceraikannya dan memberikannya kepada rekan kerjaku dengan status sebagai istri, bukan sebagai pelacur. (2) Aku harus merahasiakan perceraian tersebut dan tetap menjamin kehidupannya dan kehidupan keluarganya di kampung, dan (3) rekan kerjaku itu harus mau membayar mahal untuk menjadikannya sebagai istri. Angka yang disebutkan Midah adalah 100juta.

Jumlah itu, ku coba kembali sampaikan pada rekan kerjaku dan ia tanpa pikir panjang bersedia untuk memenuhinya. Jadi, mau tidak mau aku harus menceraikan Midah dan memberikannya sebagai istri rekan kerjaku.

Bercinta Dengan Perawan Desa

Kejadian tersebut ternyata menjadi awal sebuah bisnis jual beli manusia yang ku geluti. Aku mendirikan sebuah hotel sederhana di kotaku, dan mengajak para gadis-gadis di kampungku, baik yang perawan maupun yang sudah berkeluarga, untuk bekerja sebagai OB dan CS di hotelku itu. Seleksi yang pertama untuk para perempuan desa itu adalah bentuk tubuh. Mereka harus mau berdiri di depanku dengan tubuh bugil tanpa sehelai pakaian pun. Dengan janji 1 juta perbulan, tak seorangpun dari mereka yang menolak melakukan permintaanku, meskipun pada umumnya merasa malu untuk melakukannya.

Persyaratan yang kedua, mereka harus melayani tamu untuk melakukan hubungan seks. Dengan bayaran yang menggiurkan, sebagian dari mereka tergoda dan bersedia menjadi karyawan hotel sekaligus pelayan tamu. Namun juga tidak sedikit yang dari mereka yang enggan dan bahkan menolak. Untuk mereka yang tidak mau, maka mereka ku masukkan ke ruangan khusus dan di situ mereka ku ikat, dan ku telanjangi, lalu ku minta salah seorang tangan kananku untuk menggaulinya. Jika mereka tidak mau menerima persyaratanku, maka selamanya mereka akan berada di kamar itu dan selama itu mereka akan melayani para tangan kananku untuk melakukan hubungan seks.

Cara tersebut ternyata cukup efektif untuk memaksa gadis desa yang tidak mau menerima persyaratan kerja di hotel mesumku untuk menyerah dan mau menjadi pelayan hotel sekaligus pelayan tamu.

Secara normal, semua berjalan lancar, tetapi sebagian pengunjung hotel adalah rekan-rekan kerjaku yang memerlukan wanita penghibur untuk menemani mereka tidur. Aku juga mengarahkan para tamuku untuk memilih para gadis OB dan CS yang bekerja di hotelku tersebut, dengan bayaran yang cukup mahal untuk seorang gadis perawan.

Setiap kali ada tamu yang mau membayar mahal hanya untuk bercinta semalam dengan seorang perawan, maka aku akan membicarakan tawaran itu dengan gadis OB dan CS yang dipilih oleh tamuku tersebut, dan memberikan mereka tips 50% dari bayaran yang diberikan oleh tamuku.

Bercinta Dengan Perawan Desa

Tentang Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Satu tanggapan »

  1. Ivan menado mengatakan:

    Umurku 40thn,msih prjaka. Kulitku putih n mata agak sipit tp aq org menado. Aq ingin jd gigolo,bukan aq ngejar duit tp aq org miskin jd ga bsa klu kluar daerah menado. Aq mnungggu pggilan dri wnita yg mmbutuhkn aq. Nmorku 085342155459,kutunggu ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s