Usiaku sekarang adalah 35 tahun. Saat ini aku telah memiliki 2 orang putri yang cantik-cantik, namanya Nesya (5 tahun) dan adiknya Lesya (7 bulan). Aku menikah pada usia 29 tahun hampir 30. Untuk ukuran masyarakat di daerahku, usia itu sudah bisa dikatakan terlambat untuk menikah, karena pada umumnya remaja di sini menikah pada usia 20 hingga 25 tahun.

Kekhawatiran akan menyandang gelar perawan tua begitu menghantuiku sejak aku memasuki usia 25 tahun, karena hingga usia tersebut, aku belum pernah punya pacar, seperti umumnya teman-teman seusiaku. Aku memang bukan seorang gadis yang cantik, putih dan menarik. Perawakanku kurus dan tinggi 175cm. Payudaraku dan pantatku bisa dikatakan kurang berisi, sehingga sebagai seorang gadis dewasa, aku kadang merasa minder dengan keadaan fisikku di antara teman-temanku. Perasaan itu sering ku tepis dengan berusaha membenahi diri dari sisi yang lain. Saat sekolah aku selalu dapat ranking, saat kuliah aku berhasil mendapatkan nilai komulatif Cumlaude. Selepas kuliah, aku di terima di sebuah perusahaan asing.

Di balik rasa pesimis dan minder dengan kondisi fisikku yang boleh dikatakan kurang menarik, aku masih mempunyai satu keyakinan bahwa jika memang ada jodoh untukku, suatu saat nanti dia akan datang menjemputku. Keyakinan yang tertanam di hatiku itu bukan tanpa godaan. Saat malam dingin menyelimuti tubuhku, rasanya aku ingin tidur dan bermimpi yang indah-indah, tetapi mataku tak bisa terpejam begitu saja. Kekhawatiran akan menyandang status perawan tua selalu mengiang-ngiang di pikiranku. Belum lagi hasrat biologis sebagai wanita dewasa yang kadang membuatku ingin melakukan masturbasi.

Jujur saja, sebelum aku menikah, kegiatan masturbasi sebelum tidur adalah sebuah rutinitas wajib, aku memainkan klitoris yang ada di belahan vaginaku dengan jariku. Saat sedang berhasrat, aku kadang ingin memasukkan jariku ke lobang vagina, tetapi hal itu tidak pernah terjadi karena ketakutan akan rusaknya keperawanan yang mungkin akan berakibat pada kekecewaan seseorang yang akkan menjadi suamiku kelak.

di tempat kerja pun banyak sekali godaan yang ku rasa. Sebagai seorang karyawati di perusahaan asing, aku sudah terbiasa berhadapan dengan orang-orang bule. Saat dalam pekerjaan, yang terlihat hanya profesionalitas, namun di luar itu aku tidak menemukan arah pembicaraan mereka selain masalah seks. Kadang mereka juga mengajakku untuk masuk dalam pembicaraan mereka, dan bahkan sempat ada yang mengajakku ikut dalam sex party yang diadakan di rumah salah satu dari mereka.

“You’ll never know it, if you never tried to feel, Babe..!! How long will you keep your virginity? It’s not important anymore rightnow!”

Jika melihat godaan tersebut, rasanya akupun ingin merasakan seks yang sebenarnya, peduli anat dengan keperawanan. Toh teman-temanku juga biasa melakukannya tanpa ada beban dengan masalah keperawanan. Aku kadang berpikir membenarkan, sampai kapan akan ku jaga keperawananku? Jika aku menjadi perawan tua, masih pentingkah keperawanan itu? pertanyaan-pertanyaan menggoda seperti itu kerap masuk ke pikiranku. Tetapi kembali pada hatiku, aku begitu yakin bahwa suatu hari nanti, akan ada seseorang yang mau dan menerimaku dengan apa adanya… :(

******************

Di antara godaan dan kekhawatiran yang begitu berkecamuk dalam jiwaku, tiba-tiba seorang laki-laki datang ke rumahku dan mengajukan lamarannya pada Ayahku. Aku begitu terkejut, ketika Ibuku menyambutku pulang kerja dengan senyum dan bertanya padaku.

“Sayang! Kamu kenal Budi?”
“Iya! Kenapa, Bu?”
“Tadi siang orang tuanya ke sini…!”
“He’eh! terus?”
“Mereka menunggumu….!”
“Menungguku? Ada urusan apa? Mereka masih di dalam?”
“Tidak! Mereka sudah pulang….”
“Ada urusan apa, Bu?”
“Mereka menunggu jawaban darimu…”
“Jawaban apa?”
“Rendy mau melamarmu, Sayang! Sekarang tinggal kamunya aja, menerima atau tidak lamaran mereka…”

Aku benar-benar terkejut mendengar kata-kata Ibuku itu. Rasanya aku ingin memeluk Ibu saat itu juga untuk mengungkapkan betapa bahagianya aku. Sesuatu yang begitu ku harapkan datang tanpa pemberitahuan. Wajahku memerah karena malu namun berusaha aku tutupi dengan tetap berusaha tersenyum pada Ibu.

“Ah Ibu! Kenapa harus menunggu aku yang jawab sih, Bu!? Kan Ibu bisa…”
“Kalau Ibu yang jawab, akan Ibu tolak!”
“Kok…………!!?” Dalam benakku, kenapa Ibu tidak mengerti keinginanku yang begitu besar untuk memiliki seorang pasangan hidup? di saat kegembiraan begitu menyeruak di hatiku, kenapa Ibu tega menolaknya? Wajahku yang saat itu sempat memerah karena malu, sekarang berubah biru, karena rasa tidak ada darah lagi yang mengalir ke kepalaku. :( Tetapi Ibu malah tersenyum, dan selanjutnya dia menarik tanganku dan berkata:

“Kalau Ibu terima, Ayahmu dikemanakan?”
“Ah Ibu…!!!” Akhirnya tak bisa lagi ku tahan kegembiraanku, aku tak kuasa untuk tidak memeluk Ibu yang begitu mengerti dengan kegelisahanku dalam penantian seorang lelaki yang akan mendampingi hidupku seperti gadis-gadis lain seusiaku yang sudah berkeluarga semua, bahkan ada yang telah beberapa kali menikah…. :-)

———————————————-

Wanita lebih senang menyandang gelar “Janda”, daripada “Perawan tua”…!!!
Apakah kamu setuju….!!!?????   :lol:

Tentang Ibu Verra

Aku seorang Ibu rumah tangga yang bangga menjadi seorang Ibu untuk anakku, seorang istri untuk suamiku, dan seorang wanita bagi semua orang. Aku dulu seorang perawan, tetapi dalam sekejap semua hilang, ketika aku merelakan hidupku untuk mendampingi suamiku.

Satu tanggapan »

  1. jonius mengatakan:

    maen kita yok cyank dh ngaceng nie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s